Senin, 30 Maret 2009

Hendaknya


Aku terlalu nihil. Hidup terasa lebih sulit dengan kemapanan. Aku tak berusik lagi tentang banyak hal. Sepertinya, saat ini aku pun sudah tak mampu lagi untuk berharap. Tak lagi suka takjub pada interaksi alam. Interaksi yang memastikanku untuk berbagi eksistensi, bukan hanya untukku. Tak ingin bersemangat dalam memaknakan ketidakbermaknaan. Reses yang mungkin lebih sulit terasa ketimbang imajiku tentang pentingnya eksistensi. Aku merasa bahwa semuanya sudah usai, tak lagi menarik, dan tak lagi misterius. Semoga saja masih ada yang tersisa, apalagi kalau bukan tentang Tuhan.

Entah, aku berpikir kalau makrifatku prematur. Itu pertanda, aku memang belum makrifat. Maksudnya, I feel so good much. Mapan di atas semua hal yang pernah aku idam-idamkan selama ini. Semua seperti sangat jelas kasat matanya. Menurutku, semua bisa saja diukur. Aku sudah merasa sanggup untuk memetakan semuanya.


Jadi seakan, saat semua pikirku tak bersambut, aku pun sah menjadi kesatria ingusan. Ya, megalomania. Padahal, aku pun tak menolak bahwa kebesaran hanyalah milik persepsi publik, bukan dialektika yang direkayasa. Artinya, andai aku besar, itu kata publik, bukan karakter yang aku bikin, dengan sengaja. Aku didudukkan pada komitmen bermanusia, bahkan dengan keterlambatan sikap. Aku terlambat sadar bahwa aku telah terlambat. Pun aku sering mendalih guna melawan kehendak hati. Hanya itu yang aku punya. Pertarungan hakikiku lebih membuncah dan melesakkan semua kegamanganku dalam keberhentian. Aku merasa semua telah cukup, pasti, dan sangat meyakinkan.


Pfuh... kenapa hanya untuk mencercahkan spirit saja aku selalu menjegal semua ‘marahku’. Karena, marah adalah bentukan konsekuen atas logisnya kemampuan harap. Ketertarikan, kedaulatan, manuver, sensasi, atau ide dinamis menjadi semakin kabur beriring hawa nihilis yang lebih terlalu sering meyakinkanku. Mentok... !!!


Pun akhirnya, aku memohon pada diriku untuk kembali merintis semuanya. Ya, bahwa aku perlu untuk merintis semuanya, kembali. Ya, bahwa aku perlu untuk merasa perlu dan diperlukan. I feel so ugly now.…

Jumat, 20 Maret 2009

Buta Warnaku


Buta warna bukan penyakit. Banyak orang bilang, itu cacat. Bila penyakit bisa disembuhkan, cacat hanya bisa disiasati. Semacam upaya selektif untuk turut menikmati dunia, meski dengan fasilitas yang tak sempurna. Aku tak tahu persis, mulai kapan aku sadar bahwa aku… buta warna.

Semasa kelas 5 SD, aku pernah turut lomba murid teladan tingkat kabupaten. Aku senang bisa menceritakannya. Selain kemampuan akademis, para peserta lomba juga diwajibkan memiliki wawasan umum pilihan, kepekaan seni yang tak standar, dan kreativitas unik. Seingatku, meski tak menang di perlombaan itu, aku bisa mempersembahkan lampu flip-flop bikinanku sendiri.

Lampu flip-flop mirip lampu ‘awas hati-hati’ di jalan-jalan tertentu, dengan dua bulatan berwarna sama, tapi menyala bergantian. Ketika itu, aku merasa prakaryaku itu akan berhasil, meski dengan solder bekas dan timah yang diirit. Dengan bantuan seorang guru sabarku, ketika itu aku belajar memilih resistor dengan menghitung lingkar warna yang melilit tubuhnya. Untuk tujuan tertentu, kuantifikasi itu tak boleh meleset. Sebab, eksperimen pasti gagal. Pada skala besar, buatan pabrik memang lebih bagus kualitasnya. Tapi guruku ingin aku tahu betul, bagaimana pekerjaan itu dilakukan.

Nah, kalau aku bisa membedakan lingkar warna di tubuh resistor, berarti aku kan tidak buta warna? Aneh.

Sewaktu SMP, aku juga diapresiasi tinggi oleh guru elektroku. Pelajaran ini mensyaratkanku untuk tak salah memilih warna, selain hitungan berbau fisika. Kalau urusan PR, orang yang pertama kali beliau tanya pastilah aku. Bila aku tak ada masalah dengan PR yang ia berikan, berarti semua beres. Beliau tahu, seisi kelas biasa mencontek padaku.

Karena itulah aku memutuskan untuk masuk STM Otomotif. Selain bisa langsung berorientasi kerja, kabarnya sekolah itu tak banyak mengizinkan siswa-siswanya untuk hura-hura, tak seperti SMA kebanyakan. Faktanya, tes kesehatan memadamkanku. Mereka bilang, “Kamu buta warna separuh. Kalau diterusin, bisa-bisa kabel yang kamu sambung salah. Dan dhuar!!! Semua meledak,” jelas seorang guru pengetes dengan tertawa. Sebuah alasan yang masuk akal. Dengan sedih, aku pun bisa menerima kelemahanku itu.

Hikmahnya, aku kemudian banting stir ke SMA favorit di kota tempat aku tinggal. Tak seperti sekarang, dulu masa pendaftaran sekolah kejuruan seperti STM dan SMEA lebih dahulu daripada SMA. Jadi sangat memungkinkan bagiku untuk berpindah ke SMA saat tak diterima di STM. Toh, nilai kelulusan SMP-ku bisa memenuhi kualifikasi. Aku termasuk beruntung. Dari tempat tinggalku, hanya tiga orang siswa yang bersekolah di situ.

Pada satu kesempatan, guru biologiku memberi penjelasan sederhana, “Setiap manusia memiliki tiga tabung warna pokok di dalam matanya. Bila salah satunya rusak, bisa karena gen atau kecelakaan, maka ia tak bisa melihat warna dengan normal.” Belakangan aku juga pernah mendengar, kerbau dan buaya dikaruniai mata yang hanya bisa melihat dunia grayscale, hitam putih.

Setelah aku gagal tes masuk ujian perguruan tinggi negeri, sesuai arahan teman bapak, aku menuju Fakultas Geografi yang katanya terakreditasi A. Tapi, aku kembali gagal melewati tes kesehatan. Aku tetap saja buta warna separuh. Dokter ujinya bahkan kasihan melihatku kesulitan menjawab, warna apa yang tengah ia tunjuk.

Okelah. Barangkali Tuhan menciptakanku memang hanya untuk hitam dan putih, bukan banyak hal yang berwarna. Tuhan mengirimku agar aku berdiri tegak untuk hitam dan putih; baik dan buruk; benar dan salah.

Karena tak dapat menunjuk hijau dengan pasti, aku sangat kesulitan menerka kemakmuran ala bumi yang gemah ripah loh jinawi negeri ini. Aku hanya bisa membayangkannya dengan membangun konstruksi pikir tentang semua kebutuhan material yang selalu bisa didapat. Hijau buatku adalah saat semua kebutuhan sandang, pangan, papan, dan pendidikan terpenuhi.

Karena tak bisa mendeteksi coklat, aku kebingungan menengarai kenikmatan hidup. Meski aku doyan cokelat, tapi setelahnya aku bisa mual. Aku bisa terbirit bila ada durian atau sop kambing yang kata beberapa orang adalah masakan terenak di dunia. Aku berusaha mengimbanginya dengan menelaah musik. Meski bermacam aliran, musik tak memaksaku untuk tepat warna. Stevie Wonder bahkan jadi maestro meski ia tuna netra.

Karena tak bisa meyakini warna pink, aku tak seromantis orang-orang kebanyakan. Aku terbeliak nyalang bila melihat fokus dan keseriusan, tapi tak berkutik di depan puisi. Aku menjadi optimis dengan rasionalisasi pikir, tapi minder berat kalau harus menyapa manis, atau menemani orang agar tak bosan. Aku mendamba masa depan dunia yang lebih baik, tapi merasa asing pada keindahan yang dimaksudkan orang.

Tapi sudahlah. Bila memang demikian, aku akan tetap meneruskan hidupku. Karena jelas tak serumit bayanganku tentang penyandang cacat tubuh sejak lahir yang lebih menyedihkan, atau pengidap kanker darah dan AIDS yang hanya menghitung mundur hari. Toh, Tuhan akan menilai seseorang dari tingkat ketakwaannya, termasuk cara hamba-Nya bersyukur atas semua pemberian-Nya.

Aku hanya perlu meminta maaf pada orang-orang di sekitarku, juga yang sangat aku ingini, bahwa aku bukan sosok normal yang bisa menjelaskan indahnya laut, gunung, langit dengan deskripsi warna utuh. Aku hanya perlu meminta permakluman seumur hidup pada orang-orang di sekitarku bahwa aku sosok linier rasional, yang hanya bisa menerjemahkan sesuatu karena bisa melogikakannya.

Barangkali aku bisa berlatih, atau berbuat seperti yang orang lain perbuat. Terkadang aku ingin pandai melawak di depan orang yang aku kagumi sampai matanya mengecil dan tak sadar bahwa aku telah menghabiskan lima cangkir teh. Terkadang aku ingin dirasuki kemesraan yang sangat, bersama orang-orang yang berharap padaku untuk bisa berperilaku umum. Terkadang aku mengimpikan kekonyolan ekstra yang menggugah kesadaran agar setiap orang yang mengenalku tak pesimis hidup bersamaku. Terkadang aku ingin berbuat kecil tapi menyejukkan untuk orang-orang yang membutuhkan kehadiranku.

Namun, berlatih yang aku maksud tak bisa menyembunyikan kecacatanku. Aku bisa saja mereka-reka keindahan yang diingini orang dengan imajinasi yang aku bangun atas keterangan orang atau buku yang pernah aku baca. Tapi aku tak akan sesempurna mereka yang benar-benar dikaruniai dengan… memahami warna penuh seluruh.

Mungkin saja, aku hanya butuh kepercayaan bahwa aku yang tak bisa mendeteksi dunia berwarna ini sebenarnya sangat ingin membahagiakan orang lain, meski tak akan benar-benar nyata seperti umumnya.

Setidaknya, aku akan selalu bisa memaklumi semua hal tak indah yang mampir di kehidupanku. Sebab, aku sadar, sebenarnya aku tak pernah benar-benar bisa menangkap keindahan yang dimaksud orang lain. Aku tahu dunia itu berwarna, tapi aku tak sanggup menunjuknya.

Sabtu, 24 Januari 2009

We Will Not Go Down


A blinding flash of white light

Lit up the sky over Gaza tonight

People running for cover

Not knowing whether they're dead or alive

Malam Minggu ini aku beruntung. Entah selip hikmah apa yang membuatku membetik ingin, mendengarkan lagu Michael Heart, We Will Not Go Down (Song for Gaza). Kemarin-kemarin aku hampir malas membicarakan Palestina, lantaran tak ada lagi yang bisa benar-benar kuperbuat untuk menganulir misil-misil F-16 Israel. Obama mania seperti tak peduli, bahkan merayakan selebrasi pelantikan Presiden AS dengan gegap gempita. Itu kan terhubung erat. Ridwan Saidi bilang, Barack Obama satu marga dengan Ehud Barak. Aduh, diagnosis sama-sama Yahudi ini makin bikin kepalaku belingsatan.

Seorang kawan meneleponku, khusus bicarakan konflik ini. Aku masih bisa bicarakan banyak hal, lantaran bicara dengan kawan dekat; suasana batinku pun terdukung. Tapi kalau terus-terusan membicarakannya, bisa-bisa aku tak tidur tiga hari. Kepala sesak, banyak alternatif langkah yang bisa diusulkan, tapi kelu karena semua hal itu tak ada gunanya. Setidaknya, mendingan sewaktu di komisariat dulu, yang masih bisa teriak-teriak di jalan, kalau AS-Israel gila-gilaan. Aku bahkan bertekad tak menyentuh produk-produk bisnis mereka.

Yang paling parah, aku semakin sadar, bahwa semua kekuatan aku punya—bahkan kadang aku membanggakannya—benar-benar tak bisa berbuat banyak. Semua terjadi begitu saja. Aku sangat tahu, banyak mayat mati sia-sia di negeriku sendiri. Westerling bahkan menggasak sekitar 40 ribu nyawa. Jutaan orang mati pada Revolusi Kemerdekaan juga Tragedi 1965. Setiap hari ada saja yang mati karena kurang makan, aborsi, praktik kriminal, ketidakadilan orang kaya atau negara, kecelakaan, trafficking, dan deretan kasus lagi yang tak terbaca. Aku lebih tahu kalau kemiskinan dan kesewenang-wenangan terjadi di depan hidungku.

Tapi seharusnya tak harus memisah-misahkannya. Aku marah pada agresi Israel dan aku juga marah pada orang kaya yang tak mau peduli pada kere-kere di sekitarnya. Tak perlu menganggap di antaranya lebih penting. Toh seringnya, tak ada yang benar-benar bisa aku perbuat untuk semua itu.

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

Aku bilang ke kawanku, “Di dalam Al-Quran, hanya disebutkan kata Yahudi sekali saja. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Aku jelaskan, Yahudi itu kepercayaan. Ada Yahudi, ada bani Israil. Yahudi itu kepercayaan yang didakwahkan kepada bani Israil oleh Musa as. Bani Israil itu bangsa. Nah, belakangan, banyak salah tafsir yang memang dimobilisasi oleh manusia-manusia yang mengaku Yahudi, salah satunya. Menggelindinglah citra bahwa Yahudi sama dengan bani Israil atau Israel itu. Orang Israel merasa bahwa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan, dengan ‘Tanah yang Dijanjikan’. Sementara, orang-orang yang membenci Israel menganggap, semua Yahudi sama dengan Israel. Padahal, ada Yahudi yang tak setuju zionisme. Banyak juga bukan Israel, yang perilakunya seperti Israel.

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Bagiku, agresi Israel memetakan—istilah Hegel—keharusan sejarah. Ada pendakuan dan pengakuan, tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tak bisa berbuat apa-apa. Kalau dulu, hubungan intim Israel-AS tampak samar-samar, kini dunia tahu, keduanya bermasalah. Dulu, Timur Tengah tampak sangat suci, sekarang mungkin, Kakbah menyesal diturunkan di sana. Dulu, Indonesia yang lemah di dunia internasional masih bisa dipelintir-pelintir; saat ini semua tahu, diplomasi menjadi bagian yang mubazir. Apa gunanya kecewa dan mengutuk Israel, kalo veto masih di AS? Buat apa berusaha mengakomodasi kemarahan rakyat dengan kaum Muslimin terbesar ini, tapi tak punya F-16 lebih dari 15 unit?

Dan… semua orang kota terus-terusan melahap produksi dagang pro-Israel: Coca-Cola, Huggies, River Island, McDonalds, Clinique, Disney, Donna Karan, Starbucks, GAP, Garnier, Perrier, Kotex, Sanex, JO Malone, Lancome, Libbys, Tchibo, Loreal, Marks & Spencer, Kleenex, Maybelline, Nestle, Vittel, Revlon, wonderbra.

Women and children alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain

Bahwa tak boleh ada yang bertekuk lutut pada keadaan seperti apa pun. Bahkan dengan korban nyawa lebih dari 3000 orang. Bahwa tak pantas menyerah pada kesulitan semisal apa pun. Bahwa pantang meringis untuk sesuatu yang jelas tak layak dihormati; apalagi menyembahnya.

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

Ya, we will not go down… selamanya!!

Jumat, 23 Januari 2009

Kaya


Sekali lagi, bayang-bayang masa depan kembali menggusur berserah diri dan rasionalisasiku tentang limit dunia-akhirat. Semua kembali menyeruak tak kompromi, bahkan tanpa sempat aku gelisahkan ulang. Bombardir seriusnya melesakkan ketidakmampuanku dalam menggusur mental ketidakmampuan yang selama ini terlalu betah nangkring di otakku. Prinsip, terasa sangat prinsipiil. Logis, sangat mengoyak, dan seperti perlu untuk mengeksekusiku pelan-pelan tapi juga sangat pasti. Aku dibawa sepantaran, bahwa aku perlu naikkan bargain spekulasiku, memilih atau pecundang; selamanya.

Kalau aku pusing soal kebelumsiapanku menyentuh hari esok, barangkali itu bukan hal baru. Ia adalah persoalan kecil yang terasa besar karena memang belum terjamah. Semua hal terasa rumit dan aneh. Penasaran dan menawarkan kerja ekstra. Tak sesekali pula menyusup keraguan. Ya, aku selalu ragu. Entah karena faktor kalkulasiku atau memang niscayanya keraguan. Sebab, tak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu. Yang tidak meragukan adalah ketidakraguan itu, begitu kata Al-Ghazali. Ada saat bahkan aku ingin menghilang. Tak bersentuhan sama sekali. Purna.

Masa depan memang menuntut banyak hal. Dan sebenarnya, bukan kalkulasiku yang matematis atau mungkin sekadar bicara opportunity an sich. Sebab, aku yakin, sampai kapan pun, aku tak akan sanggup menyelesaikan hitunganku tentang cita-cita dunia atau bahkan semua hal tentang surga, dan efek dunia buat surga atau… apa sajalah. Semua cepat berujung dan sangat bisa dikriteriakan meski tak sedetail mungkin. Setidaknya, masa depan versi umum sudah cukup menjawab kejengahanku akan quo-nya masyarakat, kondisi masyarakat yang aku maksudkan; terlalu evolutif.

Aku lebih mempersoalkan kemampuan maknawiku dalam kuantitas; dalam berhitungku. Sedapat itukah semuanya kupahami seiring kalkulasiku tentang hidup. Artinya, aku perlu untuk sinergikan semua ukuranku dengan makna. Persepsiku perlu konvergen dengan materialisasi pikir yang mungkin terlalu sekuler untuk diperdebatkan. Agar, tentu saja, aku bisa lebih memaknai kehakikian dunia yang terang-terang... hanya sebentar.

Entah, agaknya hanya persoalan kebingungan sesaat. Galau yang butuh sentuhan baru. Sensasi, hal baru atau mungkin, sekadar modifikasi sayang.

Belakangan, aku pusing memetakan target. Hal yang akan kucapai pada bulan-bulan terakhir. Target tentang kaya dan kebahagiaan… bersamaan.

Selasa, 13 Januari 2009

(Seperti) Tak Umum


Mengingat keluarga selalu dramatis. Ingat sewaktu harus bernegoisasi tentang cita-cita, sedikit merajuk, menuntut kebebasan, bahkan dengan predikat ‘terserah’. Ingat bahwa hubungan keluarga memang sakral. Ya, tanpa harus dibicarakan, hubungan orang tua dan anak seperti udara; hubungan kakak dan adik itu seperti napas; dan hubungan keluarga itu seperti ada di bawah alam sadar. Ia berjalan tanpa kontrol yang memadai; keabsolutan tanpa perlu bergerilia epistemologi; jauh dari tampak rasionalitas; menyelisik tanpa ampun untuk berujar bahwa ‘dinasti’ itu sebuah keharusan.

Kenangan yang kadang melansir ingatanku pada perlunya pijakan hidup. Sebab, kekangan hasrat itu memang tendensius. Aku perlu membangun kesadaran pikirku dengan pijakan hidup, prinsip, dan keyakinan. Aku perlu pijakan itu untuk identitas, kelebihan peran, bekal bergerak, keinginan besar, plus masa depan. Itu keakuanku. Meski tak begitu fantastis, tak terpikir juga, kalau lantas, pada fase selanjutnya, ternyata aku lebih mampu untuk memahami hidup. Aku sadar sepenuhnya justru karena aku beranggapan bahwa eksistensi itu harus dimanifestasikan dengan menahan hasrat ingin ketemu. Karena, itulah prasyarat kedewasaan. Akhirnya, semua bisa aku dapatkan. Bahkan, aku sempat berpikir, kalau perlu, hasrat dimatikan. Meski kadang, aku sempat berpikir juga, kalau jangan-jangan aku sudah mati rasa dan tiba-tiba menjadi tak berperasaan hanya gara-gara, bagiku, rasa itu perlu dimatikan.

Aku berpersepsi, kalau saja aku tak sanggup kondisikan perasaanku, berarti aku masih sangat bergantung; tak eksis. Tandanya, aku belum dewasa dan masih berpikiran orang kebanyakan. Mesti pacaran, mesti ngapel, mesti kasih hadiah, mesti telepon-teleponan, mesti bohong hanya karena aku butuh sensasi, dan seabrek aktivitas parsial lain yang tak idealistis. Susah, kalau eksistensi yang sama malahan melahirkan banyak strata eksistensi. Pola kebanyakan memang perlu untuk dibongkar keabsahannya. Apalagi kalau bukan tentang emansipasi pikir yang bukan feodalistis. Perlu distribusi keyakinan yang berlandasan; tidak turun-temurun dan menerima apa adanya.

Heh, bagaimana kalau saja perasaanku terlalu cepat mati? Sebab, aku juga tak sanggup kalau selamanya dianggap aneh. Ah, terlalu berlebihan.

Kamis, 08 Januari 2009

PARAMETER


Jadi orang memang susah. Waktu coba berontak semua hal yang menurutku sangat membingungkan di dunia ini, ada yang mengatakan, aku terlalu ‘kemaruk’. Bahkan, ada yang yakin kalau aku kufur nikmat; tak bersyukur. Di waktu yang lain, kalau aku lantas menerima apa adanya, nrima ing pandum, taken for granted; stempel yang kemudian ada, aku disebut apatis, fatalis, atau malah jabariyah. Lebih jauh, aku dianggap tidak revolusioner.

Seperti biasa, aku lantas menjadi sangat kebingungan. Aku seperti ada dalam dua kekuatan besar yang sangat bersemangat untuk berhadap-hadapan. Antara memilih takdir dan menebak takdir; antara eksistensialis dan pragmatis; antara teosentris dan antroposentris; antara aku dan mereka; antara personal dan masyarakat; antara kesalehan dan kemusyrikan.

Paling-paling, untuk menyelesaikan persoalan ini, ujungnya, menurutku, semua tergantung proporsi yang akan kubangun. Tapi, biasanya, muncul pertanyaan serius lanjutan. Lantas bagaimana standardisasinya? Waduh, dengan kekalahan telak, aku pun akan kebingungan untuk kedua kalinya.

Kalau parameter hasil bikinan personal sih ada, hanya, apa itu benar-benar objektif? Subjektif; itu klaimnya. Sebab, aku juga selalu meragukan semuanya termasuk kesubjektivitasanku berpikir. Sebab, selama ini, aku juga selalu berpijak pada relativitas berpikirku. Semua sangat relatif buatku. Hingga kini, aku masih meyakininya. Artinya, kedinamisan adalah hal nyata yang tak dapat disangkal apalagi disalahkan. Sebagai sebuah hal yang niscaya, untuk merunutkan dan merumuskan banyak hal tentang dunia ini, aku perlu untuk mengkover semua hal termasuk mengesahkan keraguanku yang bahkan, sering meliarkan kekuatan pikirku tentang apa pun.

Biasanya, kalau kemudian ada yang bertanya tentang parameter pikirku, kalau aku tak kebingungan, aku pasti akan percaya diri untuk mengumbar parameterku sendiri. Aku selalu percaya diri untuk membentuk persepsiku tentang apa pun dan kapan pun. Sebab, dunia ini terbentuk karena persepsi. Kalau terminologinya menarik, itu karena aku berani untuk mengungkapkan bahwa persepsiku tentang sesuatu itu memang menarik. Apa pun motif persepsiku atau pengaruh dari luar pikirku, aku akan selalu berusaha untuk memunculkan persepsiku itu pure dariku.

Nah, kalau lantas ada yang beranggapan bahwa kufur itu tak bersyukur, bagaimana dengan orang-orang yang tiap saat tak pernah merasa puas berpikir? Ia haus ilmu, bahkan gila ilmu. Apakah itu juga kufur? Apakah aku juga selalu bicara parameter? Berarti, apakah aku terlalu pilih-pilih dan suka membanding-bandingkan? Apakah aku juga terlalu rakus? Berarti, apakah aku terlalu ingin berkuasa dan bebas memilih? Apakah ....

Ah, parameter itu sulit.

Kamis, 18 Desember 2008

2008


HP-ku berderit. Sebuah nomor asing terpampang di layarnya. Ternyata, Deny Mulya Barus, seorang kawan lama yang kini jadi reporter Majalah Gatra. Dulu, dia sempat mengenyam kaderisasi HMI Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I. Ia kemudian memutuskan untuk ‘moncer’ di IMM Sukoharjo plus Persma FAI, Islamika.

Setelah saling sungkan, ia bertutur kesan tentang pilihan aktivitasku sekarang. “Wah, sekarang bisa jadi pro ya? Dulu kan anti?” Pertanyaan sederhana yang menukikkan kesalehanku di masa lalu, barangkali.

Aku terbahak seadanya. Bukan soal kalimat barusan. Apalagi, kalimat serupa telah sering aku dengar setahun ini. Aku tertawa untuk netralisasi suasana, bahwa semua tetap seperti dulu. Ya, saat visi kemahasiswaan diretas untuk Indonesia yang lebih baik. Saat visi media bersanding dengan perubahan, berkelindan dengan keperkasaan modal yang sulit dipongahi. Aku dan Deny sempat mempelajarinya bersama.

Aku tertawa untuk kesan yang sebenarnya, meresahkanku. Resah bukan lantaran aku merasa tengah berada di jalan yang salah. Tapi resah karena barangkali, ada fatwa laten, tentang aku yang seharusnya tak seperti sekarang. Ya, aku merasa, banyak kawan yang berbaik hati meluangkan karsa untuk hidupku, yang ‘seharusnya’ tak di tempatku ini.

Selontar kalimat aku feed back-kan agar suasana berimbang. “Gaya bicara kamu udah mirip diplomasi media, Den. Udah ngga gaya politikus lagi seperti dulu.”

Dan tawa membuncah renyah.

Benar, ada apa denganku setahun ini? Aku sering menanyakannya, serius. Mengapa aku tak sanggup lagi menulis buku untuk kemaslahatan (bangsa), semisal? Aku punya Salmanism (2002), Ecoideanomics (2003), HMI Makkiyah (2004), Born to Be Free (2005), Beyond Growl (2006), Bertaruh Citra Dakwah (2007). Aku tak punya apa-apa di 2008.

Apa yang aku dapat dari Jakarta setahun ini? Aku seakan tergopoh untuk reposisi bangsa yang semakin sulit. Jakarta mengajarkanku untuk semakin yakin bahwa semua konstelasi yang terjadi adalah ciptaan. Ya, by design. HMI Sukoharjo mengenyalkan benakku untuk membangun prasangka, lantaran ada khazanah postmodernisme seputar simulasi dan simulacra. Persma Pabelan mendedahkan professional skepticism pada runutan jurnalisme investigasi. Wajar kalau kemudian aku semakin yakin, banyak rencana operasi yang telah berhasil mengacak-acak negeri ini, tapi aku tak tahu banyak. Sisanya, akan semakin bertambah banyak.

Semua operasi itu jelas untuk mengamankan modal besar. Sejauh yang aku tahu, untuk berkompetisi dengan modal, hanya bisa dilakukan dengan modal atau mungkin… jaringan. Dan aku membahasakan jaringan itu sangat sederhana. Ya, apalagi kalau bukan… kebersamaan.