Sabtu, 24 Januari 2009

We Will Not Go Down


A blinding flash of white light

Lit up the sky over Gaza tonight

People running for cover

Not knowing whether they're dead or alive

Malam Minggu ini aku beruntung. Entah selip hikmah apa yang membuatku membetik ingin, mendengarkan lagu Michael Heart, We Will Not Go Down (Song for Gaza). Kemarin-kemarin aku hampir malas membicarakan Palestina, lantaran tak ada lagi yang bisa benar-benar kuperbuat untuk menganulir misil-misil F-16 Israel. Obama mania seperti tak peduli, bahkan merayakan selebrasi pelantikan Presiden AS dengan gegap gempita. Itu kan terhubung erat. Ridwan Saidi bilang, Barack Obama satu marga dengan Ehud Barak. Aduh, diagnosis sama-sama Yahudi ini makin bikin kepalaku belingsatan.

Seorang kawan meneleponku, khusus bicarakan konflik ini. Aku masih bisa bicarakan banyak hal, lantaran bicara dengan kawan dekat; suasana batinku pun terdukung. Tapi kalau terus-terusan membicarakannya, bisa-bisa aku tak tidur tiga hari. Kepala sesak, banyak alternatif langkah yang bisa diusulkan, tapi kelu karena semua hal itu tak ada gunanya. Setidaknya, mendingan sewaktu di komisariat dulu, yang masih bisa teriak-teriak di jalan, kalau AS-Israel gila-gilaan. Aku bahkan bertekad tak menyentuh produk-produk bisnis mereka.

Yang paling parah, aku semakin sadar, bahwa semua kekuatan aku punya—bahkan kadang aku membanggakannya—benar-benar tak bisa berbuat banyak. Semua terjadi begitu saja. Aku sangat tahu, banyak mayat mati sia-sia di negeriku sendiri. Westerling bahkan menggasak sekitar 40 ribu nyawa. Jutaan orang mati pada Revolusi Kemerdekaan juga Tragedi 1965. Setiap hari ada saja yang mati karena kurang makan, aborsi, praktik kriminal, ketidakadilan orang kaya atau negara, kecelakaan, trafficking, dan deretan kasus lagi yang tak terbaca. Aku lebih tahu kalau kemiskinan dan kesewenang-wenangan terjadi di depan hidungku.

Tapi seharusnya tak harus memisah-misahkannya. Aku marah pada agresi Israel dan aku juga marah pada orang kaya yang tak mau peduli pada kere-kere di sekitarnya. Tak perlu menganggap di antaranya lebih penting. Toh seringnya, tak ada yang benar-benar bisa aku perbuat untuk semua itu.

They came with their tanks and their planes

With ravaging fiery flames

And nothing remains

Just a voice rising up in the smoky haze

Aku bilang ke kawanku, “Di dalam Al-Quran, hanya disebutkan kata Yahudi sekali saja. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Aku jelaskan, Yahudi itu kepercayaan. Ada Yahudi, ada bani Israil. Yahudi itu kepercayaan yang didakwahkan kepada bani Israil oleh Musa as. Bani Israil itu bangsa. Nah, belakangan, banyak salah tafsir yang memang dimobilisasi oleh manusia-manusia yang mengaku Yahudi, salah satunya. Menggelindinglah citra bahwa Yahudi sama dengan bani Israil atau Israel itu. Orang Israel merasa bahwa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan, dengan ‘Tanah yang Dijanjikan’. Sementara, orang-orang yang membenci Israel menganggap, semua Yahudi sama dengan Israel. Padahal, ada Yahudi yang tak setuju zionisme. Banyak juga bukan Israel, yang perilakunya seperti Israel.

We will not go down

In the night, without a fight

You can burn up our mosques and our homes and our schools

But our spirit will never die

We will not go down

In Gaza tonight

Bagiku, agresi Israel memetakan—istilah Hegel—keharusan sejarah. Ada pendakuan dan pengakuan, tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tak bisa berbuat apa-apa. Kalau dulu, hubungan intim Israel-AS tampak samar-samar, kini dunia tahu, keduanya bermasalah. Dulu, Timur Tengah tampak sangat suci, sekarang mungkin, Kakbah menyesal diturunkan di sana. Dulu, Indonesia yang lemah di dunia internasional masih bisa dipelintir-pelintir; saat ini semua tahu, diplomasi menjadi bagian yang mubazir. Apa gunanya kecewa dan mengutuk Israel, kalo veto masih di AS? Buat apa berusaha mengakomodasi kemarahan rakyat dengan kaum Muslimin terbesar ini, tapi tak punya F-16 lebih dari 15 unit?

Dan… semua orang kota terus-terusan melahap produksi dagang pro-Israel: Coca-Cola, Huggies, River Island, McDonalds, Clinique, Disney, Donna Karan, Starbucks, GAP, Garnier, Perrier, Kotex, Sanex, JO Malone, Lancome, Libbys, Tchibo, Loreal, Marks & Spencer, Kleenex, Maybelline, Nestle, Vittel, Revlon, wonderbra.

Women and children alike

Murdered and massacred night after night

While the so-called leaders of countries afar

Debated on who's wrong or right

But their powerless words were in vain

Bahwa tak boleh ada yang bertekuk lutut pada keadaan seperti apa pun. Bahkan dengan korban nyawa lebih dari 3000 orang. Bahwa tak pantas menyerah pada kesulitan semisal apa pun. Bahwa pantang meringis untuk sesuatu yang jelas tak layak dihormati; apalagi menyembahnya.

And the bombs fell down like acid rain

But through the tears and the blood and the pain

You can still hear that voice through the smoky haze

Ya, we will not go down… selamanya!!

Jumat, 23 Januari 2009

Kaya


Sekali lagi, bayang-bayang masa depan kembali menggusur berserah diri dan rasionalisasiku tentang limit dunia-akhirat. Semua kembali menyeruak tak kompromi, bahkan tanpa sempat aku gelisahkan ulang. Bombardir seriusnya melesakkan ketidakmampuanku dalam menggusur mental ketidakmampuan yang selama ini terlalu betah nangkring di otakku. Prinsip, terasa sangat prinsipiil. Logis, sangat mengoyak, dan seperti perlu untuk mengeksekusiku pelan-pelan tapi juga sangat pasti. Aku dibawa sepantaran, bahwa aku perlu naikkan bargain spekulasiku, memilih atau pecundang; selamanya.

Kalau aku pusing soal kebelumsiapanku menyentuh hari esok, barangkali itu bukan hal baru. Ia adalah persoalan kecil yang terasa besar karena memang belum terjamah. Semua hal terasa rumit dan aneh. Penasaran dan menawarkan kerja ekstra. Tak sesekali pula menyusup keraguan. Ya, aku selalu ragu. Entah karena faktor kalkulasiku atau memang niscayanya keraguan. Sebab, tak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu. Yang tidak meragukan adalah ketidakraguan itu, begitu kata Al-Ghazali. Ada saat bahkan aku ingin menghilang. Tak bersentuhan sama sekali. Purna.

Masa depan memang menuntut banyak hal. Dan sebenarnya, bukan kalkulasiku yang matematis atau mungkin sekadar bicara opportunity an sich. Sebab, aku yakin, sampai kapan pun, aku tak akan sanggup menyelesaikan hitunganku tentang cita-cita dunia atau bahkan semua hal tentang surga, dan efek dunia buat surga atau… apa sajalah. Semua cepat berujung dan sangat bisa dikriteriakan meski tak sedetail mungkin. Setidaknya, masa depan versi umum sudah cukup menjawab kejengahanku akan quo-nya masyarakat, kondisi masyarakat yang aku maksudkan; terlalu evolutif.

Aku lebih mempersoalkan kemampuan maknawiku dalam kuantitas; dalam berhitungku. Sedapat itukah semuanya kupahami seiring kalkulasiku tentang hidup. Artinya, aku perlu untuk sinergikan semua ukuranku dengan makna. Persepsiku perlu konvergen dengan materialisasi pikir yang mungkin terlalu sekuler untuk diperdebatkan. Agar, tentu saja, aku bisa lebih memaknai kehakikian dunia yang terang-terang... hanya sebentar.

Entah, agaknya hanya persoalan kebingungan sesaat. Galau yang butuh sentuhan baru. Sensasi, hal baru atau mungkin, sekadar modifikasi sayang.

Belakangan, aku pusing memetakan target. Hal yang akan kucapai pada bulan-bulan terakhir. Target tentang kaya dan kebahagiaan… bersamaan.

Selasa, 13 Januari 2009

(Seperti) Tak Umum


Mengingat keluarga selalu dramatis. Ingat sewaktu harus bernegoisasi tentang cita-cita, sedikit merajuk, menuntut kebebasan, bahkan dengan predikat ‘terserah’. Ingat bahwa hubungan keluarga memang sakral. Ya, tanpa harus dibicarakan, hubungan orang tua dan anak seperti udara; hubungan kakak dan adik itu seperti napas; dan hubungan keluarga itu seperti ada di bawah alam sadar. Ia berjalan tanpa kontrol yang memadai; keabsolutan tanpa perlu bergerilia epistemologi; jauh dari tampak rasionalitas; menyelisik tanpa ampun untuk berujar bahwa ‘dinasti’ itu sebuah keharusan.

Kenangan yang kadang melansir ingatanku pada perlunya pijakan hidup. Sebab, kekangan hasrat itu memang tendensius. Aku perlu membangun kesadaran pikirku dengan pijakan hidup, prinsip, dan keyakinan. Aku perlu pijakan itu untuk identitas, kelebihan peran, bekal bergerak, keinginan besar, plus masa depan. Itu keakuanku. Meski tak begitu fantastis, tak terpikir juga, kalau lantas, pada fase selanjutnya, ternyata aku lebih mampu untuk memahami hidup. Aku sadar sepenuhnya justru karena aku beranggapan bahwa eksistensi itu harus dimanifestasikan dengan menahan hasrat ingin ketemu. Karena, itulah prasyarat kedewasaan. Akhirnya, semua bisa aku dapatkan. Bahkan, aku sempat berpikir, kalau perlu, hasrat dimatikan. Meski kadang, aku sempat berpikir juga, kalau jangan-jangan aku sudah mati rasa dan tiba-tiba menjadi tak berperasaan hanya gara-gara, bagiku, rasa itu perlu dimatikan.

Aku berpersepsi, kalau saja aku tak sanggup kondisikan perasaanku, berarti aku masih sangat bergantung; tak eksis. Tandanya, aku belum dewasa dan masih berpikiran orang kebanyakan. Mesti pacaran, mesti ngapel, mesti kasih hadiah, mesti telepon-teleponan, mesti bohong hanya karena aku butuh sensasi, dan seabrek aktivitas parsial lain yang tak idealistis. Susah, kalau eksistensi yang sama malahan melahirkan banyak strata eksistensi. Pola kebanyakan memang perlu untuk dibongkar keabsahannya. Apalagi kalau bukan tentang emansipasi pikir yang bukan feodalistis. Perlu distribusi keyakinan yang berlandasan; tidak turun-temurun dan menerima apa adanya.

Heh, bagaimana kalau saja perasaanku terlalu cepat mati? Sebab, aku juga tak sanggup kalau selamanya dianggap aneh. Ah, terlalu berlebihan.

Kamis, 08 Januari 2009

PARAMETER


Jadi orang memang susah. Waktu coba berontak semua hal yang menurutku sangat membingungkan di dunia ini, ada yang mengatakan, aku terlalu ‘kemaruk’. Bahkan, ada yang yakin kalau aku kufur nikmat; tak bersyukur. Di waktu yang lain, kalau aku lantas menerima apa adanya, nrima ing pandum, taken for granted; stempel yang kemudian ada, aku disebut apatis, fatalis, atau malah jabariyah. Lebih jauh, aku dianggap tidak revolusioner.

Seperti biasa, aku lantas menjadi sangat kebingungan. Aku seperti ada dalam dua kekuatan besar yang sangat bersemangat untuk berhadap-hadapan. Antara memilih takdir dan menebak takdir; antara eksistensialis dan pragmatis; antara teosentris dan antroposentris; antara aku dan mereka; antara personal dan masyarakat; antara kesalehan dan kemusyrikan.

Paling-paling, untuk menyelesaikan persoalan ini, ujungnya, menurutku, semua tergantung proporsi yang akan kubangun. Tapi, biasanya, muncul pertanyaan serius lanjutan. Lantas bagaimana standardisasinya? Waduh, dengan kekalahan telak, aku pun akan kebingungan untuk kedua kalinya.

Kalau parameter hasil bikinan personal sih ada, hanya, apa itu benar-benar objektif? Subjektif; itu klaimnya. Sebab, aku juga selalu meragukan semuanya termasuk kesubjektivitasanku berpikir. Sebab, selama ini, aku juga selalu berpijak pada relativitas berpikirku. Semua sangat relatif buatku. Hingga kini, aku masih meyakininya. Artinya, kedinamisan adalah hal nyata yang tak dapat disangkal apalagi disalahkan. Sebagai sebuah hal yang niscaya, untuk merunutkan dan merumuskan banyak hal tentang dunia ini, aku perlu untuk mengkover semua hal termasuk mengesahkan keraguanku yang bahkan, sering meliarkan kekuatan pikirku tentang apa pun.

Biasanya, kalau kemudian ada yang bertanya tentang parameter pikirku, kalau aku tak kebingungan, aku pasti akan percaya diri untuk mengumbar parameterku sendiri. Aku selalu percaya diri untuk membentuk persepsiku tentang apa pun dan kapan pun. Sebab, dunia ini terbentuk karena persepsi. Kalau terminologinya menarik, itu karena aku berani untuk mengungkapkan bahwa persepsiku tentang sesuatu itu memang menarik. Apa pun motif persepsiku atau pengaruh dari luar pikirku, aku akan selalu berusaha untuk memunculkan persepsiku itu pure dariku.

Nah, kalau lantas ada yang beranggapan bahwa kufur itu tak bersyukur, bagaimana dengan orang-orang yang tiap saat tak pernah merasa puas berpikir? Ia haus ilmu, bahkan gila ilmu. Apakah itu juga kufur? Apakah aku juga selalu bicara parameter? Berarti, apakah aku terlalu pilih-pilih dan suka membanding-bandingkan? Apakah aku juga terlalu rakus? Berarti, apakah aku terlalu ingin berkuasa dan bebas memilih? Apakah ....

Ah, parameter itu sulit.

Kamis, 18 Desember 2008

2008


HP-ku berderit. Sebuah nomor asing terpampang di layarnya. Ternyata, Deny Mulya Barus, seorang kawan lama yang kini jadi reporter Majalah Gatra. Dulu, dia sempat mengenyam kaderisasi HMI Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I. Ia kemudian memutuskan untuk ‘moncer’ di IMM Sukoharjo plus Persma FAI, Islamika.

Setelah saling sungkan, ia bertutur kesan tentang pilihan aktivitasku sekarang. “Wah, sekarang bisa jadi pro ya? Dulu kan anti?” Pertanyaan sederhana yang menukikkan kesalehanku di masa lalu, barangkali.

Aku terbahak seadanya. Bukan soal kalimat barusan. Apalagi, kalimat serupa telah sering aku dengar setahun ini. Aku tertawa untuk netralisasi suasana, bahwa semua tetap seperti dulu. Ya, saat visi kemahasiswaan diretas untuk Indonesia yang lebih baik. Saat visi media bersanding dengan perubahan, berkelindan dengan keperkasaan modal yang sulit dipongahi. Aku dan Deny sempat mempelajarinya bersama.

Aku tertawa untuk kesan yang sebenarnya, meresahkanku. Resah bukan lantaran aku merasa tengah berada di jalan yang salah. Tapi resah karena barangkali, ada fatwa laten, tentang aku yang seharusnya tak seperti sekarang. Ya, aku merasa, banyak kawan yang berbaik hati meluangkan karsa untuk hidupku, yang ‘seharusnya’ tak di tempatku ini.

Selontar kalimat aku feed back-kan agar suasana berimbang. “Gaya bicara kamu udah mirip diplomasi media, Den. Udah ngga gaya politikus lagi seperti dulu.”

Dan tawa membuncah renyah.

Benar, ada apa denganku setahun ini? Aku sering menanyakannya, serius. Mengapa aku tak sanggup lagi menulis buku untuk kemaslahatan (bangsa), semisal? Aku punya Salmanism (2002), Ecoideanomics (2003), HMI Makkiyah (2004), Born to Be Free (2005), Beyond Growl (2006), Bertaruh Citra Dakwah (2007). Aku tak punya apa-apa di 2008.

Apa yang aku dapat dari Jakarta setahun ini? Aku seakan tergopoh untuk reposisi bangsa yang semakin sulit. Jakarta mengajarkanku untuk semakin yakin bahwa semua konstelasi yang terjadi adalah ciptaan. Ya, by design. HMI Sukoharjo mengenyalkan benakku untuk membangun prasangka, lantaran ada khazanah postmodernisme seputar simulasi dan simulacra. Persma Pabelan mendedahkan professional skepticism pada runutan jurnalisme investigasi. Wajar kalau kemudian aku semakin yakin, banyak rencana operasi yang telah berhasil mengacak-acak negeri ini, tapi aku tak tahu banyak. Sisanya, akan semakin bertambah banyak.

Semua operasi itu jelas untuk mengamankan modal besar. Sejauh yang aku tahu, untuk berkompetisi dengan modal, hanya bisa dilakukan dengan modal atau mungkin… jaringan. Dan aku membahasakan jaringan itu sangat sederhana. Ya, apalagi kalau bukan… kebersamaan.

Senin, 13 Oktober 2008

Ikut Komentar Soal Laskar Pelangi


Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi—penisbah fungsi pelangi yang tak selalu melangit tapi juga sangat bermakna bagi perjuangan kaum kurang—pernah berujar, “Pagi itu hujan turun deras. Saat datang ke sekolah, saya lihat Bu Mus datang dengan berpayung daun pisang. Saya kemudian berjanji dalam hati bahwa suatu saat, akan saya tulis buku tentang ibu guruku ini.”

Sederhana tapi menyentuh dasar keterenyuhan insan akan peliknya kekurangan. Tak muluk-muluk tapi melampaui cita-cita ideal tentang hidup yang harus selalu lebih baik. Umum tapi mengingatkan kadar religisiutas yang semakin tipis dalam benak masyarakat gila materi seperti sekarang. Jauh dari ekspresi meledak-ledak tapi menggerus keinferioran mentalitas kalangan yang sepertinya tak pernah berpeluang.

Dan setelah semua semakin baik, dengan sekuat hati Hirata pun menuliskan berjejal kenangan mengagumkan tentang arti pengabdian itu pada enam minggunya yang berkesan. Lahirlah novel yang menginspirasi banyak punggawa kemanusiaan itu dengan selusin kesederhanaan menjanjikan seputar reputasi hidup, yang bersudut pandang berbeda.

Sebenarnya, Hirata tak pernah berkeinginan menawarkan bukunya itu ke penerbit komersil, apalagi hingga difilmkan. Ia hanya berkeinginan untuk mengikat sejarah masa kecilnya itu dengan tulisan, untuk kemudian difotokopi dan dipersembahkan kepada Bu Mus, sosok yang sangat menggugah makna kesungguhan dirinya untuk terus berbuat baik dalam kondisi sesulit apa pun. Ini dari hati ke hati. Ini tentang penghargaan personal yang jelas mengharu biru, tapi tak berbau publisitas. Ini soal ungkapan kebahagiaan yang baru bisa dirangkai dalam hitungan puluhan tahun kemudian.

Tapi tampaknya, kekuatan hikmah itu ternyata memang harus berujung pada sebentuk keniscayaan, bernama pemerataan pada khalayak. Atau sebutlah, dakwah. Atau katakanlah, setiap hal baik akan tercium aroma dan nuansa hingga jauh. Sekuat apa pun seseorang untuk tak ingin tampil di depan khalayak atas derby ikhlas-riya, kebaikan akan menyebar cepat dan berbuah keterkenalan. Sesederhana apa pun niatan seseorang untuk berbuat baik, gelombang penghargaan itu akan datang; bukan lantaran keinginan singgah di hati publik, tapi karena kebaikan itu memang selalu akan diakui adanya.

Pun bila semua tak semegah sekarang. Hirata mengaku, ia bukan seorang sastrawan. Sekali lagi, ia hanya ingin memberikan hadiah pada sang guru tercinta. Segurat dengan bicara Natsir, “Bila pun Masyumi tak ada, saya akan tetap berjuang di jalur Islam.” Artinya, novel itu tetap akan ia persembahkan pada Bu Mus, andai tanpa semua popularitas ini.

Semua tampak semakin meriah ketika analisis yang dikemukakan adalah strukturalis. Denias merilis pentingnya pendidikan, tapi tetap berkolaborasi pada modal raksasa. Faktanya, Denias asli ternyata tengah disekolahkan PT. Freeport. John de Rantau, sang sutradara, mengaku banyak kisah klise di sana; agar film tampak menarik. Gie justru melahirkan dikotomi serius, siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang memanfaatkan perjuangan untuk kepentingan pribadi. Film ini mereputasikan kelompok non-gerakan politik sebagai pahlawan yang sebenarnya. Terlalu tendensius. Semestinya diakui saja bahwa semua kelompok yang ada kala itu turut berkontribusi pada perubahan yang lebih baik. Juga film-film idealis garapan Garin Nugroho yang justru tak bisa dirasakan sebagai karya menjejak di dalam negeri. Ia lebih memilih untuk menjualnya ke luar negeri.

Laskar Pelangi berkisah tentang keresahan luar biasa Hirata atas kondisi republik yang sama sekali tak punya keberpihakan pendidikan kepada rakyat miskin. Tapi ia tak terlalu menyalahkan lingkungan, termasuk negara. Keringatlah kata kuncinya. Ketekunanlah sandi saktinya. Keberanianlah slogan sucinya. Pesan pentingnya, ketergantungan adalah kecualian. Untuk berbuat baik, setiap yang dipunya dapat diberdayakan. Bukan sekolah yang berdinding megah tujuannya. Bukan anak didik yang bermobil. Bukan guru-guru keluaran kampus asing. Bukan fasilitas sekolah yang sangat digital. Ya, ada yang lebih penting. Mental untuk sadar bahwa setiap orang dapat berbuat lebih baik adalah aset yang tak terkira.

Dedikasi tentu berhulu pada rasa kepemilikan yang sangat. Tak ada yang lebih membahagiakan selain merawat semua hal yang dimiliki. Tak ada yang lebih menggairahkan selain mempertahankan kepemilikan itu dengan berbuat yang terbaik. Tak ada yang lebih menyenangkan selain untuk mengabdi pada rasa memiliki, karena sebanding dengan kebaikan.

Hirata punya rasa memiliki itu. Ia tak peduli dengan semua kengerian hidup karena ia telah merasa memiliki sesuatu yang menurutnya, sangat berarti. Ia kesulitan untuk larut dalam kegerahan pemuja kosmopolitan, lantaran rasa kepemilikan yang membuatnya kuat bertahan. Ia bisa jadi ngeri dengan tawaran hidup yang gemerlap, karena bayangan idealnya tentang kesederhanaan yang terwujud atas penghormatan kemanusiaan. Ya, semua itu mencukupi kadar kemanusiaannya.

Dedikasi mensyaratkan kepercayaan diri yang telah dimiliki. Telah dimiliki itu tertaut jiwanya. Akan sakit bila yang satu disakiti. Akan senang bila yang satu berbahagia. Akan kehilangan bila yang satu tak ada. Mereka jelas saling merindukan.

Selasa, 09 September 2008

PRAKSIS


Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam aksi politik sebagai avant garde (baca: pemimpin) dikelilingi oleh beribu-ribu proletar dan nonproletar sebagai reserve (baca: pendukung), dan disukai oleh seluruh rakyat yang tertindas sebagai landstorm (baca: kekuatan penekan), kita bisa menang.

Tan Malaka dalam Semangat Muda (1926)

TEPATKAH sekolah anak-anak penerus bangsa kita? Akankah setelah lulus nanti, pekerjaan bisa gampang didapat? Apa pula perlunya bergabung ke organisasi perjuangan? Apakah ia dapat dijadikan tumpuan untuk cepat lulus dan punya banyak uang?

Berderet pertanyaan serupa bisa jadi lebih banyak dalam benak anaks sekolahan baru—bahkan lama—siapa pun dia. Pertanyaan yang selalu mengiringi hari-hari sekolah mereka lantaran terkadang, sekolah mereka memang tak segemerlap yang lain. Kekhawatiran ini mungkin semakin meninggi saat dijumpai kenyataan bahwa ternyata kawan-kawannya lebih tinggi reputasinya. Minimal, untuk uang saku dan tongkrongan sepintasnya.

Namun benarkah serumit itu? Benarkah anak sekolahan tak memiliki prospek? Benarkah organisasi perjuangan hanya tempat untuk menghabiskan waktu? Akankah lulusan sekolah di kita mampu memberikan yang terbaik bagi agama, nusa, bangsa, orang tua, juga dirinya sendiri?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, alangkah lebih baiknya kita diagnosis kondisi Indonesia hari ini. Sebab, situasi nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi global, lantas turut berpengaruh besar pada kondisi lokal.

Indonesia Hari Ini

Alangkah mujurnya anak-anak sekarang. Mereka dihadapkan pada permasalahan kompleks kebangsaan yang entah kapan bisa terselesaikan. Yang paling dekat, biaya sekolah terasa semakin mahal dan harga-harga kebutuhan kuliah pun tinggi. Belum lagi soal gaya hidup dan pemuasan keinginan pribadi yang tentu, ingin diakui sebagai seseorang yang ‘berkecukupan’.

Sekolah saja belum lulus, sementara di kertas makalah yang tiap saat mereka digeluti terpampang jutaan data pengangguran. Mendapatkan nilai tinggi saja mesti berpeluh-peluh, sementara kenyataan membuktikan, lulusan bernilai tinggi tak selalu beruntung setelah lulus. Dan semua itu ternyata berhubungan erat dengan realitas nasional Indonesia yang setidaknya bisa diringkas menjadi empat hal: kemiskinan, kebodohan, monopoli, dan negara yang lemah.

Pertama, kemiskinan. Karena masyarakat Indonesia masih berpendapatan rendah maka kemiskinan pun di mana-mana. Anak-anak orang miskin tak punya banyak pilihan karena kompetisi mengharuskan uang yang kadang, tak sedikit. Lihatlah uang yang disediakan beberapa orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke instansi terpandang. Bila tak ada uang, mereka akan kalah bersaing.

Kedua, kebodohan. Karena miskin, banyak orang yang tak bisa sekolah. Kalau pun bisa kuliah, mereka akan masuk ke jurusan yang tak terlalu menguras uang. Fasilitas yang sedikit karena sekolahnya murah akan membentuk lulusan yang tak terlalu menguasai skill. Banyak dari mereka yang kemudian tak bisa bersaing hanya karena dulu, laboratorium sekolah lain lebih komplit dan jaringan pendidikannya lebih variatif.

Ketiga, monopoli. Lulusan sekolah-sekolah di Indonesia dihadapkan pada kondisi ekonomi yang dikuasai kapital besar. Di sana-sini banyak perusahaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya di negeri ini. Kalau pun berniat wirausaha, karena modal tak sebesar perusahaan-perusahaan itu, mereka akan sangat kewalahan. Maka wajar kalau banyak lulusan kampus yang lebih memilih menjadi buruh/karyawan atau PNS.

Keempat, negara yang lemah. Semua problem itu sebenarnya akan sedikit tertolong bila negara kuat. Tapi lihatlah, banyak sekali kebijakan publik yang berpihak pada kapital besar daripada rakyat. Sebabnya jelas. Kapital besar saat ini telah menguasai negara dan dapat seenak perutnya mengarahkan kebijakan pemerintah, meskipun itu berurusan dengan hajat hidup rakyat banyak.

Penggolongan Kelompok

Lebih lanjut, sebenarnya negeri ini hanya diisi oleh empat kelompok dominan. Mereka saling memperkuat diri untuk mengalahkan yang lain.

a. Kapital Besar

Kapital besar yang dimaksud adalah perusahaan swasta, baik dalam maupun luar negeri, yang memiliki modal besar. Mereka memiliki ribuan bahkan ratusan ribu buruh/karyawan. Walau ada serikat pekerja dan bermacam tekanan dari negara dan kelompok masyarakat yang menginginkan kehidupan buruh/karyawannya lebih sejahtera, tapi tetap saja perusahaan-perusahaan itu tak bisa dipengaruhi. Mereka sering beranggapan, “Hari ini perusahaan memecat seribu buruh/karyawan, di meja HRD telah ada sepuluh ribu lamaran kerja.” Akhirnya, mereka tak sungkan untuk mengatur gaji buruh/karyawan serendah mungkin. Bila kemudian ada perusahaan bermodal kecil tapi juga sewenang-wenang seperti perusahaan besar maka mereka juga bisa dikategorikan pada kelompok yang sama.

b. Negara

Negara yang dimaksud adalah pemerintah. Karena saat ini era negara-bangsa (nation-state) maka negara sangat diperlukan untuk melakukan konsolidasi nasional dengan doktrin baku, nasionalisme. Mereka diharapkan mampu mempersatukan negeri dan dapat menjadi administrator yang baik bagi rakyatnya. Negara memiliki pegawai-pegawai pemerintahan untuk melaksanakan semua fungsinya.

c. Proletar

Proletar adalah sebutan kelompok bagi semua kalangan yang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan perusahaan. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil. Dan ia bisa jadi juga seorang intelektual.

d. Nonproletar

Nonproletar diisi orang-orang yang berprofesi sama dengan kelompok proletar, tapi mereka hanya berorientasi pada kepentingannya. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan yang hanya memikirkan gaji dan tak peduli pada yang lain. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil yang hanya ingin kekayaan pribadi. Ia bisa jadi juga seorang intelektual yang mau dibayar untuk kepentingan kapital besar atau negara.

Landasan Pikir

Untuk menyelesaikan persoalan, landasan pikir juga sangat penting. Beberapa hal dapat dijadikan referensi untuk memberikan keyakinan pada diri sendiri atau kelompok. Keyakinan tentang hidup yang harus selalu lebih baik.

Pertama, kekayaan itu bukan milik manusia. Ia adalah amanah dari Allah Swt. Adanya si kaya dan si miskin pada setiap zaman itu keniscayaan atau sebuah keharusan sejarah. Kalau tak ada si miskin tentu si kaya tak ada. Begitu pun sebaliknya. Artinya, kedua kelompok ini ada memang tidak untuk dibenturkan. Persoalan muncul saat si kaya zalim pada si miskin dengan tidak memberikan sebagian hartanya untuk membantu si miskin. Atau saat si miskin memilih untuk berbohong, menipu, dan berperilaku buruk sejenis untuk menjadi kaya. Saat disadari bahwa kekayaan atau kapital itu hanya amanah maka persoalan kemiskinan tak perlu saling menyakiti. (Catatan: disebut kemiskinan karena berisi kumpulan persoalan tentang si miskin. Kemiskinan juga akan selalu ada menemani kekayaan)

Kedua, hidup tidak untuk berlebih-lebihan. Apa hebatnya bila seseorang memiliki kekayaan melimpah tapi ada tetangganya yang masih kekurangan? Apa enaknya dipuji-puji orang sebagai sosok sukses, tapi tak bisa membantu kawan sendiri yang terbelit persoalan rumah tangga, terutama keuangan atau PHK?

Ketiga, akumulasi atau pemusatan modal itu merusak keseimbangan sosial. Sudah wajar adanya bila pemerataan kapital itu penting. Bila kapital hanya terpusat pada segelintir orang maka akan terjadi ketimpangan, dan berbuah chaos atau kerusakan.

Keempat, pentingnya pendidikan bagi semua. Dalam kondisi sesulit apa pun, pendidikan sangat penting bagi perkembangan manusia dan kemanusiaan. Bila masyarakat di suatu tempat sudah tak lagi mendapatkan pendidikan karena bermacam hal, termasuk karena miskin, maka mereka tinggallah menunggu kehancuran.

Kelima, kultur egaliter-demokratis atau menganggap setara sebagai manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan kemanusiaan. Dengan itu, tak ada lagi keinginan untuk menguasai, dan saling menghormati sesama manusia akan langgeng.

Keenam, nasionalisme juga penting. Kompetisi global mensyaratkan soliditas nasional yang kuat. Bila tak ada persatuan dan kesatuan nasional, negeri ini akan sangat gampang dikuasai bahkan dihancurkan bangsa lain.

Pola Aksi

Setelah mendiagnosis persoalan, diperlukan pola aksi untuk kemudian diturunkan pada program-program nyata. Lebih lanjut, ini dapat disebut dengan ‘gerakan perjuangan’.

Pertama, konsolidasi proletar. Mengapa tidak konsolidasi kelompok yang lain seperti negara, kapital besar, atau nonproletar? Sebab, saat ini, kelompok proletarlah yang paling dapat diharapkan menyelesaikan persoalan lantaran mereka selalu berpikir kesejahteraan dan keadilan rakyat banyak. Mereka juga menginginkan perubahan dan berusaha keras mengurangi kezaliman kapital besar. Sementara, nonproletar hanya mementingkan kepentingan mereka saja. Dan negara sangat lemah posisinya di depan kapital besar. Pada tahap ini, organisasi perjuangan dapat diharapkan menjadi ajang terwujudnya konsolidasi proletar. Jadi, dari organisasi perjuangan akan lahir banyak figur yang berpikir tentang kepentingan rakyat banyak. Sebab, bila mereka terbiasa menyelesaikan persoalan kompleks maka persoalan pribadi mereka akan relatif gampang bisa dipecahkan. Mereka akan mandiri dan berguna bagi orang lain.

Kedua, membuka unit usaha di sektor ekonomi basis. Tahap ini sulit bagi umumnya anak sekolahan, tapi dapat dianggap sebagai ladang pengalaman untuk kemudian ditekuni ketika lulus. Kata kuncinya adalah pemberdayaan. Organisasi perjuangan semestinya dapat melakukan kreasi-kreasi untuk membentuk komunitas yang mandiri, untuk kemudian diarahkan pada masyarakat yang mandiri. Mandiri yang dimaksud itu tidak tergantung pada perusahaan besar atau negara.

Ketiga, memberikan pendidikan bagi semua. Pendidikan yang dibidik tidak hanya formal, tapi juga informal dan nonformal. Formal itu sekolah umum dan resmi. Sementara informal itu sekolah tanpa gedung dan tanpa sertifikat; bisa pengalaman atau autodidak. Pendidikan nonformal adalah pendidikan luar sekolah tapi bersertifikat seperti kursus-kursus. Jadi, kalau tak bisa membuat sekolah, bisa digelar training singkat. Bila pun itu tak bisa terwujud dapat dilakukan kaderisasi terstruktur, tanpa sekolah dan training. Organisasi perjuangan tentu akan sangat berguna untuk melakukan pendidikan yang dimaksud.

Keempat, komunitas ini akan mempengaruhi perubahan sosial, juga mengurangi dominasi kapital besar dan membuat pemerintahan lebih berkualitas. Bila ini berhasil, semua pertanyaan di awal tulisan akan bisa diselesaikan, termasuk memotong lingkaran setan kemiskinan. Amin.