Selasa, 31 Agustus 2010

Percaya


“Smart! Husnuzon is the best choice….”

Jeger!!! SMS penting mengguyur sejuk nafsu kalkulasiku yang hampir tak bisa bernapas. Lumayan… kalimat ini mampir setelah aku harus yakin bahwa aku memang tak boleh banyak berharap pada siapa pun dan apa pun. Hem… dulu, aku pernah berfalsafah bahwa berharap adalah setengah pecundang. Waktu itu, seorang kawan menenteramkan batinku kalau berharap itu tetap boleh, agar hidup ini terus berjalan. Baginya, tanpa harapan, manusia hanya akan larut pada realitas kekinian, tanpa mengindahkan masa depan. Aku berterima kasih padanya.

Cuma, bagiku, masa depan terjadi karena masa kini. Harapan adalah batas akhir kalkulasi kita yang dikondisikan ‘menunggu’ ketimbang menghadirkannya sebelum terjadi. Jadi, bagiku, harapan ada lantaran kita diharuskan memberi toleransi pada kalkulasi. Ya, itu jatah Allah. Harapan ada karena kita butuh bersandar pada Allah. Aku samakan ini dengan doa. Di luar itu, harapan di atas kalkulasi material tak perlu dibesar-besarkan. Sebab, kalau bukan kita sendiri yang berusaha menyelesaikan semua ingin dan resah kita, lantas siapa lagi? Kelak, semua kelakuan kita akan dipertanggungjawabkan di depan Allah… sendiri.

Oya, back to the SMS….

Setiap ketemu kata smart, aku pasti ingat Hughes, artis bertubuh subur yang dekat dengan anak-anak. Bff… serasa jadi anak-anak. Sepertinya, aku memang pantas terus-terusan dianggap anak-anak. Siapa sih, yang ngga pengin tiap saat diperlakukan dengan perhatian cukup, gemas yang tiada akhir, dan… selalu dirindukan.

Sebagai penganut professional scepticism dan dekonstruksi nilai, aku mungkin tak gampang percaya pada apa pun. Tapi, aku pun sering mendelik lantaran ada kasih yang tertahan, ingin yang meledak, care yang terkulum, tatap yang tersimpan, singgung yang tekernyit, sungging yang tercekat, atau juga… hasrat yang tersekat. Semua itu membesut semua logikaku ke atas kekuatan intuisi yang tak bisa lagi dibicarakan. Ia gampang selesai dan menenteramkan batin keruhku.

Keliru mungkin, bila lantas biasanya, aku terlalu jauh berprasangka atau terkesiap aroma ‘jangan-jangan’. Sebab, klausul semua itu harus material; bukan hanya kasat mata yang mungkin… itu juga bisa saja dimengerti. Namun, aku tak terlalu suka kepermisifan. Jadi, aku perlu negoisasikan kesan dan realitas idealku pada orang lain. Aku perlu kesepakatan atas nilai yang dipahami bersama. Setidaknya, aku sedang bertendensi kuat, tak boleh ada yang kecewa atau dirugikan kelak. Tak sederhana, tapi benar-benar menenteramkanku. Soalnya, aku pun tak melulu klasifikatif, stratifikatif, atau mungkin falsifikatif. Simpel saja, waktu aku kriteriakan prasangka, aku selalu mendamba kemanusiaan; ingin menjadi figur paling manusiawi. Aku selalu ingin menjadi orang suci di depan Allah… dan orang lain tak perlu tahu. (Wah, kalo dah ditulis… orang lain jadi tau dong) Sekali lagi, karena itu menenteramkan. Bukan yang lain.

Mungkin pula, manusia memang terlalu nisbi untuk merilis keperkasaan ‘ingat’ dan ‘sesal’. Maksudnya, manusia selalu dikungkung persepsi atas ingatan masa lalu yang seringnya malahan ingatan tentang sesal. Trauma atas kegagalan yang sering menyapanya. Sebab, dunia bisa saja begitu gerah untuk ukuran esok yang tak begitu diinginkan. Ya, aku menjadi sangat kecanduan untuk mengingat-ingat. Bila pun aku menikmatinya, sesalku tak pernah kunjung usai. Tiap prasangkaku beringsut bersanding dengan sesuatu yang pernah aku ingat dan sesalkan. Entah, aku selalu saja begitu. Menyiksa, tapi aku suka.

“Bahagia rasanya bisa mentok. There’s no hope anymore….”

Sebentar kemudian SMS timpalku melayang tanpa beban. Aku perlu perkenalkan ke semua orang bahwa mentoknya seseorang itu harus dianggap sebagai anugerah, bukan semata kekurangan tak terampuni. Setelah mentok, tak ada lagi kalkulasi yang tersisa. Semua menjadi jelas, tanpa perlu lagi untuk berprasangka. Kita hanya perlu mendesain masa depan tanpa perlu merasa diri kita buruk lantaran belum mentok. Ya, andai belum mentok, kita akan terus-terusan menyesal, knapa itu harus terjadi. Mentok adalah kesimpulan. Kesimpulan adalah pilihan. Pilihan adalah keberanian untuk tetap hidup. Mentok itu untuk memilih: what’s the next? Ada optimisme di sana.

Hmm, aku paksakan untuk tetap tersenyum. Aku tahu, semua harus tetap dilanjutkan.

Prambanan’s File at 13th Oct 2006
Sabtu, 21 Oktober 2006
08.22 WIB

Truly, I don't Like Politic


Sejak masuk HMI, semester 2 dulu, atau Maret 2000, aku tak pernah tertarik tradisi perpolitikan di organisasi yang kata orang, sangat politis ini. Buku pertama yang aku baca adalah Leveraged Buy-Out. Buku ini berisi strategi jitu akuisisi perusahaan dengan utang. Tokoh-tokoh LBO-nya, Jerry Kohlberg dan Henry Kravis, masih aku ingat. Ini referensi ekonomi, karena aku mahasiswa ekonomi. Ketika itu, aku hanya berkeinginan untuk tahu seluk-beluk ekonomi AS, yang disebut-sebut sebagai kampiun kapitalisme.

Tulisan pertamaku di Pabelan Pos—media kampus yang akhirnya aku peristri—tentang kegelisahan batin saat aku beranjak dewasa. Semacam renungan, mengapa Tuhan menciptakan kriteria muhrim dan tidak muhrim. Ketika itu, aku ingin mengorek sisi jiwaku yang haus sensualitas, tapi aku juga berhadap-hadapan dengan norma-norma yang banyak membingungkanku.

Artikel pertamaku di Bengawan Pos, salah satu koran Solo yang akhirnya gulung tikar, adalah tentang ‘Sekolah dan Kesempatan Kerja’. Ketika itu, aku ingin mereka-reka apa yang akan terjadi pasca aku lulus, hingga aku berusaha menjelaskan semua risauku kepada khalayak melalui media.

Forum pertama yang aku moderatori di Komisariat HMI adalah diskusi filsafat. Ketika itu, tak sampai 10 orang yang hadir. Aku menjadi terbiasa dengan kalimat-kalimat paradoks, yang menurut beberapa orang, tak baik dipelajari itu. Aku mulai berkenalan dengan Thales, Heraclitos, Plato, Plotinus, hingga Ibnu Rusyd.

Debat pertamaku adalah tentang utang luar negeri Indonesia. Meski aku tak benar-benar paham konstelasi makroekonomi yang tengah terjadi ketika itu, tapi aku telah kerasukan neostrukturalisme. Aku mulai akrab dengan Hatta, Sritua Arif, Sri Edi Swasono, hingga Revrisond Baswir. Pemikiran-pemikirannya, yang aku maksud. Menurutku, bangsa-bangsa Barat tak adil.

Buku pertama yang aku tulis justru tentang semua keraguanku atas perempuan. Ketika itu, aku persembahkan untuk salah seorang perempuan yang aku kagumi. Aku tak pernah tertarik padanya, tapi aku betah bicara dengannya. Tulisan-tulisanku mengurai kesulitanku memahami makhluk Tuhan yang memang misterius itu.

Aku pernah menjadi Ketua Umum HMJ Ekonomi Pembangunan FE UMS, tapi aku tak bernafsu untuk melanjutkannya ke jenjang BEM. Menurutku, BEM tak merepresentasikan grass-root. Ia koordinatif, dan aku tak tertarik. Apalagi, BEM sering tampak sebagai organ yang hanya untuk gagah-gagahan.

Aku pernah menjadi Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS, tapi aku tak berkeinginan mendongkrak popularitasku ke arah kursi kepresidenan mahasiswa UMS. Bagiku, menjadi mesin wacana di tataran student government lebih dari cukup untuk berkontribusi terhadap semua karut-marut dunia pendidikan, juga gerakan mahasiswa.

Aku pernah menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang, tapi aku tak tertarik intrik politik ke kampus, daerah, atau negara. Aku larut dalam desain perkaderan, dan cita-cita keseimbangan dunia dari dan oleh kader umat dan bangsa. Aku lebih suka mengkomposisikan buah pikir Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, Kuntowijoyo, Cak Nur, Eep Saefullah Fattah, hingga Francis Fukuyama dan Herbert Feith. Aku memasang titik-titik skala prioritas itu di tembok kamarku: pendidikan, kemiskinan, demokrasi, dan militer.

Lihat, sebenarnya aku tak pernah tertarik dengan politik. Bila kemudian aku berusaha menulis tentang politik, lantaran hingga hari ini, aku masih berkubang dengan akses dan konstelasi politik. Tapi aku beryakin, hingga semua telah diketengahkan, barangkali aku lebih tertarik bernaung di perdesaan dengan penduduk berdedikasi dan sangat mencintai daerahnya, berikut perilaku ningrat yang insan kamil dan berkebangsaan.

Jakarta, 05 Maret 2008

SELISIK AURAT


Aku suka Frida Lidwina dan Wanda Hamidah. Mereka smart, punya dedikasi, bervisi kebangsaan, dan istri yang baik. Penampilan mereka sejuk, meski tak berjilbab. Aku suka Jane Austen, penulis novel Pride &.Prejudice berkebangsaan Inggris. Ia mengabarkan pentingnya kebebasan memilih bagi perempuan, tapi ia sangat menghargai kesopanan dan menahan diri. Ketika itu, kebanyakan orang Inggris memeluk Protestan. Aku juga suka Inneke Koesherawati. Ia berani berbeda dan buatku, itu perjuangan atas kebebasannya.

Berdandannya perempuan bagiku adalah identitas. Dan setiap orang tentu berhak mengabarkan identitasnya kepada publik. Perkara kemudian itu akan melahirkan stereotipe tentang sesuatu, seperti seronok, mesum, atau murahan, aku lebih tertarik untuk melihatnya lebih dekat (baca: berpikir lebih dalam) persoalan ini, daripada memikirkan label-label sosial itu. Karena, identitas yang mereka bangun, jelas diperuntukkan pada eksistensi diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain.

Aku tidak bermaksud untuk mengakhiri pembahasan tentang aurat dengan menyerahkan semua itu pada si objek. Nilai yang benar tentu tidak berakhir pada relativisme; semacam adagium, “Menurut kamu benar, belum tentu benar menurutku.” Itu epistemologi Barat. Barat merestui relativisme lantaran basis pemikiran mereka adalah materialisme. Tentu tak tepat kalau harus menempatkan Barat sebagai pilihan pikir satu-satunya. Bukan pula lantas meyakini bahwa di Barat tidak ada kebenaran.

Pilihan berbusana untuk identitas, dan untuk eksistensi diri, pada konteks pencapaian eksistensi, sama seperti keinginan berkumpul dengan orang lain atau berorganisasi. Ada semacam kebahagiaan atas pilihan itu, dan merasakan kepuasan karena semua itu dianggap bersosial. Seorang bijak bilang, tiga derivasi verbal kebahagiaan adalah bercengkerama dengan sepertiga malam, shalat berjamaah, dan bertemu rekan-rekan seperjuangan.

Seseorang akan terus-terusan memperjuangkan semua kebahagiaan yang dimaksud dengan identitas yang dibangun. Seorang organisatoris pasti tertarik untuk berupaya menghadirkan kawan-kawan yang belum aktif untuk turut menyelami khazanah perjuangan. Nah, itu eksistensi.

Aku nonton Beyond Borders. Di situ, Angelina Jolie tak hanya kelihatan seksi lantaran bibirnya, tapi juga tampak ningrat dengan naluri sosialnya. Aku tak peduli lagi dengan produk Tomb Rider yang kata orang superseksi itu. Aku hanya kesengsem dengan sikap adopsian anak gaya dia yang berkomposisi berbagai benua.

Atau Michel Pfeiffer. Ia hadir di Dangerous Mind, dan berperan sebagai guru anak-anak jalanan. Blonde rambutnya menggiring interest-ku pada perempuan seksi yang sangat mengerti kemiskinan.

Atau Dian Sastro. Kontribusinya di Ada Apa dengan Cinta dalam peran cewe yang sangat suka menulis dan berprinsip, juga di sinetron Dunia Tanpa Koma, sebagai reporter pekerja keras, seperti menutup minatku pada muka sensualnya. Aku seakan mau melupakan ciuman dahsyatnya pada Rangga di bandara dalam AADC.

Tentu saja aku tidak kemudian bersemangat untuk menyandingkan kesalehan dengan sensualitas dalam kajian vulgar kaum pengusung kesopanan. Tapi, aku memberikan penjelasan sewajarnya tentang insting cowokku yang doyan sensualitas di satu sisi, dan pribadi cewe yang berkualitas di sisi lain. Saat menikah, semua orang pasti merasa bahwa pasangannya adalah sosok terseksi dan berkualitas, kan?

Pakai etika sederhana saja. Saat di bus way, cewe ber-tank top pun tak risih bergelantungan di sesaknya jam-jam sibuk. Tapi, adalah tabu melihatnya dengan tatapan doyan. Ada perasaan gengsi dan malu andai cowo kelihatan doyan di depan cewe berpakaian seksi. Beda kasus kalau si cewe pakai rok mini dan rela ditatapi setiap orang di pinggir jalan. Pasti banyak mata yang akan menatapnya aneh, bahkan berpikir yang bukan-bukan.

Jadi, semua cowo di dunia ini suka sensualitas. Tapi, untuk memilihnya menjadi gaya hidup, cowo juga punya penilaian sendiri atas sensualitas yang ia inginkan. Meski banyak uang dan doyan berpakaian seksi, ternyata Britney Spears semakin merasa bahwa hidupnya tidak berarti. Di zaman Victoria, virginitas sangat dijunjung tinggi di Inggris. Mereka juga mengenakan rok-rok panjang sebagai bentuk reputasi sosial atas keningratan status dan kepandaian. Orang Inggris juga malu untuk berpelukan.

Jadi sebenarnya, menilai keseksian tidak sesederhana menarik syahwat kotor, atau membuat seseorang menjadi rendah moralnya. Sekali lagi, itu identitas yang ingin mereka bangun. Dan juga, untuk mereka... bahkan lingkungannya.

Perlunya dakwah tentang aurat akan sangat relevan bila kesepakatan tentang ini telah dicapai. Bukan berarti menganggap seruan tentang menutup aurat adalah salah. Sebab, berbicara adalah hak, asalkan tidak ada yang merasa dirugikan. Alasan moral agamanya, diwajibkan untuk saling mengingatkan, dengan dakwah sebagai salah satu variannya.

Nah, isu pornografi-pornoaksi boleh-boleh saja, dalam kerangka pembanding tren berbusana dan berbudaya; bukan komoditas politik-kekuasaan. Pelacur mana sih yang berani berdandan pas-pasan saat masuk rumah ibadah? Mereka pasti akan meninggalkan semua identitasnya itu di luar. Tapi, mengapa mereka tetap saja berperilaku sama setelah keluar rumah ibadah? Sekali lagi, semua itu untuk membangun identitas dirinya; bukan untuk orang lain, apalagi memanjakan orang-orang yang melihatnya.

Menurut Francis Fukuyama, kegagalan gerakan islamisme justru berbenturan pada kondisi islami yang telah lama ada di Eropa. Maksudnya, bagaimana mungkin Islam yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kebersihan, dan kerapian bisa dianggap sebagai hal menarik baru, bila pada kenyataannya di Eropa keadaannya memang telah lama demikian.

Nah, yang lebih parah, gerakan anti pornografi-pornoaksi yang salah, bisa membagi orang-orang Muslim ke beberapa kategori. Ada Muslimah yang akhirnya merasa bahwa ia tidak benar-benar islami. Kalau dia lantas mencari tahu untuk belajar, itu lebih baik. Nah, semisal dia malahan merasa dieksekusi, bahkan dengan berondongan norma yang intens, barangkali ia bisa kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak diberi kesempatan bertanya.

Wallahu a’lam.

Jakarta, 28 Januari 2008

KESALEHAN


Banyak orang berargumen wajar tentang pembelaannya terhadap kaum sengsara. Bagi mereka, tak apa seperti lilin yang harus membakar dirinya, asalkan dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Bagi mereka, pilihan untuk turun melakukan pembelaan adalah sebentuk tanggung jawab, bahkan beralasan moral penuh. Bagi mereka, waktu, pikiran, dan energi habis untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat kekurangan di sekitarnya.

Bagaimana kalau sekarang kita ganti perspektifnya? Semisal dalam kasus Siti Nurbaya, siapa sebenarnya yang salah? Ada yang bilang, Datuk Maringgih-lah penyebab semua kekacauan itu. Ada yang menyalahkan Syamsul Bahri yang tidak dapat berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan Siti Nurbaya. Ada juga yang menganggap orang tua Siti Nurbaya terlalu tega pada anaknya, hingga harus menebus utang-utangnya dengan sang anak. Ada lagi yang menyalahkan Siti Nurbaya, karena ia hanya bisa pasrah.

Bagiku, siapa pun dapat salah dan dapat juga benar, tergantung alasan mengapa ia memilih pilihan itu. Datuk Maringgih tentu salah bila berusaha keras, bahkan dengan muslihat, untuk mendapatkan Siti Nurbaya. Tapi, Datuk akan tampak benar, bila ia dapat memberi solusi singkat, terhadap semua utang-utang ayah Siti Nurbaya, karena belum tentu sang ayah bisa membayarnya.

Syamsul Bahri kelihatan salah bila hanya bisa ikut arus kondisi, tanpa ada tawaran solusi terhadap persoalan ini. Dan ia akan tampak benar, ketika ia sadar bahwa kekuatannya tak seberapa untuk menebus beratnya tanggungan utang itu. Ia tentu tak akan membawa lari Siti Nurbaya dan mengorbankan semuanya, hanya untuk cinta. Tentu saja, cinta tak akan bisa didapat dengan mengorbankan keluarga.

Ayah Siti Nurbaya bisa salah bila ia hanya mengambil jalan pintas, tanpa upaya keras mencari jalan keluar utang, bahkan mengorbankan anaknya. Namun, sang ayah akan dianggap benar, bila pada kenyataannya, semua utang tersebut memang diperuntukkan semua kebutuhan keluarganya. Sementara itu, Siti Nurbaya jelas salah bila ia bersikap tanpa alasan yang cukup sebagai bentuk identitas kebebasan memilihnya. Tapi, ia akan tampak bijaksana, bila semua itu dilakukan untuk pengabdian yang tak terkira pada keluarganya.

Nah, aku hanya ingin memberi poin penting tentang penentuan pilihan. Bila memang berbagi dan berjuang bersama orang-orang susah adalah pilihan, bukan lantas menempatkan seseorang sebagai sosok yang lebih bermoral atau setidaknya, menempatkannya pada strata sosial baru, dengan reputasi sosial lebih. Biarlah Tuhan yang mengambil peran itu. Biarlah publik yang menilai semuanya. Karena, yang penting, hanya harus berbuat banyak. Begitu pun, seseorang tak akan pernah merasa bahwa semua itu penuh dengan hasrat menahan diri, mengorbankan banyak hal, atau terasa seperti pilihan yang berat. Itu tandanya, ada persoalan dedikasi yang bermasalah. Berarti, ia tak benar-benar ada dalam alasan pilihan yang tepat.

Bahwa akan ada jenuh, marah, lelah, atau berlusin kebuntuan serius adalah hal wajar. Namun, kebahagiaan yang tak terkira adalah ketika semua langkah diambil berdasarkan keyakinan yang sangat... dengan alasan mendalam.

Nah, berurusan dengan persoalan pelik seputar peluang kesejahteraan petani yang tipis, pengangguran, kesempatan kerja, akses modal, monopoli, hingga efek moneter yang berdampak krisis, jelas dibutuhkan dedikasi. Maksudnya, persembahan diri kepada Tuhan untuk berbuat yang terbaik; tak peduli apa yang akan terjadi. Karena, kebahagiaan tentu berasal dari dalam diri, bukan karena citraan publik semata. Selebihnya, tak penting sebagai apa seseorang berbuat. Asalkan penuh dedikasi, itu sudah sangat membahagiakan diri.

Jakarta, 28 Januari 2008

Sabtu, 29 Agustus 2009

Mengawal Generasi Muda Era Teror


Mereka terperangkap dari jerat situasi
Kreasi Bapakku yang trauma revolusi

Mereka jadi korban keadaan frustrasi

Kecewa marah-marah, mendobrak tembok tradisi
....

Tiada hari tanpa pemberitaan terorisme. Suatu ketika, tampak di layar kaca aksi-aksi penggerebekan Densus 88, yang mirip film-film action produksi Hollywood. Pada saat yang lain, disajikan pengawalan pesakitan tersangka teror yang kepalanya telah tertutup rapat, berikut baju khusus yang menandakan bahwa ia memang penjahat paling diburu. Tak kalah atraktif, para polisi yang mengawalnya juga tampak stylist, berkacamata hitam, kostum modis, plus senjata lengkap berstandar internasional.

Publik Indonesia mengharu biru. Rekaman bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot berulang kali ditayangkan. Beriring trauma berkepanjangan para korban, juga citra buruk anggota keluarga para tersangka teror, kelompok-kelompok yang merasa tahu pun berspekulasi atas situasi. Terkadang, bendera organ dan teriakan juga dikumandangkan menyusul dukungan atau penolakan aksi pengeboman yang katanya, atas nama Tuhan itu.

Semua terjadi begitu cepat dengan kompleksitas data yang semakin meluber, melibatkan banyak pihak. Semakin data baru ditemukan dan dikonfrontasikan kebenarannya, semakin meninggi pula kekhawatiran publik tentang Indonesia yang ternyata dikecamuki teror terencana, tapi laten.

‘Calon Pengantin’ dari Generasi Muda
Belakangan, respons media mulai melibatkan praduga tentang rawannya kalangan muda akan rekrutmen jaringan pelaku teror. Banyak disebutkan bahwa ‘Calon Pengantin’, istilah untuk calon pelaku bom bunuh diri, didominasi oleh generasi muda. Mereka dahulu adalah anak-anak manis yang taat beribadah, pandai bergaul, dan berprestasi dalam sekolah. Kabarnya, semangat mereka yang tinggi untuk beraktualisasi, berhasil dibelokkan menjadi ‘aksi perlawanan’ berbuah surga.

Modus ini kemudian dilengkapi dengan beberapa data di luar negeri seputar rekrutmen anak-anak muda di berbagai negara oleh jaringan teror internasional, yang konon sukses, karena motif belitan kemiskinan. Terorisme kemudian menemukan arus besarnya, saat didukung oleh anak-anak muda yang berani mati, untuk tujuan keabadian, seperti yang diujarkan pendahulu-pendahulu mereka.

Betapa lantas publik menjadi semakin tahu. Bahwa ternyata, banyak keluarga bermasalah di negeri ini. Faktanya, anggota keluarga tidak tahu-menahu seputar aktivitas ‘para pengantin’. Betapa banyak anak-anak pintar yang seperti tak menemui miliunya. Beberapa dari mereka digiring pada janji-janji keabadian, mengalahkan keharmonisan keluarganya selama ini. Betapa kepedulian sesama masyarakat telah banyak menurun. Siapa sangka, tetangga yang tampak baik itu ternyata adalah perencana atau peracik bom kelas wahid.

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Generasi muda berkualitas yang berempati tinggi kepada sesamanya sangat menentukan kedamaian republik di masa depan. Bila pendampingan generasi penerus tidak diprioritaskan, bahkan telah rusak perisai norma-norma keluarganya, entah apa yang lantas akan terjadi. Sungguh sulit dan menyisakan sesal yang amat.

Bukan Modus Baru
Bila dirunut agak jauh, modus melibatkan anak-anak muda yang bersemangat tapi labil memang sering terjadi. Sejak dulu, kalangan muda sangat reaktif pada kondisi, dengan penjelasan yang terkadang, agitatif dan provokatif. Kesan heroik menggejala kuat, pertanda energi mereka yang dapat didesain meledak-ledak.

Sedikit data ditulis Tim Weiner, reporter The New York Times, pemenang Pulitzer, dalam buku international best seller-nya berjudul ‘Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya’. Setidaknya, untuk ukuran dunia, badan intelijen kebanggaan Amerika Serikat itu dapat dijadikan referensi seputar praktik-praktik penguasaan negara lain, berbasis informasi dari agen-agen yang mereka rekrut dan latih.

Dalam buku yang dicetak tahun 2008 itu, Weiner mengemukakan banyak dokumentasi yang ia susun dari 50.000 arsip CIA, hasil wawancara ratusan agen CIA, dan pengakuan sepuluh direkturnya. Sebagian meragukan kelengkapan data Weiner, dengan alasan hanya menyentuh permukaan. Sebagian yang lain merasa perlu untuk tetap mempelajarinya sebagai rujukan.

Weiner menulis rekam jejak Frank Wisner, Kepala Operasi Rahasia CIA, tahun 1952. Ketika itu, ia merencanakan sebuah serangan rahasia besar terhadap Uni Soviet yang ditujukan pada jantung sistem kontrol komunis. Marshall Plan (Program Pemulihan Eropa) pun diubah menjadi pakta-pakta yang menyediakan senjata bagi sekutu Amerika.

CIA mempersenjatai pasukan-pasukan cadangan rahasia untuk memerangi tentara Soviet di seluruh Eropa. Anak buahnya menjatuhkan emas batangan ke beberapa danau, juga mengubur berpeti-peti senjata di pegunungan dan hutan Skandinavia, Prancis, Jerman, Italia, dan Yunani.

Khusus Jerman, CIA berhasil menggalang dukungan dari Young Germans, kelompok muda radikal yang didominasi anggota Hitler Youth. Daftar keanggotaannya bahkan membengkak hingga lebih dari 20.000. Mereka menggunakan senjata-senjata CIA, radio, kamera, dan uang. Parahnya, mereka juga membuat daftar panjang politikus demokratik arus utama Jerman Barat yang akan menjadi sasaran pembunuhan ketika saatnya tiba.

Keluarga Harmonis dan Religius
Kenyataan tentang terekrutnya generasi muda dalam jaringan teror semestinya menjadi kritik telak bagi semua keluarga di Indonesia. Apalagi sebenarnya, lantaran pengaruh pemberitaan teror yang bertubi-tubi, tanpa kepastian kapan semua itu berakhir, dapat membuat kalangan muda pesimis akan masa depan negeri ini, yang berarti juga masa depan mereka. Repotnya, mereka kemudian dibesarkan dalam suasana mencekam, akibat teror yang laten.

Bait lirik lagu di awal tulisan karya Slank, sebuah band kenamaan Indonesia yang memiliki sense of crisis tinggi, dapat membuat siapa pun berpikir tentang pentingnya membangun keluarga yang harmonis dan religius. Pesan yang ingin disampaikan Slank bermuara pada keseriusan para orang tua untuk mengasihi anak-anaknya pada kadar semestinya. Sebab, tanpa itu, anak akan besar menjadi sosok liar, yang sulit ditengarai maksud dan aktivitas hariannya.

Sementara itu, religiusitas adalah bekal inti. Dengan ilmu agama yang cukup, perintah Tuhan agar manusia menebar rahmat ke seluruh alam, akan mendarah daging dalam hari-hari sang anak. Sebaliknya, bila para orang tua tak lagi memedulikan pendidikan agama anak-anaknya, tragedi demi tragedi akan terus terjadi, hanya lantaran tafsir Kitab Suci yang seringnya, masih sepotong-sepotong. Semoga negeri ini segera entas dari nuansa teror yang jelas sangat tidak diridhai-Nya. Wallahu a’lam bi shawab.

Minggu, 26 April 2009

Dulu dan Kini


“Kalo cowo pinter ketemu cewe pinter, jadinya romantika. Kalo cowo pinter ketemu cewe bodo, yang ada si cewe hamil. Kalo cowo bodo ketemu cewe pinter, terjadilah perselingkuhan. Nah, kalo cowo bodo ketemu cewe bodo, mereka pasti menikah.”

Aku tersenyum. Bukan hanya karena kalimat anekdot pernikahan yang struktur kalimatnya ingin sebanding dengan klasifikasi manusianya Al-Ghazali itu. Aku tersenyum, juga lantaran ketakutan baruku pada perilakuku yang sepertinya tak lagi aku minati kebenarannya.

Belakangan, aku seperti kelu berurusan dengan kriteria norma yang semakin terasa rigid. Aku mendadak tidak ramah pada nilai-nilai yang selama ini aku pegang teguhi itu. Kini, aku berusaha keras menegoisasinya. Aku ingin agak lumer dan menganggap semua nilai itu bisa saja ditafsir ulang; semacam pembenaran ekstra atas keraguanku.


Aku tak tahu, gelagat apa lagi yang tengah berusaha keras merasukiku. Mengapa aku mulai melirik kesimpulan bahwa menikah adalah tindakan bodoh? Meski tentu tidak lantas mengamininya, tapi aku butuh runutan berpikir itu, yang agaknya, terasa kontekstual. Ya, aku tak lagi dapat menemukan keberbanding-lurusan antara kebenaran nilai pernikahan dengan kenyataan tentang pernikahan. Aku mulai merasa, ada cara lain untuk memaknai hubungan spesial yang kata orang, sangat menghabiskan semua hal itu.

Dulu, aku bisa tersungging sinis kalau ada yang menawariku produk KFC, Pizza Hut, atau sejenisnya. Jelas aku punya serentet alasan ideologis hingga teknis. Saking keras kepalanya, bahkan ibuku sempat memberiku saran ketat, “Jadi orang jangan terlalu fanatik.” Miris juga kalau kemudian, selasar doktrin tentang kemandirian bangsa ternyata seperti tak berbanding lurus dengan ridha orang tua seputar kefanatikan. Meski aku juga tak sempat menghubungkan ini dengan perlawanan Nabi Nuh as. pada orang tuanya, pembuat berhala. Ya, aku tetap menganggap, bertradisi makanan transnasional itu tidak keluar dari iman dan Islam. Artinya, aku hanya keberatan atasnya.

Dulu, aku punya cara berbeda menerjemahkan hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan. Atau sebutlah itu, pacaran dan sejenisnya. Pertama, semua ketertarikan seriusku pada perempuan selalu beriring misi sosial. Aku berkesimpulan, akan bisa berbuat banyak pada sesama bila bersama sang cewe. Agak berbangga, agenda-agenda berkunjung ke panti asuhan atau berpikir kemanusiaan sering mewarnai hari-hariku. Senang rasanya menemani seorang cantik yang sangat dicintai orang-orang kurang.

Kedua, hubungan yang terjalin tak pernah menampak formal. Mirip logika Lyotard di film Matrix. Antara ada dan tiada, kata Utopia. Sesekali aku muncul di kediaman, dengan sajian senyum dan servis yang menurutku, paling baik. Pada kali yang lain, aku tak pernah menyapa mereka, karena bermacam alasan sok moralis, seputar agenda-agenda perubahan sosial. Aku sering merasa tak cukup waktu membahagiakan mereka. Tapi terkadang, aku merayah payah, pertanda sebenarnya aku tak pernah mau ditinggalkan. Aku tahu, itu egoisme yang sangat, bernama ‘mau enaknya sendiri’.

Ketiga, selalu ada cara indah untuk mempertahankan kebersamaan. Aku pernah diundang makan bersama, hanya karena ada acara, pamer sayur asem. Beberapa orang tahu, aku begitu menikmati sayur-sayur bernuansa bening. Walau acara makannya bareng-bareng, aku merasa tersanjung. Ada lagi, seorang dari mereka berbangga lantaran berani naik kereta Pramex sendirian, hanya karena ia ingin dianggap dewasa. Ada juga yang mengirimiku buku harian, karena ia tak ingin aku menulis di sembarang tempat. Sekali lagi, seperti ada mahkota Hayam Wuruk di kepalaku.

Keempat, saling kagum menjadi pengikat. Setiap kali bersama mereka, reputasiku naik tak tanggung-tanggung. Setidaknya, aku akan dianggap sebagai seorang waras yang mengerti banyak hal dan banyak orang. Sejauh yang aku tahu, mereka selalu mengabarkan kekaguman mereka atasku pada siapa pun, meski aku juga tahu, mereka terlalu berhati-hati. Artinya, cerita baik itu bukan karena aku benar-benar baik, tapi lantaran mereka tak ingin menyakitiku. Jelas aku juga bertingkah serupa, sekuatku. Aku mengagumi mereka, sebanding dengan semua pembenaranku atas perilaku mereka. Termasuk saat semuanya memilih untuk meninggalkanku. Klasik!!

Dulu, aku selalu menomorduakan gaya hidup. Dedikasilah yang pertama. Aku tak akan rela keluar banyak uang untuk prestise, hingga orang-orang mengira bahwa aku punya kualifikasi ekstra di atas mereka. Termasuk bahwa aku tak ingin dianggap berbeda, bila kemudian membelanjakan banyak uangku untuk membeli buku. Aku juga tak melegal-gampangkan nonton film di bioskop, hanya karena menurutku, tak baik mengamini kecenderungan hedon. Bukan berarti aku tak suka menonton film. Aku ingin memaksa diriku untuk tak segampang itu mengikuti insting keinginanku. Yang parah, hingga kini, aku tak pernah punya selera khusus atas pakaian, baju, atau cara menikmati hidup.

Dulu dan sekarang. Mengapa aku menjadi sangat antusias untuk membenturkan hari-hariku yang telah lewat, dengan hari-hariku kini? Seorang kawan yang pernah menemani hari-hari sulitku sering menjejalkan kekhawatiran menukik, bahwa semestinya aku tak membanding-bandingkan zaman, hanya karena hari ini terasa lebih sulit. Tentu tak baik, begitu katanya.

Benar, aku tidak sedang membanding-bandingkan masa lalu dan kini hanya untuk memilih siapa pemenangnya. Aku hanya ingin kritis pada diriku sendiri, dan berharap tidak tengah bersemangat mendudukkan cara pandangku dengan ukuran baru yang cenderung permisif. Sebab, itu oportunis. Tujuan menghalalkan cara, kata Macchiavelli. Ahistoris karena ingin mengulang zaman yang telah lewat di zaman ini. Karen Armstrong bilang, itu penyebab fundamentalisme.

Makna semua ini juga bukan tuntutan. Karena setahuku, hubungan yang baik adalah hubungan yang berprinsip, memberikan semua hal terbaik; bukan malah sebaliknya. Bila aku masih saja menginginkan banyak hal dari siapa pun, berarti aku tidak pernah belajar dari kesalahanku di masa lalu. Ya, aku belum siap berhubungan.

Bila pun pada kenyataannya aku sangat merindukan semua perbandingan itu untuk melengkapi jiwaku pada hari ini, artinya kadar kemanusiaanku masih ingin dimaklumi. Perilaku bermanusia berkategori ‘meratap’. Betapa aku masih sangat mencintai dunia. Bahwa aku tak ingin dikalahkan. Bahwa aku takut mati, sekaligus takut hidup. Sebab, hingga kini, aku masih saja ingin dimiliki… seutuhnya.

Senin, 13 April 2009

Laugh


Ternyata canggung juga mengutarakan banyak hal manis di kepalaku. Rasanya, kadar kemaskulinanku menurun drastis. Meski sebenarnya aku tergila-gila pada lawakan, untuk menjalani hari dengan paradoksi-paradoksi lucu itu, aku tak mampu. Benar, tertawa adalah pembalikan realitas atas sesuatu yang bisa jadi tak mungkin sebagai sarana menetralisasi kekurangan diri dan ketidakpuasan. Dengan tertawa, meski sementara, jalan terang untuk menyelesaikan persoalan akan lebih terbaca dengan jelas.

Umumnya, aku memang bercanda, tapi tak kurang dari cooling down-nya Kennedy sewaktu di bawah tekanan Pentagon. Ketika itu, Kennedy tengah berseteru dengan mereka perkara Krisis AS-Kuba yang akan memicu terjadinya perang dunia ke-3. Bagi Kennedy, tawaran Pentagon untuk menggelar invasi ke Kuba terlalu terburu-buru.

“Tuan Presiden, AS dalam bahaya. Kalau Anda tak segera bertindak, banyak orang AS akan mati. Tidak tahukah Anda bahwa Anda tengah terjepit?” Jenderal Le May, Kasau AS, bertanya dengan nada memaksa.

Gertakan ini bukan hanya tak enak didengar, tapi juga inkonstitusional. Semua tahu, Presiden adalah pemilik otoritas negara atas kebijakan perang. Dalam sistem presidensiil, ia adalah komandan tertinggi armada perang, di atas semua mesin tempur yang ada. Walau berstatus warga sipil, ia memiliki kewenangan untuk mengendalikan alat pembunuh massal milik AS yang sangat ditakuti dunia itu.

Dan Kennedy pun tersenyum. Ia pandangi wajah Jenderal yang baru saja mengancamnya. Tak ada tatap tajam kemarahan. Tak ada alis tinggi kegerahan. Tak ada bentakan keras kekecewaan. Tak ada mimik ketus peng-
under estimate-an. Sebaris kalimat penting menyelesaikan semuanya. “Apakah kau tidak sadar bahwa kau terjepit bersamaku.”

Simpel bukan? Bahkan Kennedy tidak sempat berpikir untuk memecat Jenderal Le May, walau sebenarnya ia bisa. Bahkan Kennedy tidak merasa perlu untuk menuntutnya, meski sebenarnya ia berhak. Bahkan Kennedy tidak ingin mengurangi rasa hormatnya, walau sebenarnya ia sangat pantas melakukannya.

Itu baru Kennedy, salah satu orang baik di ‘Negeri Pembunuh’ seperti AS. Bagaimana dengan Rasulullah Saw.?

Seorang nenek-nenek pernah bertanya kepada beliau, “Rasul apakah orang sepertiku akan masuk surga?”


Dengan tersenyum, Rasul menjawab, “Manusia seperti nenek, tidak akan masuk surga.”


Terang saja si nenek hancur hatinya. Ia merasa, semua ibadahnya selama ini menjadi tidak berguna. Perkataan ini bahkan keluar dari Nabi Allah, yang jelas terjaga kesahihannya. Sang nenek menangis tersedu-sedu.

Rasul pun kembali angkat bicara, “Nek, di surga kelak, semua orang akan sama. Di sana, mereka tidak muda juga tidak tua. Jadi, kalau nenek masuk surga, tidak dalam kondisi seperti ini.”


Si nenek kemudian lega.

Coba lihat, Rasul tidak serta-merta menjawab apa yang dimaui si nenek. Rasul jelas mengajarkan kepada umatnya bahwa ada cara yang lebih ningrat untuk berkelakar. Ia tidak hanya contoh yang baik dalam berkemanusiaan, tapi juga teladan yang berdedikasi untuk mengajarkan nilai, pun pada saat tertawa; pun pada seorang nenek.


Begitulah. Sepertinya, aku memang tak pandai melawak. Aku juga tak percaya diri dapat menyenangkan hati orang, turut menyelesaikan persoalan orang, untuk mengentaskan kesedihan orang, atau menjadi contoh yang baik dalam kesenangan. Bagiku, aku hanya ingin ekspresif, tanpa perlu untuk berpura-pura bahwa aku ingin dianggap pandai menghibur orang. Sederhana saja, aku juga sangat membutuhkan itu, bahkan mungkin, lebih dari yang dipikir dan dimaui orang lain.

Tapi, untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, kalimat Kennedy yang lain menjadi penting. Ia mengatakan, “Meninggalkan pendapat sendiri ada amoralnya. Kita semua di sini karena merasa bahwa kita lebih mampu dari orang lain.”

Bukan tengah berbangga diri, tapi untuk melakukan hal terbaik memang harus terlebih dahulu meyakininya.
Di luar batas apa pun, aku hanya ingin menjadi yang terbaik. Misalnya, saat aku menjelaskan bahwa mengasihi itu bukan perkara sulit. Misalnya, saat aku mengaku bahwa aku membutuhkan kasih itu. Misalnya, aku perlu mendudukkan keduanya pada konteks yang tepat. Ya, kapan aku mengasihi, kapan aku dikasihi, dan kapan aku menjalani keduanya.

Satu lagi, percaya adalah hal penting.