<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440</id><updated>2011-08-01T17:52:50.054-07:00</updated><title type='text'>BelajarHidupBersama</title><subtitle type='html'>BELAJAR HIDUP BERSAMA
Indonesia yang lebih baik itu ada</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-1956727016562706343</id><published>2010-08-31T09:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T09:07:57.828-07:00</updated><title type='text'>Think Tank Top</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0oOoWo4WI/AAAAAAAAAGc/ZXV5VILcNqQ/s1600/mc911%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0oOoWo4WI/AAAAAAAAAGc/ZXV5VILcNqQ/s320/mc911%5B1%5D.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511605750787006818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Betapa banyak upaya yang dilakukan koloni-koloni bisnis dunia untuk ‘mengatur’ loyalitas konsumennya. Hingga di batas tertentu, kebutuhan akan berubah menjadi kesepakatan tanpa syarat antara modal dan konsumen. Bayangkan, banyak orang yang rela merogoh koceknya untuk membabat habis semua produk Harry Potter. Atau, berbangga ria dengan simbol-simbol besar seperti Coca Cola, Nike, Mc Donald, Walt Disney di seluruh aktivitas mereka tanpa dibayar sepeser pun. Ya, iklan gratisan. Dan asal tahu saja, semua itu dilakukan dengan ikhlas, tanpa tuntutan apa pun. Maka wajar kalau kemudian, di Wonogiri, banyak kita jumpai pribumi-pribumi millenium yang tiba-tiba sangat meminati pola-pola ‘bule kota’. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam spektrum global, penetrasi modal dilakukan di seluruh ranah sosial, mulai dari kebutuhan pokok hingga ke isu pokok. Imperium global ini bahkan dilakukan berdarah-darah. Tilik saja kasus-kasus perebutan legitimasi seperti kasus Freeport, Exxon, atau Indosat. Atau hengkangnya raksasa elektronik Sony yang meninggalkan ribuan korban PHK dan bisnis-bisnis tersier yang berkaitan erat dengannya. Atau, banjirnya dana-dana sosial yang masuk ke kantong-kantong LSM. Belum lagi, bisnis senjata dan alat perang yang juga menggiurkan, transaksi minyak lepas pantai yang full kolusi, atau ... SBY yang memohon pada KADIN AS untuk investasi.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tak semua segampang di atas kertas. Realitas yang dibangun media tak selengkap dan tak sedetail di lapangan. Robert Heffner dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam Pasar Keadilan&lt;/span&gt; terbitan LkiS Yogyakarta merunut publik Indonesia yang ternyata tak benar-benar memahami demokrasi atau globalisasi. Ia kaget kalau Samuel Huntington harus men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;judge &lt;/span&gt;bahwa Islam dan Barat akan berseteru. Ya, Huntington terburu-buru untuk menyatakan bahwa sejarah akan segera berakhir dan demokrasi adalah pemenangnya. Karena, homogenisasi adalah kesalahan fatal dalam mentransformasikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mind share&lt;/span&gt; (ide-ide tentang penguasaan pasar) tertentu. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh berbeda, bila tema yang dipersoalkan adalah liberalisasi baru modal dalam area global sekarang ini. Tentunya, tak semudah menyamakan persepsi tentang cara makan steak yang benar. Tentunya, tak semudah membuat tren tentang kerennya tank top hingga ke dusun-dusun terpencil di Gunung Kidul. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik modal berharap bahwa loyalitas adalah produk penting dalam menguasai pasar. Selain standar&lt;span style="font-style: italic;"&gt; heart share &lt;/span&gt;(membuat konsumen merasa nyaman dengan kepedulian), mereka juga mendesain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ideology share&lt;/span&gt; (membuat konsumen merasa loyal atas nama kebenaran). Namun, pola ini malahan membuat citra baru tentang homogenisasi pola yang membuahkan kebijakan memaksa, otoriter, dan menganggap komunitasnya sebagai yang terbaik. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Jihad  dan Mc World&lt;/span&gt; karya Benjamin R. Barber terbitan Pustaka Promethea Surabaya menjelaskan banyak hal tentang fundamentalisme baru ini. Menurutnya, dunia telah dipenuhi dengan janji-janji idealitas yang berbuntut pada pemaksaan kehendak, bahkan mengeksekusi banyak kepentingan lokal untuk digulung bersama sentralisasi harga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;Jadi, niatan Barat dan AS untuk menjadi raksasa modal sebenarnya bukan perkara nilai (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;value&lt;/span&gt;) tentang keseimbangan dunia. Pemikiran dan terobosan ide yang didukung propaganda gila-gilaan hanya berefek pada segelintir komunitas di tanah air. Artinya, pada praktiknya, tak semuanya bisa diatur sentral. Dan ... yang pasti, mereka hanya bersemangat untuk mencari klaim pemikir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;think tank&lt;/span&gt;); bukan benar-benar pemikir. Sebab, mereka, tidak lebih, hanya bisa berjualan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tank top&lt;/span&gt;. Ya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;think tank top&lt;/span&gt;. Sempurna, kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;br /&gt;Sederhana saja, tentunya kita tak perlu berdebat tentang kemiskinan yang telah menggurita sebagai buah akumulasi modal atau berkuasanya konsumerisme. Adalah paradoks bila ribuan mall nangkring, sementara area kumuh tak pernah benar-benar digarap; kalau ternyata stok anak-anak putus sekolah yang mencapai jutaan. Nah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Solo, 20 April 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-1956727016562706343?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/1956727016562706343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=1956727016562706343' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1956727016562706343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1956727016562706343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/think-tank-top.html' title='Think Tank Top'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0oOoWo4WI/AAAAAAAAAGc/ZXV5VILcNqQ/s72-c/mc911%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6850494558724795103</id><published>2010-08-31T08:52:00.001-07:00</published><updated>2010-08-31T08:58:48.795-07:00</updated><title type='text'>Hitam</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0mDiZw9hI/AAAAAAAAAGU/w-PVdrISd2g/s1600/Radha_DSC3305-Graffiti+black+mask_LR.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0mDiZw9hI/AAAAAAAAAGU/w-PVdrISd2g/s320/Radha_DSC3305-Graffiti+black+mask_LR.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511603361187690002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h1 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 1 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-font-kerning:0pt;} h2 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 2 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-weight:normal;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.Heading1Char 	{mso-style-name:"Heading 1 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 1"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Garamond; 	font-weight:bold;} span.Heading2Char 	{mso-style-name:"Heading 2 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 2"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Garamond; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} span.BodyTextChar 	{mso-style-name:"Body Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Garamond;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku pernah bercerita pada seorang kawan tentang &lt;i style=""&gt;screening&lt;/i&gt; LK 1 HMI yang berbeda dari biasanya. Waktu itu, aku berhadapan dengan calon peserta yang mualaf. Ketika memilih untuk menjadi Muslimah, ia tak didukung oleh semua anggota keluarganya. Dia juga berniat belajar Islam serius di sini. Ia tak cukup alasan, mengapa harus komunitas ini yang ia pilih. Ia hanya diajak teman, dan ia beranggapan, bahwa ini mungkin pilihan yang tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku sempat bertanya padanya tentang siapa yang mengajarinya ilmu keislaman selama ini. Katanya, kakak-kakak mentor di fakultaslah yang rajin mengawalnya memahami Islam. Aku dan kawanku langsung menjura dan bertepuk tangan, “Hebat… hebat.” Kompak kita bilang, kalau kakak-kakak mentor itu berjasa besar pada Islam, dan itu riil, tak lagi konseptual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sejak itu, setiap kali berpapasan sama cewe kerudung besar yang naik sepeda berkeranjang, kita pasti menyapanya dengan muka semanis mungkin, “Halo kakak mentor….” Dalam hati yang paling dalam, sepertinya, aku dan temanku memang simpati berat pada mereka, tanpa perlu sangkalan berarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Agak mirip, suatu ketika, seorang kawan pernah berkirim tulisan padaku tentang hidayah, “Seandainya teman dekat kita punya ‘dunia hitam’, trus orangnya superkeras hatinya alias susah diomongin, apa yang bisa kita lakukan untuk menolongnya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika itu pula, bergegas, aku jawab dengan sangat bersemangat. Rasanya, aku sedang mirip kakak-kakak mentor yang sedang parkir sepeda keranjang, eh… maksudku, transformasi nilai-nilai keagamaan tanpa tendensi pribadi. Mereka sangat bahagia bila ilmu agama yang mereka yakini bisa disampaikan kepada orang lain, meski kadang agak susah. Ya, butuh kesabaran ekstra dan kerendahan hati yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku mulai berkhotbah. Pertama, &lt;i style=""&gt;in depth version&lt;/i&gt;. Pada awalnya, perlu diperkarakan tentang ‘hitam’. Bagi ilmuwan, warna hitam diasosiasikan sebagai ilmu. Makanya, tinta hitam adalah sarana untuk menegaskan bahwa hitam sarat dengan kesan kepintaran dan kedalaman pikir. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagi agamawan, hitam dipersepsikan sebagai keseimbangan dunia. Andai tak ada hitam, mungkin putih tak akan beridentitas. (Ingat iklan &lt;i style=""&gt;no black no game&lt;/i&gt;?) Walau Rasulullah berkulit putih, hajar aswad atau Kakbah berwarna hitam. Bilal bin Rabah yang hitam pernah dibaiat sebagai gubernur ketika terjadi kekosongan kepemimpinan di Madinah. Meski bertubuh gelap-kelam, menurut para sahabat, ia adalah manusia berhati putih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sisi lain, bagi kaum &lt;i style=""&gt;moralis karbitan&lt;/i&gt;, hitam dianggap sebagai simbol keburukan dan keangkaramurkaan. Hitam diidentikkan dengan hal-hal kotor, jorok, dan menjijikkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"  style="text-indent: 0.5in;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Entah…. Barangkali, filosofi warna memang bukan perkara mudah. Putih lebih dipilih lantaran semburat kilau cahayanya yang lebih dominan, atau mungkin ia dominan karena kesan suci verbal dengan penisbahan hitam yang identik dengan kekasaran dan hal-hal yang kasar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atau … sebenarnya, ini hanya persoalan sentimen ‘keindahan bikinan’, yaitu keindahan yang direka-reka untuk menegaskan dominasi kelompok tertentu. Artinya, ‘dunia hitam’ bukan karsa yang tiba-tiba ada. Ada penilaian yang terburu-buru tentang ketaatan seseorang pada hukum tertentu tanpa menelaah klausulnya. Ia hitam karena benar-benar hitam, atau hitam lantaran ‘dihitamkan’, atau sedang ‘menghitamkan’ diri, atau bahkan sebenarnya, hanya tampak ‘kehitam-hitaman’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seseorang tidak akan menikmati perilaku tertentu tanpa adanya penciptaan atau rekayasa pola. Setidaknya, kita tahu kalau perilaku itu memang sengaja dilakukan; pun dengan sadar dan tanpa keberatan yang berarti. Ya, ia bersebab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selanjutnya, parameter atau indikator penilaian tentang hitam harus dikriteriakan. Ia hitam karena memilih untuk berperilaku hitam. Atau, ia hitam karena dinilai orang sebagai hitam. Atau, ia hanya berpura-pura hitam. Atau, semua itu salah. Ya, sebenarnya ia hanya kelihatan hitam; tak benar-benar hitam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terakhir, nurani paling tahu jawabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;Kedua, &lt;i style=""&gt;practice version&lt;/i&gt;. Pertama, sayangi dia apa adanya, tanpa ada kesan kuat kalau dia sedang bersalah. Sebab, tidak ada yang abadi di dunia ini. Artinya, pendosa tidak selamanya menjadi pendosa. Kedua, beri contoh berperilaku baik yang layak tiru, menenangkan, dan logis-berguna. Ketiga, kita tidak sedang menolongnya, tapi menyampaikan hal yang baik menurut kita. Terakhir, berdoa agar dia kebanjiran hidayah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;Aku kutip juga telaah Blog Ghufron. Web log tempat curhat aktivis tarbiyah seantero Indonesia ini sering membahas pernik-pernik muda di kalangan ikhwan-akhawat yang mendamba keselarasan materi dan ukhrawi, kebersamaan &lt;i style=""&gt;syar’i&lt;/i&gt; dan dinamika masyarakat, juga gaul dengan tetap ingat pada jalur-jalur Allah.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h1  style="margin-left: 0.5in; text-align: center;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h2  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;Solo, 13 Oktober 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6850494558724795103?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6850494558724795103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6850494558724795103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6850494558724795103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6850494558724795103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/hitam.html' title='Hitam'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0mDiZw9hI/AAAAAAAAAGU/w-PVdrISd2g/s72-c/Radha_DSC3305-Graffiti+black+mask_LR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-5151331002947524631</id><published>2010-08-31T08:44:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T08:50:36.251-07:00</updated><title type='text'>Pragmatisme-Religius</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0kluF1fZI/AAAAAAAAAGM/KyGzXeRNQ_4/s1600/martina_mcbride.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 298px; height: 305px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0kluF1fZI/AAAAAAAAAGM/KyGzXeRNQ_4/s320/martina_mcbride.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511601749417622930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;All of my life&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;I have been waiting for all you give to me&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Open my eyes and show me how to learn….&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heh, aku tersungging. Belakangan, kuping dan otakku dipenuhi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;My Valentine&lt;/span&gt;-nya Jim Brickman featuring Martina McBride. Meski sudah berdasa-dasawarsa umurnya, lagu itu masih sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft &lt;/span&gt;untuk dikenang, difanatiki, dan mungkin, disesali. Aku tidak sedang kehilangan sesuatu, atau mungkin, merindukan sesuatu. Aku seperti sepakat untuk membuka persepsiku atas realitas yang aku jalani sekarang dengan konstruksi realitas ketika lagu ini dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, Hegel hampir saja salah. Aku bisa rasakan kalau sejarah itu bisa terulang kembali, bukan terus-menerus dinamis. Aku terpaku pada keinginanku atas masa lalu yang sepertinya memang penting untuk diulang… persis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, lagu ini sederhana. Ia bercerita tentang kesungguhan, pemberian, pengertian, dan yang pasti, pengorbanan. Belajar mengerti, belajar memaknai pemberian, menyimpulkan bahwa kasih adalah nilai suci untuk dirasakan, dipikirkan, dan dibagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pilihan limit yang lantas lahir. Ya, apa pun yang terjadi, bagaimana pun, biar pun, atau ngga’ peduli tiba-tiba saja mengeras kuat. Ekspresi rigid yang mewakili keyakinan meski sedikit nekad. Ada ruang untuk mendeklarasikan kebebasan memilih sebelum “intervensi kondisi” berpengaruh kuat. Ada kesempatan untuk mendengarkan hati nurani sebelum waktu yang “seperti” tak bisa dilawan. Karena, andai kesempatan itu tak ada, Hegel memang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If there is no way&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;No way to stay ….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pfuh… garansi banget ngga’ sih? Tapi bukan begitu. Tak ada pemisahan antara eksistensi dan esensi. Bila kita lantas “menuhankan” kekuatan matrial, adalah karena sulitnya memisahkan eksistensi Tuhan dalam bentuknya yang matrial. Sebab, Tuhan memang bukan matrial. Namun, eksistensi Tuhan ada dalam semua hal matrial. Semisal, ada penyandaran yang berlebihan kepada sesuatu, bukan lantaran sandaran itu Tuhan, tapi sandaran itu adalah persepsi yang kita buat untuk menemukan Tuhan. Trus, juga bukan perantara, karena untuk menuju Tuhan tak perlu perantara, hanya butuh metode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan kriteria tentang manifestasi kodrat. Ini bukan hal yang gampang dimengerti tapi sering dinikmati. Namun, tak senaif itu. Kita sepakati bahwa memang ada ruang pilihan yang tak perlu pembahasan cukup,  karena memang kodrat. Baru selanjutnya, kita kriteriakan semuanya untuk verifikasi keabsahan keyakinan. Ya, menyusun persepsi atas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku, menerjemahkan 'awal' lebih gampang ketimbang harus mengaplikasikan konsekuensi 'awal' itu dengan menjadikannya proses yang definitif. Semisal, tanpa kesulitan yang berarti manusia akan berkecenderungan untuk meyakini bahwa 'awal' memang ada. Manusia adalah makhluk percaya. Ia, secara hakikat, menyadari keberadaan sandaran yang terang-terang sangat bisa dimengerti. Sebab, 'awal' itu memang 'ada'. Ia adalah Tuhan. Cuman, kalo lantas kita dituntut untuk melanjutkannya dengan menyusun kriteria penjelas tentang konsekuensi 'ada', kompleksitas pikirnya akan semakin terasa. Sebab, mematrialkan 'ada' dalam aktivitas butuh perantara serius yang mensyaratkan kriteria khusus pula. Maka wajar, kalo Tuhan juga menisbahkan rasul dalam mentransformasikan ajaran nash suci ini ke realitas yang lebih kontekstual. Selain itu, butuh pemahaman rigid tentang dinamisasi nilai itu dalam kerangka fluktuatif. Maksudnya, di satu sisi, kita meyakini kebenaran yang sampai kapan pun tak akan terdefinisikan sempurna, sementara di sisi lain, kita dituntut pula untuk menyusun keyakinan tentang kebenaran menurut persepsi kita. Sebuah pertanggungjawaban tentang keyakinan yang sulit. Bagaimana mungkin kita akan memilih kebenaran, sedangkan kebenaran itu tidak akan pernah kita gapai; sedangkan kebenaran itu masih selalu ada pada titik dinamis; ya, masih berproses? Kita harus memilih, meski kita yakin bahwa itu tak akan pernah bisa selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, aku maklum, kalo lantas mempertahankan dan melanjutkan itu lebih sulit ketimbang meyakini sesuatu. Semisal, memprakarsai atau mendeklarasikan komitmen (baik itu komitmen kepada agama, keluarga, atau yang lain) adalah hal yang gampang, sedang menerjemahkan itu dalam berbagai kontekslah yang tidak gampang. Kita harus meyakini bahwa komitmen itu mahal—bila terlalu jauh dibilang suci—dan harus dipertahankan sedang kita sendiri ragu kalo ternyata, persepsi tentang komitmen itu tak pernah selesai. Setia itu harus, cuman kalo harus menghubungkannya dengan perilaku yang mencerminkan kesetiaan, ternyata masih perlu banyak pendekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen sebagai kekuatan suci adalah keniscayaan. Hanya saja, menerjemahkan komitmen dalam kerangka nyata dinamislah yang susah. Makanya, aku samakan itu dengan dinamitas pikir kita tentang runutan kebenaran. Ya, berproses 'menuju' kesempurnaan. Memperbarui persepsi itu setiap saat, tanpa menyangkal bahwa nash itu suci. Begitu pula komitmen, ia sangatlah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pragmatisme adalah cara pandang yang beranggapan, bahwa semua hal itu dinilai atas dasar kegunaan (manfaat). Sedang religius merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Jadi, pragmatisme religius menjawab persoalan-persoalan seputar pemisahan dunia dan akhirat. Artinya, agama adalah inspirasi manfaat dan kemanfaatan adalah nilai yang ditawarkan agama. Bila dua hal ini dipisahkan, berarti ada pijakan baru tentang manfaat dan agama yang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara riil, manusia membutuhkan sandaran dalam mengagendakan kemanfaatan di dunia. Sandaran itu tak bisa ditawar dengan apa pun alias absolut. Nah, manusia juga perlu untuk mewujudkan manfaat dengan didasarkan pada sandaran tersebut agar kekal, tidak membosankan, sementara atau gampang ditebak. Berarti agama dan manfaat itu selaras. Sederhana kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (Ibrahim: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I will give you my heart…&lt;br /&gt;Until the end of time… &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;You’re all I need…&lt;br /&gt;My love…&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;My Valentine…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 12 Mei 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-5151331002947524631?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/5151331002947524631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=5151331002947524631' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5151331002947524631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5151331002947524631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/pragmatisme-religius.html' title='Pragmatisme-Religius'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0kluF1fZI/AAAAAAAAAGM/KyGzXeRNQ_4/s72-c/martina_mcbride.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-12139960240401268</id><published>2010-08-31T08:30:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T08:43:18.907-07:00</updated><title type='text'>Perfect</title><content type='html'>&lt;a style="font-family: georgia;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0in5mK-VI/AAAAAAAAAGE/951oNHFwvFE/s1600/imperfect.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 233px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0in5mK-VI/AAAAAAAAAGE/951oNHFwvFE/s320/imperfect.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511599587842521426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h1 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 1 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-font-kerning:0pt; 	mso-bidi-font-weight:normal;} h2 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 2 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:2; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	font-weight:normal; 	font-style:italic; 	mso-bidi-font-style:normal;} p.MsoBodyTextIndent, li.MsoBodyTextIndent, div.MsoBodyTextIndent 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text Indent Char"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:.5in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-style:italic;} p.MsoBodyTextIndent2, li.MsoBodyTextIndent2, div.MsoBodyTextIndent2 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Body Text Indent 2 Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	text-indent:.5in; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} span.Heading1Char 	{mso-style-name:"Heading 1 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 1"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-hansi-font-family:Garamond; 	font-weight:bold; 	mso-bidi-font-weight:normal;} span.Heading2Char 	{mso-style-name:"Heading 2 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 2"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-hansi-font-family:Garamond; 	font-style:italic; 	mso-bidi-font-style:normal;} span.BodyTextIndentChar 	{mso-style-name:"Body Text Indent Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text Indent"; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-hansi-font-family:Garamond; 	mso-bidi-font-style:italic;} span.BodyTextIndent2Char 	{mso-style-name:"Body Text Indent 2 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text Indent 2"; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-family:"Garamond","serif"; 	mso-ascii-font-family:Garamond; 	mso-hansi-font-family:Garamond;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:595.35pt 842.0pt; 	margin:1.0in 89.85pt 1.0in 89.85pt; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:georgia;font-size:11pt;"  &gt;Semua orang mendamba kesempurnaan. Kesempurnaan yang bermakna kebenaran, kesempurnaan sebagai cita-cita makhluk beriman, kesempurnaan untuk garansi keabadian, atau kesempurnaan atas kesan sesama makhluk; biar tampak sempurna. Ya, binatang pun akan merasa nyaman bersama tuannya yang penyayang. Ia menangkap kesan kuat bahwa tuannya sedang menawarkan kesempurnaan yang tidak dia miliki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Realitas tentang kesempurnaan dapat dibangun dengan kesan dan pencitraan. Tapi, bukan berarti kita harus berdiri di atas menara gading dengan menawarkan sejuta garansi kesempurnaan kepada semua orang. Kita tak perlu bersusah-susah menjadi sosok yang &lt;i style=""&gt;untouchable&lt;/i&gt;. Bukan juga membaiat diri menjadi figur yang sangat didamba khalayak. Bahaya… ketergantungan hanya akan menyisihkan kesadaran massa. Publik akan berharap pada kita, sedang sebenarnya, kita tidak sempurna. Ya, kita hanya piranti. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Superioritas hanya akan menepis persepsi bahwa Allah Mahaadil. Sebab, realitas tentang kesempurnaan ini hanya akan memancing persepsi, bukan hakikat. Sebab, realitas tentang kesempurnaan harus dapat ditemukan oleh setiap orang bersama petunjuk Allah Swt. Andai manusia tak diberi peluang untuk meraih kesempurnaan atas dirinya sendiri, banyak orang akan merasakan ketidakadilan takdir. Apalagi, untuk itu, ia telah berharap pada sesama makhluk. Karena, kita hanya bekerja sama. Dan tentu saja, ini tidak masuk akal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoBodyTextIndent2"&gt;Kita hanya perlu dedikasi. Bahwa pengabdian pada semua hal yang benar adalah pilihan. Tentunya, dengan ukuran kemampuan yang kita punya. Jika memang ada di jalan benar, tidak ada yang perlu kita bedakan atas nama apa pun. Ya, privasi atau tuntutan untuk menjadi spesial memang hanya untuk Allah. Bahkan, bagi orang terdekat kita pun, realitas tentang kesempurnaan perlu untuk dibangun. Kita tak boleh tampak lemah, sebab manusia adalah makhluk yang lemah merupakan keniscayaan. Jadi, keniscayaan bahwa kita yang lemah tak perlu dijadikan alasan kunci untuk membunuh pengakuan publik akan ketidakmampuan kita. Kita tak pantas mengeluh, karena oleh Al-Quran, manusia dinyatakan sebagai makhluk yang suka mengeluh. Kita harus sedikit sungkan untuk blak-blakan pada orang lain menyoal kekurangan kita; bukan untuk sesama makhluk—terutama manusia—akan tetapi untuk Allah. Sebab, Allah menganugerahi kita, realitas tentang kesempurnaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Ini reputasi keimanan. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, karena kita yakin bahwa Allahlah tempat kembali, semua kerapuhan kita hanya pantas disandarkan pada-Nya, bukan pada sesama manusia, atau makhluk lain yang lebih rendah derajatnya. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, karena kita yakin bahwa Allah bersama kita, kita tak terlalu membutuhkan pengakuan. Kita hanya perlu berbuat yang terbaik untuk-Nya. Jangan keseringan mewajarkan diri, bahwa manusia memang butuh diakui. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, karena semua akan sirna, &lt;i style=""&gt;nothing to lose&lt;/i&gt; &lt;i&gt;aja&lt;/i&gt;. Tak ada yang lebih penting dari pencapaian akal kita akan hikmah di balik semua hal. Ya, kita tak akan menyesal atas apa pun. Karena, semua pasti bermanfaat; tak ada yang sia-sia di muka bumi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Meski kadang pula, kita harus akui, semua orang butuh kenangan terbaik untuk membawa eksistensi dirinya pada kehidupan yang dramatis. Sebab, manusia akan memiliki spirit kehidupan yang tinggi bila semua hal tampak menakjubkan; tidak biasa-biasa saja. Dan semua orang akan mati-matian untuk menciptakan momen fenomenal itu. Hingga akhirnya, semua memang layak untuk dikenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Dan… kalau pun kita tak ‘seingin’ publik, kita akan tetap punya kemisteriusan yang serius. Ia adalah Allah. Maksudnya, andai kita tak sehebat yang diharapkan khalayak dan kita bukan ‘pemenang’ versi publik, kita tetap memiliki reputasi keimanan yang membuat kita tenang. Karena, sekali lagi, kita punya realitas tentang kesempurnaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;Bahkan pun, andai saat ini… kita harus mati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Tidaklah kalian menunggu kecuali kekayaan yang menjadikan durhaka (melampaui batas), kemiskinan yang membuatmu lupa, sakit yang merusak, atau tua yang melemahkan, atau mati yang mendadak, atau Dajjal barang gaib yang ditunggu, atau hari Kiamat. Sesungguhnya Kiamat itu mengintai dan sangat dekat. (HR. Turmudzi dari haditsnya Abu Hurairah)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:11pt;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2  style="text-align: right; line-height: 150%;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-style: normal;font-size:11pt;" &gt;Solo, 23 Juni 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-12139960240401268?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/12139960240401268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=12139960240401268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/12139960240401268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/12139960240401268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/perfect.html' title='Perfect'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0in5mK-VI/AAAAAAAAAGE/951oNHFwvFE/s72-c/imperfect.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-4573580636976447087</id><published>2010-08-31T08:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T08:28:56.104-07:00</updated><title type='text'>Nilai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0fJb-elbI/AAAAAAAAAF8/omutDKQGUL8/s1600/mickey-min-vacation.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 276px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0fJb-elbI/AAAAAAAAAF8/omutDKQGUL8/s320/mickey-min-vacation.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511595765960447410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Aku butuh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;,” seloroh jutek kembali memenuhi telingaku.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho… berarti kerja dan senang itu dipisahin? Emang ngga bisa, kalau dijadiin satu. Kerja itu yang senang, trus pas senang kita juga ngerasa sedang kerja.”&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog yang tak utuh. Butuh banyak waktu untuk membedah pemisahan antara pekerjaan dan kesenangan; duniawi dan ukhrawi; hakikat dan verbal. Aku tahu, ini pekerjaan sulit. Apalagi kalau bukan menjelaskan apa-apa dengan kaffah (menurutku). Sedangkan, aku juga tahu persis, bahwa aku juga butuh lisensi kaffah. Berarti, sama-sama pengin kaffah. Tapi, di sisi lain, aku juga harus berani berpersepsi. Semoga Allah mengampuniku andai khilaf.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini….&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari interest, manusia akan berupaya untuk mencari kepuasan hidup. Selain dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk survive, manusia cenderung ingin diakui keeksisannya. Selanjutnya, dua motif ini membentuk pola pikir dan tujuan manusia. Pada kenyataannya, semua cara pun ditempuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Selanjutnya, dari ketundukan manusia pada tradisi, keyakinan temporal, hingga ke kepercayaan hakiki, akhirnya, manusia memiliki tipikal bermacam-macam. Mereka mengekspresikan semua itu dalam perilaku yang menurut mereka, harus dipertahankan sebagai sebuah kebenaran.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum materialis yakin, semua hal harus ada manfaatnya, tidak peduli dari mana datangnya. Artinya, apa pun karya atau produk yang ada, asalkan bisa mendatangkan manfaat, pasti dianggap sebagai kebenaran. Lebih-lebih, bila dapat dibuktikan kasat mata, bisa dikira-kira, dan yang jelas menguntungkan. Mereka sangat menyukai kuantifikasi, kalkulasi, dan asas manfaat, sedangkan produk mereka adalah teknologi, sains, dan modernisasi. Tentu, ini klaim sepihak.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, kaum idealis mengagungkan pemahaman mereka tentang keseimbangan dunia, kebahagiaan, ide, keadilan, kenyamanan dalam bingkai kemanusiaan. Mereka selalu berbicara tentang idealitas, yakni bagaimana seharusnya sesuatu terjadi. Ada kalanya, kaum ini sangat mendamba dan meyakini sesuatu yang terang-terang tidak tampak. Mereka menganggapnya sebagai realitas nonmateri yang bisa dikriteriakan dalam persepsi tapi tidak dalam bentuk tiga dimensi yang dibatasi ruang, waktu, atau massa kebendaan. Kaum ini juga sangat bernafsu meyakinkan dunia tentang optimalnya cita-cita atas hal-hal material. Maksudnya, materi hanya sarana mencapai cita-cita, bukan cita-cita itu sendiri.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beriring kaum materialis dan idealis, terdapat koloni transenden. Barisan ini mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk ‘kegunaan’ dan ‘cita-cita’ abadi; Tuhan. Semua perilaku yang ada didasarkan pada literatur-literatur suci dan penghambaan terhadap kekuatan immaterial atas kepentingan material. Kaidah-kaidah yang ada pun dirunut kebenarannya bila mewakili perintah Tuhan. Apa pun selalu disandarkan pada ketentuan, atas nama Tuhan.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berbeda-beda, semua keyakinan tersebut pasti memiliki struktur. Pertama, bisa dipastikan bahwa ia memiliki tujuan hidup. Kedua, muncul ketentuan-ketentuan yang diyakini. Maksudnya, nilai-nilai yang dianggap sebagai rujukan. Ketiga, ada petunjuk aktivitas atau pola kerja. Ia biasa disebut syariat, hukum, atau ketentuan berbentuk mekanisme dan mekanisme. Keempat, variasi produk dan karya. Artinya, nilai memiliki bukti nyata yang dianggap sebagai representasi kebenarannya. Terakhir, ada logika kompensasi sebagai konsekuensi logis aksi. Di titik ini, semua keyakinan menawarkan banyak keuntungan baik langsung maupun tidak langsung; material maupun immaterial.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan, ada semacam pranata sebagai keniscayaan pola aktivitas. Setiap berhak atas nilai yang ia tafsirkan sendiri, dengan ketentuan yang ia pahami. Kalau pun harus ikut atau turut pada tafsir nilai orang atau kelompok tertentu, harus dengan pemahaman yang cukup pula, bukan taklid, apalagi menganggap semua nilai itu telah selesai.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagiku… itu penting.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 21 Oktober 2006&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-4573580636976447087?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/4573580636976447087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=4573580636976447087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4573580636976447087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4573580636976447087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/nilai.html' title='Nilai'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0fJb-elbI/AAAAAAAAAF8/omutDKQGUL8/s72-c/mickey-min-vacation.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-7792992403086146709</id><published>2010-08-31T08:06:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T08:15:35.561-07:00</updated><title type='text'>Mahasiswa Baru dan Tokek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0cZjhJCpI/AAAAAAAAAFs/t6Pgn79P0l8/s1600/geico-gecko.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0cZjhJCpI/AAAAAAAAAFs/t6Pgn79P0l8/s320/geico-gecko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511592744327907986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gedubrak !!! anak kecil itu jatuh tersandung barang berat. Selanjutnya, tangisnya terdengar pecah memenuhi rongga telinga seisi rumah. Tangisan yang wajar dan khas dari seorang anak kecil. Dan setelah beberapa saat kemudian dia pun terdiam. Tangisnya tak lagi mengharu biru. “Yah, besok kalau beli sepatu yang ada lampunya,” begitu pintanya pada sang ayah. Lucu dan unik bagi seorang Gedhe Prama, sang ayah. Namun, di beberapa waktu kemudian, berbagai merek sepatu meluncurkan model sepatu yang berlampu; tak peduli produk ekspor atau impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedhe Prama bukan tak berdasar waktu ide aneh itu lantas dikaitkan dengan tangisan buah hatinya akibat tersandung. Dia tahu betul, betapa ide sangatlah berarti berarti bila diolah dengan tepat dan cerdas. Produksi ide tak hanya lahir ketika gagasan para pakar beradu di pentas podium-podium ilmiah. Karya tak harus menggeliat sekadar oleh sang pemilik kaca mata tebal, “kutu buku”. Inovasi tak wajib lahir dari observasi yang rumit. Tapi ide mampu dipahami sebagai aliran darah layaknya orang mesti berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, dahulu tokek sangat disukai manusia sebagai pemberi tanda waktu yang konsisten dan dapat dipercayai. Hingga, pada suatu waktu tokek tak tepat waktu lagi akibat terlena akan fasilitas yang diberikan manusia. Mulai saat itulah tokek akhirnya dimusuhi manusia karena ketidakkonsistensiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu tokek tak yakin kalau suaranya bakal dipuja banyak orang mengingat dengan matahari atau bulan pun manusia telah tahu waktu. Dan sepertinya, tokek pun bukan pilihan yang benar-benar dibutuhkan. Hanya karena manusia telah terbiasa dengan kelakuannya, maka pola lazim akan kebiasaan pun terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentunya mahasiswa baru bukanlah tokek. Mahasiswa baru juga bukanlah anak kecil yang gampang menangis ketika tersandung sesuatu. Namun, asumsi feodal tentang mahasiswa baru adalah pemain baru memang telah mengakar tidak hanya bagi kakak tingkatnya. Tapi juga bagi orang yang “dianggap baru”, mahasiswa baru. Entah karena sistem strata pendidikan yang memisahkan elementary, junior, dan high school tak seperti di eropa. Namun, tak sekadar strata pendidikan. Persoalannya adalah justru pada pengaminan terhadap kekuatan sistem yang telah ada. Ya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taken for granted&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideolog-ideolog Iran mampu begitu tangguh dikarenakan mereka begitu paham akan nilai-nilai Islam, serius belajar filsafat dan sains modern, tidak pernah sepakat akan ideologi pendahulunya, dan selalu memposisikan barat sebagai komunitas yang harus selalu diawasi dan dipelajari. Seakan mitos tentang kekuatan ‘baru’ atau ‘muda’ sebagai pilar perubahan memang sudah sampai pada tahapan keyakinan. Soekarno pun adalah sosok yang selalu mendengung-dengungkan kekuatan pemuda di eranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan sekelas Jerry Rubin, tokoh pergerakan anti perang Vietnam Amrik yang tumbang di usianya yang masih muda akibat komitmennya tentang perjuangan dipertanyakan golongannya saat dia sudah mencium bau uang. Atau tentang sumpah pemuda, penculikan Rengas Dengklok, angkatan ‘66 waktu KAMI dan KAPPI unjuk idealismenya. Atau … ‘98 kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Baru’ bukan kriteria ingusan, kolokan, atau amatir. Namun, ia adalah warna baru dalam dinamisasi kondisi. Jadi, mahasiswa baru adalah sosok eksis yang tak seorang pun layak menjustifikasi ke-baru-annya. Bila ini tak dipahami sebagai azas berpartner atau sekadar dimunculkan lantaran ada tendensi pengakuan akan eksistensi pendahulunya, sistem kemanusiaan di persada ini telah bobrok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 16 Juli 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-7792992403086146709?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/7792992403086146709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=7792992403086146709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7792992403086146709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7792992403086146709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/mahasiswa-baru-dan-tokek.html' title='Mahasiswa Baru dan Tokek'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0cZjhJCpI/AAAAAAAAAFs/t6Pgn79P0l8/s72-c/geico-gecko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-5638113723598269494</id><published>2010-08-31T07:51:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T08:01:20.375-07:00</updated><title type='text'>Latah Maksum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0YyWmbAvI/AAAAAAAAAFk/hDjbSWuYgR4/s1600/2007-06-18-innocence+mission.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 288px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0YyWmbAvI/AAAAAAAAAFk/hDjbSWuYgR4/s320/2007-06-18-innocence+mission.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511588772310614770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Sederhana saja, aku tak terlalu nyaman dengan permisivitas, meski aku tahu, bahwa aku perlu moderat untuk menyambanginya. Yah, barangkali semua memang berdasar dan jelas klausulnya. Sebentar, kenapa aku lebih suka reaksioner, ketimbang menengarai preferensi yang mungkin belum terlacak. Nuranikah? Atau, aku sedang merasa tak dijumawakan. Tentunya, atas nama nilai. Atau, kesalehanku memang sekadar ‘perlu’ dipandang formalis. Sebagai simbol, tuntunan, dan sedikit anekdot yang mungkin agak kesufi-sufian agar tak tersentuh.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai tak berujung relatif. Benar, maksudnya, kriteria relatif muncul kan lantaran proporsi sosial yang dipakai. Sebab kalau personal, semua pasti absolut, meski jelas semuanya ada di titik dinamis. Benar juga, sekarang, aku sedang bicarakan kaidah sosial. Bagaimana aku melihat, bagaimana mereka mendengar, dan bagaimana kita perlu melihat dan mendengar, bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Artinya, apa pun harus berstandar resistensi nilai yang cukup. Semisal ada negoisasi, ya tak perlu susah-susah membicarakan, atau berjustifikasi, bahwa ini ‘privat’, sedang yang itu ‘publik’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Konsekuensi logis donk! Apalagi, publikasi hasrat memang hanya buah cerita yang tak perlu dipikirkan, hanya perlu didaku, bagaimana kalau kita atau aku bernasib demikian. Setidaknya, andai aku bekeinginan demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Ah sudahlah. Semua pasti baik-baik saja. Mekanisme alam ciptaan memang harus berantakan diagnosisnya. Tentunya, agar manusia memang tunduk atas supremasi nilai-nilai Tuhan. Ya, akhirnya, nash memang suci dan relevan bagi yang mau berpikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Nisbahku sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khalifatul fil Ardh&lt;/span&gt; ada lantaran ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;support&lt;/span&gt;, bahwa dunia memang sedang tak konsisten. Walaupun permisivitas pun berklausul jelas. Artinya, ia pun konsisten pada ketidakkonsistenannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Aku bersaksi bahwa Allah Tuhanku, selamanya! Semoga ia tak bosan memaafkanku, selamanya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Ya... selamanya untuk selamanya....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12pt;" &gt;Solo, 10 Juni 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-5638113723598269494?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/5638113723598269494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=5638113723598269494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5638113723598269494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5638113723598269494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/latah-maksum.html' title='Latah Maksum'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0YyWmbAvI/AAAAAAAAAFk/hDjbSWuYgR4/s72-c/2007-06-18-innocence+mission.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-759613629104678158</id><published>2010-08-31T07:46:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T07:50:52.376-07:00</updated><title type='text'>GUS DUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0WmZM_w-I/AAAAAAAAAFc/FfihpK54dcI/s1600/gus-dur1.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0WmZM_w-I/AAAAAAAAAFc/FfihpK54dcI/s320/gus-dur1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511586367827592162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gus Mus, seorang dekat Gus Dur, merasa sangat kehilangan atas kewafatan cucu pendiri NU itu. Sejak lama, Gus Mus menjadi partner berpikir dan berbuat atas nama Islam dan Indonesia. Mereka berkawan sewaktu sekolah, dan Gus Mus sempat merasa kecewa pada Gus Dur, lantaran susah ditemui, semasa Gus Dur menjabat Presiden RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Gus Mus dan Gus Dur. Dua simpul besar NU yang dapat dijadikan teladan dalam membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Banyak orang bilang, tanpa keduanya, Islam akan tampak rigid dengan sederet teks dan segudang peraturan yang, sepertinya, sangat sulit dijalankan. Keduanya selalu punya cara untuk menyelesaikan persoalan dengan penuh keceriaan. Dan keduanya selalu banyak cara untuk membangun optimisme berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tidak selalu benar melihat Gus Dur, lewat kacamata Gus Mus. Tapi tak berlebihan pula bila sebenarnya kedua sosok ini sangat sulit dibahas satu per satu. Maka bila suatu waktu Gus Dur menjadi sangat kontroversial, Gus Mus dapat membuat suasana menjadi sejuk dengan puisi-puisinya. Dan bila pada kali yang lain Gus Mus penuh kritikan mendasar seputar keberagaman dan keberagamaan, Gus Dur bahkan lebih mobile dengan semua tindakan strategisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting, dua sosok  mengagumkan tersebut besar di kawasan tahlilan dan yasinan, Nadhliyyin. Betapa sebenarnya, banyak yang perlu dikupas dari kultur pendidikan dan aktualisasi kaum yang katanya, dapat lebih nasionalis, daripada kaum yang mengaku nasionalis. Betapa secara kultural kedua Gus ini sangat meresapi ketawadukan dan tafsir Islam yang ‘mengerti’ akar rumput. Sebab, perilaku mengerti itu tentu dekat dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pluralisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara gamblang, tak banyak yang menyangkal bahwa Gus Dur adalah penganjur dan pelaku pluralisme. Dalam pengertian sederhana, pluralisme adalah paham yang dapat mengerti sesamanya.Mengerti karena sejak dulu manusia diciptakan berbeda. Mengerti karena pilihan yang berbeda itu fitrah. Mengerti karena tanpa pengakuan terhadap perbedaan, justru akan mengingkari kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang yakin, pemahaman atas pluralisme menjadikan seseorang menjadi terlalu bebas dan tanpa aturan. Maka banyak orang yang kemudian seenak perutnya menafsirkan nilai, plus agama. Namun bagi Gus Dur, pengakuan atas kebebasan tersebut mewakili Islam yang sesungguhnya. Tafsir turunannya, tanpa direkayasa, kebebasan tersebut akan berhadapan dengan kebebasan yang lain. Secara genuine, akan membentuk pranata nilai yang lebih beradab, lantaran memberi ruang partisipasi bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme juga mengakui semua potensi manusia sama. Semua dapat berprestasi. Semua dapat menjadi pemimpin. Semua dapat berbuat yang terbaik pada sesama. Akan lebih baik selalu merasa kurang atas semua perbuatan yang telah dilakukan, daripada merasa cukup baik atas sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme juga fungsional atas peran kemanusiaan. Manusia mutlak punya kelebihan sendiri atas yang lain. Maka tak ada gunanya merasa lebih baik atas yang lain, secara eksistensi. Pengangkangan atas peran orang lain, hanya akan melahirkan diskriminasi, lantaran ada dominasi seseorang atas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dedikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik Muslim adalah Muslim yang dapat berguna atas sesamanya. Jadi Gus Dur tengah memberikan banyak hal atas hadits tersebut. Gus Dur menjadi teladan langsung yang seperti tak ragu sedikit pun atas tindakan yang ia pilih. Kenyataan ini bukan lagi utopia, lantaran Gus Dur menerjemahkannya dengan cara yang paling sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberpihakan Gus Dur pada kaum minoritas tak hanya memberi inspirasi pada dunia, tapi juga melahirkan tata dunia Indonesia yang baru. Indonesia yang bermartabat, lantaran bangga dengan semua perbedaan yang dimiliki. Indonesia yang tidak diskriminatif, lantaran perbedaan dapat diterima sebagai potensi. Indonesia yang madani, lantaran kebebasan berekspresi dijunjung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Gus Dur mewakili pencitraan reputasi yang seperti tak tersentuh, karena ia punya pakem sendiri , itu hal wajar. Dalam sejarah, figur berkarakter selalu lahir, dan pada akhirnya dapat mewarnai dunia. Pun saat Indonesia ‘jengah’ pada Gus Dur. Pun saat Indonesia ‘tak dapat mengerti’ Gus Dur. Pun saat Indonesia sangat kehilangan Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedikasi Gus Dur ada pada keadilan sosial. Karena sekali lagi, keadilan sosial merepresentasikan nilai-nilai keislaman. Sementara itu, keadilan sosial salah satunya dapat dicapai karena pengakuan atas potensi lain, juga masyarakat yang saling percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, tak akan cukup kata untuk Gus Dur. Semoga ia diberi tempat terbaik oleh Allah Swt. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saiki, aku wis ga iso ngundang awakmu Kang meneh,” keluh Gus Mus suatu ketika.&lt;br /&gt;Dan dunia telah menjawab polah tingkah Gus Dur, seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solo, 12 Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-759613629104678158?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/759613629104678158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=759613629104678158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/759613629104678158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/759613629104678158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/gus-dur.html' title='GUS DUR'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0WmZM_w-I/AAAAAAAAAFc/FfihpK54dcI/s72-c/gus-dur1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6094179954030627340</id><published>2010-08-31T07:43:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T07:46:04.158-07:00</updated><title type='text'>Percaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0VmtZu8cI/AAAAAAAAAFU/CSNEZ99iTQ0/s1600/trust1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0VmtZu8cI/AAAAAAAAAFU/CSNEZ99iTQ0/s320/trust1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511585273738097090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Smart! Husnuzon is the best choice….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeger!!! SMS penting mengguyur sejuk nafsu kalkulasiku yang hampir tak bisa bernapas. Lumayan… kalimat ini mampir setelah aku harus yakin bahwa aku memang tak boleh banyak berharap pada siapa pun dan apa pun. Hem… dulu, aku pernah berfalsafah bahwa berharap adalah setengah pecundang. Waktu itu, seorang kawan menenteramkan batinku kalau berharap itu tetap boleh, agar hidup ini terus berjalan. Baginya, tanpa harapan, manusia hanya akan larut pada realitas kekinian, tanpa mengindahkan masa depan. Aku berterima kasih padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, bagiku, masa depan terjadi karena masa kini. Harapan adalah batas akhir kalkulasi kita yang dikondisikan ‘menunggu’ ketimbang menghadirkannya sebelum terjadi. Jadi, bagiku, harapan ada lantaran kita diharuskan memberi toleransi pada kalkulasi. Ya, itu jatah Allah. Harapan ada karena kita butuh bersandar pada Allah. Aku samakan ini dengan doa. Di luar itu, harapan di atas kalkulasi material tak perlu dibesar-besarkan. Sebab, kalau bukan kita sendiri yang berusaha menyelesaikan semua ingin dan resah kita, lantas siapa lagi? Kelak, semua kelakuan kita akan dipertanggungjawabkan di depan Allah… sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, back to the SMS….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ketemu kata smart, aku pasti ingat Hughes, artis bertubuh subur yang dekat dengan anak-anak. Bff… serasa jadi anak-anak. Sepertinya, aku memang pantas terus-terusan dianggap anak-anak. Siapa sih, yang ngga pengin tiap saat diperlakukan dengan perhatian cukup, gemas yang tiada akhir, dan… selalu dirindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penganut professional scepticism dan dekonstruksi nilai, aku mungkin tak gampang percaya pada apa pun. Tapi, aku pun sering mendelik lantaran ada kasih yang tertahan, ingin yang meledak, care yang terkulum, tatap yang tersimpan, singgung yang tekernyit, sungging yang tercekat, atau juga… hasrat yang tersekat. Semua itu membesut semua logikaku ke atas kekuatan intuisi yang tak bisa lagi dibicarakan. Ia gampang selesai dan menenteramkan batin keruhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliru mungkin, bila lantas biasanya, aku terlalu jauh berprasangka atau terkesiap aroma ‘jangan-jangan’. Sebab, klausul semua itu harus material; bukan hanya kasat mata yang mungkin… itu juga bisa saja dimengerti. Namun, aku tak terlalu suka kepermisifan. Jadi, aku perlu negoisasikan kesan dan realitas idealku pada orang lain. Aku perlu kesepakatan atas nilai yang dipahami bersama. Setidaknya, aku sedang bertendensi kuat, tak boleh ada yang kecewa atau dirugikan kelak. Tak sederhana, tapi benar-benar menenteramkanku. Soalnya, aku pun tak melulu klasifikatif, stratifikatif, atau mungkin falsifikatif. Simpel saja, waktu aku kriteriakan prasangka, aku selalu mendamba kemanusiaan; ingin menjadi figur paling manusiawi. Aku selalu ingin menjadi orang suci di depan Allah… dan orang lain tak perlu tahu. (Wah, kalo dah ditulis… orang lain jadi tau dong) Sekali lagi, karena itu menenteramkan. Bukan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pula, manusia memang terlalu nisbi untuk merilis keperkasaan ‘ingat’ dan ‘sesal’. Maksudnya, manusia selalu dikungkung persepsi atas ingatan masa lalu yang seringnya malahan ingatan tentang sesal. Trauma atas kegagalan yang sering menyapanya. Sebab, dunia bisa saja begitu gerah untuk ukuran esok yang tak begitu diinginkan. Ya, aku menjadi sangat kecanduan untuk mengingat-ingat. Bila pun aku menikmatinya, sesalku tak pernah kunjung usai. Tiap prasangkaku beringsut bersanding dengan sesuatu yang pernah aku ingat dan sesalkan. Entah, aku selalu saja begitu. Menyiksa, tapi aku suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahagia rasanya bisa mentok. There’s no hope anymore….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian SMS timpalku melayang tanpa beban. Aku perlu perkenalkan ke semua orang bahwa mentoknya seseorang itu harus dianggap sebagai anugerah, bukan semata kekurangan tak terampuni. Setelah mentok, tak ada lagi kalkulasi yang tersisa. Semua menjadi jelas, tanpa perlu lagi untuk berprasangka. Kita hanya perlu mendesain masa depan tanpa perlu merasa diri kita buruk lantaran belum mentok. Ya, andai belum mentok, kita akan terus-terusan menyesal, knapa itu harus terjadi. Mentok adalah kesimpulan. Kesimpulan adalah pilihan. Pilihan adalah keberanian untuk tetap hidup. Mentok itu untuk memilih: what’s the next? Ada optimisme di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, aku paksakan untuk tetap tersenyum. Aku tahu, semua harus tetap dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prambanan’s File at 13th Oct 2006&lt;br /&gt;Sabtu, 21 Oktober 2006&lt;br /&gt;08.22 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6094179954030627340?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6094179954030627340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6094179954030627340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6094179954030627340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6094179954030627340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/percaya.html' title='Percaya'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0VmtZu8cI/AAAAAAAAAFU/CSNEZ99iTQ0/s72-c/trust1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6665586042120042265</id><published>2010-08-31T07:36:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T07:41:33.573-07:00</updated><title type='text'>Truly, I don't Like Politic</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0US9EESqI/AAAAAAAAAFM/L-aa6ECwC18/s1600/no-politics-480.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0US9EESqI/AAAAAAAAAFM/L-aa6ECwC18/s320/no-politics-480.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511583834833177250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype style="font-family: georgia;" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype style="font-family: georgia;" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link style="font-family: georgia;" rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sejak masuk HMI, semester 2 dulu, atau Maret 2000, aku tak pernah tertarik tradisi perpolitikan di organisasi yang kata orang, sangat politis ini. Buku pertama yang aku baca adalah &lt;i style=""&gt;Leveraged Buy-Out&lt;/i&gt;. Buku ini berisi strategi jitu akuisisi perusahaan dengan utang. Tokoh-tokoh LBO-nya, Jerry Kohlberg dan Henry Kravis, masih aku ingat. Ini referensi ekonomi, karena aku mahasiswa ekonomi. Ketika itu, aku hanya berkeinginan untuk tahu seluk-beluk ekonomi AS, yang disebut-sebut sebagai kampiun kapitalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Tulisan pertamaku di &lt;i style=""&gt;Pabelan Pos&lt;/i&gt;—media kampus yang akhirnya aku peristri—tentang kegelisahan batin saat aku beranjak dewasa. Semacam renungan, mengapa Tuhan menciptakan kriteria muhrim dan tidak muhrim. Ketika itu, aku ingin mengorek sisi jiwaku yang haus sensualitas, tapi aku juga berhadap-hadapan dengan norma-norma yang banyak membingungkanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Artikel pertamaku di &lt;i style=""&gt;Bengawan Pos&lt;/i&gt;, salah satu koran Solo yang akhirnya gulung tikar, adalah tentang ‘Sekolah dan Kesempatan Kerja’. Ketika itu, aku ingin mereka-reka apa yang akan terjadi pasca aku lulus, hingga aku berusaha menjelaskan semua risauku kepada khalayak melalui media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Forum pertama yang aku moderatori di Komisariat HMI adalah diskusi filsafat. Ketika itu, tak sampai 10 orang yang hadir. Aku menjadi terbiasa dengan kalimat-kalimat paradoks, yang menurut beberapa orang, tak baik dipelajari itu. Aku mulai berkenalan dengan Thales, Heraclitos, Plato, Plotinus, hingga Ibnu Rusyd.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Debat pertamaku adalah tentang utang luar negeri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Meski aku tak benar-benar paham konstelasi makroekonomi yang tengah terjadi ketika itu, tapi aku telah kerasukan neostrukturalisme. Aku mulai akrab dengan Hatta, Sritua Arif, Sri Edi Swasono, hingga Revrisond Baswir. Pemikiran-pemikirannya, yang aku maksud. Menurutku, bangsa-bangsa Barat tak adil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Buku pertama yang aku tulis justru tentang semua keraguanku atas perempuan. Ketika itu, aku persembahkan untuk salah seorang perempuan yang aku kagumi. Aku tak pernah tertarik padanya, tapi aku betah bicara dengannya. Tulisan-tulisanku mengurai kesulitanku memahami makhluk Tuhan yang memang misterius itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Aku pernah menjadi Ketua Umum HMJ Ekonomi Pembangunan FE UMS, tapi aku tak bernafsu untuk melanjutkannya ke jenjang BEM. Menurutku, BEM tak merepresentasikan &lt;i style=""&gt;grass-root&lt;/i&gt;. Ia koordinatif, dan aku tak tertarik. Apalagi, BEM sering tampak sebagai organ yang hanya untuk gagah-gagahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Aku pernah menjadi Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS, tapi aku tak berkeinginan mendongkrak popularitasku ke arah kursi kepresidenan mahasiswa UMS. Bagiku, menjadi mesin wacana di tataran &lt;i style=""&gt;student government&lt;/i&gt; lebih dari cukup untuk berkontribusi terhadap semua karut-marut dunia pendidikan, juga gerakan mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Aku pernah menjadi Sekretaris Umum HMI Cabang, tapi aku tak tertarik intrik politik ke kampus, daerah, atau negara. Aku larut dalam desain perkaderan, dan cita-cita keseimbangan dunia dari dan oleh kader umat dan bangsa. Aku lebih suka mengkomposisikan buah pikir Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, Kuntowijoyo, Cak Nur, Eep Saefullah Fattah, hingga Francis Fukuyama dan Herbert Feith. Aku memasang titik-titik skala prioritas itu di tembok kamarku: pendidikan, kemiskinan, demokrasi, dan militer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Lihat, sebenarnya aku tak pernah tertarik dengan politik. Bila kemudian aku berusaha menulis tentang politik, lantaran hingga hari ini, aku masih berkubang dengan akses dan konstelasi politik. Tapi aku beryakin, hingga semua telah diketengahkan, barangkali aku lebih tertarik bernaung di perdesaan dengan penduduk berdedikasi dan sangat mencintai daerahnya, berikut perilaku ningrat yang insan kamil dan berkebangsaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: georgia;" align="right"&gt;Jakarta, 05 Maret 2008&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6665586042120042265?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6665586042120042265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6665586042120042265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6665586042120042265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6665586042120042265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/truly-i-dont-like-politic.html' title='Truly, I don&apos;t Like Politic'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0US9EESqI/AAAAAAAAAFM/L-aa6ECwC18/s72-c/no-politics-480.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-7947327567387924096</id><published>2010-08-31T07:28:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T07:34:12.477-07:00</updated><title type='text'>SELISIK AURAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0SWVWG0cI/AAAAAAAAAFE/TpaCVxT6jM4/s1600/jane-austen.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0SWVWG0cI/AAAAAAAAAFE/TpaCVxT6jM4/s320/jane-austen.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511581693867643330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser_Xp%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Garamond; 	panose-1:2 2 4 4 3 3 1 1 8 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:595.45pt 841.7pt; 	margin:1.25in 1.0in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku suka Frida Lidwina dan Wanda Hamidah. Mereka &lt;i style=""&gt;smart&lt;/i&gt;, punya dedikasi, bervisi kebangsaan, dan istri yang baik. Penampilan mereka sejuk, meski tak berjilbab. Aku suka Jane Austen, penulis novel &lt;i style=""&gt;Pride &amp;amp;.Prejudice&lt;/i&gt; berkebangsaan Inggris. Ia mengabarkan pentingnya kebebasan memilih bagi perempuan, tapi ia sangat menghargai kesopanan dan menahan diri. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ketika itu, kebanyakan orang Inggris memeluk Protestan. Aku juga suka Inneke Koesherawati. Ia berani berbeda dan buatku, itu perjuangan atas kebebasannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Berdandannya perempuan bagiku adalah identitas. Dan setiap orang tentu berhak mengabarkan identitasnya kepada publik. Perkara kemudian itu akan melahirkan stereotipe tentang sesuatu, seperti seronok, mesum, atau murahan, aku lebih tertarik untuk melihatnya lebih dekat (baca: berpikir lebih dalam) persoalan ini, daripada memikirkan label-label sosial itu. Karena, identitas yang mereka bangun, jelas diperuntukkan pada eksistensi diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;Aku tidak bermaksud untuk mengakhiri pembahasan tentang aurat dengan menyerahkan semua itu pada si objek. Nilai yang benar tentu tidak berakhir pada relativisme; semacam adagium, “Menurut kamu benar, belum tentu benar menurutku.” Itu epistemologi Barat. Barat merestui relativisme lantaran basis pemikiran mereka adalah materialisme. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tentu tak tepat kalau harus menempatkan Barat sebagai pilihan pikir satu-satunya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bukan pula lantas meyakini bahwa di Barat tidak ada kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pilihan berbusana untuk identitas, dan untuk eksistensi diri, pada konteks pencapaian eksistensi, sama seperti keinginan berkumpul dengan orang lain atau berorganisasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada semacam kebahagiaan atas pilihan itu, dan merasakan kepuasan karena semua itu dianggap bersosial. Seorang bijak bilang, tiga derivasi verbal kebahagiaan adalah bercengkerama dengan sepertiga malam, shalat berjamaah, dan bertemu rekan-rekan seperjuangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seseorang akan terus-terusan memperjuangkan semua kebahagiaan yang dimaksud dengan identitas yang dibangun. Seorang organisatoris pasti tertarik untuk berupaya menghadirkan kawan-kawan yang belum aktif untuk turut menyelami khazanah perjuangan. Nah, itu eksistensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku nonton &lt;i style=""&gt;Beyond Borders&lt;/i&gt;. Di situ, Angelina Jolie tak hanya kelihatan seksi lantaran bibirnya, tapi juga tampak ningrat dengan naluri sosialnya. Aku tak peduli lagi dengan produk &lt;i style=""&gt;Tomb Rider&lt;/i&gt; yang kata orang superseksi itu. Aku hanya kesengsem dengan sikap adopsian anak gaya dia yang berkomposisi berbagai benua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atau Michel Pfeiffer. Ia hadir di &lt;i style=""&gt;Dangerous Mind&lt;/i&gt;, dan berperan sebagai guru anak-anak jalanan. Blonde rambutnya menggiring &lt;i style=""&gt;interest&lt;/i&gt;-ku pada perempuan seksi yang sangat mengerti kemiskinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atau Dian Sastro. Kontribusinya di &lt;i style=""&gt;Ada Apa dengan Cinta&lt;/i&gt; dalam peran cewe yang sangat suka menulis dan berprinsip, juga di sinetron &lt;i style=""&gt;Dunia Tanpa Koma&lt;/i&gt;, sebagai reporter pekerja keras, seperti menutup minatku pada muka sensualnya. Aku seakan mau melupakan ciuman dahsyatnya pada Rangga di bandara dalam &lt;i style=""&gt;AADC&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tentu saja aku tidak kemudian bersemangat untuk menyandingkan kesalehan dengan sensualitas dalam kajian vulgar kaum pengusung kesopanan. Tapi, aku memberikan penjelasan sewajarnya tentang insting cowokku yang doyan sensualitas di satu sisi, dan pribadi cewe yang berkualitas di sisi lain. Saat menikah, semua orang pasti merasa bahwa pasangannya adalah sosok terseksi dan berkualitas, kan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pakai etika sederhana saja. Saat di &lt;i style=""&gt;bus way&lt;/i&gt;, cewe ber-&lt;i style=""&gt;tank top&lt;/i&gt; pun tak risih bergelantungan di sesaknya jam-jam sibuk. Tapi, adalah tabu melihatnya dengan tatapan doyan. Ada perasaan gengsi dan malu andai cowo kelihatan doyan di depan cewe berpakaian seksi. Beda kasus kalau si cewe pakai rok mini dan rela ditatapi setiap orang di pinggir jalan. Pasti banyak mata yang akan menatapnya aneh, bahkan berpikir yang bukan-bukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jadi, semua cowo di dunia ini suka sensualitas. Tapi, untuk memilihnya menjadi gaya hidup, cowo juga punya penilaian sendiri atas sensualitas yang ia inginkan. Meski banyak uang dan doyan berpakaian seksi, ternyata Britney Spears semakin merasa bahwa hidupnya tidak berarti. Di zaman Victoria, virginitas sangat dijunjung tinggi di Inggris. Mereka juga mengenakan rok-rok panjang sebagai bentuk reputasi sosial atas keningratan status dan kepandaian. Orang Inggris juga malu untuk berpelukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Jadi sebenarnya, menilai keseksian tidak sesederhana menarik syahwat kotor, atau membuat seseorang menjadi rendah moralnya. Sekali lagi, itu identitas yang ingin mereka bangun. Dan juga, untuk mereka... bahkan lingkungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perlunya dakwah tentang aurat akan sangat relevan bila kesepakatan tentang ini telah dicapai. Bukan berarti menganggap seruan tentang menutup aurat adalah salah. Sebab, berbicara adalah hak, asalkan tidak ada yang merasa dirugikan. Alasan moral agamanya, diwajibkan untuk saling mengingatkan, dengan dakwah sebagai salah satu variannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nah, isu pornografi-pornoaksi boleh-boleh saja, dalam kerangka pembanding tren berbusana dan berbudaya; bukan komoditas politik-kekuasaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pelacur mana sih yang berani berdandan pas-pasan saat masuk rumah ibadah? Mereka pasti akan meninggalkan semua identitasnya itu di luar. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi, mengapa mereka tetap saja berperilaku sama setelah keluar rumah ibadah? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekali lagi, semua itu untuk membangun identitas dirinya; bukan untuk orang lain, apalagi memanjakan orang-orang yang melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Francis Fukuyama, kegagalan gerakan islamisme justru berbenturan pada kondisi islami yang telah lama ada di Eropa. Maksudnya, bagaimana mungkin Islam yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kebersihan, dan kerapian bisa dianggap sebagai hal menarik baru, bila pada kenyataannya di Eropa keadaannya memang telah lama demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah, yang lebih parah, gerakan anti pornografi-pornoaksi yang salah, bisa membagi orang-orang Muslim ke beberapa kategori. Ada Muslimah yang akhirnya merasa bahwa ia tidak benar-benar islami. Kalau dia lantas mencari tahu untuk belajar, itu lebih baik. Nah, semisal dia malahan merasa dieksekusi, bahkan dengan berondongan norma yang intens, barangkali ia bisa kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak diberi kesempatan bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;font-family:georgia;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Wallahu a’lam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Jakarta, 28 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-7947327567387924096?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/7947327567387924096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=7947327567387924096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7947327567387924096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7947327567387924096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/selisik-aurat.html' title='SELISIK AURAT'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0SWVWG0cI/AAAAAAAAAFE/TpaCVxT6jM4/s72-c/jane-austen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-3481182078003690136</id><published>2010-08-31T07:19:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T07:28:00.849-07:00</updated><title type='text'>KESALEHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0RG1uSdHI/AAAAAAAAAE8/xZvk2Rd2m0Q/s1600/marah-rusli.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 168px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0RG1uSdHI/AAAAAAAAAE8/xZvk2Rd2m0Q/s320/marah-rusli.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511580328169469042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berargumen wajar tentang pembelaannya terhadap kaum sengsara. Bagi mereka, tak apa seperti lilin yang harus membakar dirinya, asalkan dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Bagi mereka, pilihan untuk turun melakukan pembelaan adalah sebentuk tanggung jawab, bahkan beralasan moral penuh. Bagi mereka, waktu, pikiran, dan energi habis untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat kekurangan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau sekarang kita ganti perspektifnya? Semisal dalam kasus Siti Nurbaya, siapa sebenarnya yang salah? Ada yang bilang, Datuk Maringgih-lah penyebab semua kekacauan itu. Ada yang menyalahkan Syamsul Bahri yang tidak dapat berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan Siti Nurbaya. Ada juga yang menganggap orang tua Siti Nurbaya terlalu tega pada anaknya, hingga harus menebus utang-utangnya dengan sang anak. Ada lagi yang menyalahkan Siti Nurbaya, karena ia hanya bisa pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, siapa pun dapat salah dan dapat juga benar, tergantung alasan mengapa ia memilih pilihan itu. Datuk Maringgih tentu salah bila berusaha keras, bahkan dengan muslihat, untuk mendapatkan Siti Nurbaya. Tapi, Datuk akan tampak benar, bila ia dapat memberi solusi singkat, terhadap semua utang-utang ayah Siti Nurbaya, karena belum tentu sang ayah bisa membayarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syamsul Bahri kelihatan salah bila hanya bisa ikut arus kondisi, tanpa ada tawaran solusi terhadap persoalan ini. Dan ia akan tampak benar, ketika ia sadar bahwa kekuatannya tak seberapa untuk menebus beratnya tanggungan utang itu. Ia tentu tak akan membawa lari Siti Nurbaya dan mengorbankan semuanya, hanya untuk cinta. Tentu saja, cinta tak akan bisa didapat dengan mengorbankan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Siti Nurbaya bisa salah bila ia hanya mengambil jalan pintas, tanpa upaya keras mencari jalan keluar utang, bahkan mengorbankan anaknya. Namun, sang ayah akan dianggap benar, bila pada kenyataannya, semua utang tersebut memang diperuntukkan semua kebutuhan keluarganya. Sementara itu, Siti Nurbaya jelas salah bila ia bersikap tanpa alasan yang cukup sebagai bentuk identitas kebebasan memilihnya. Tapi, ia akan tampak bijaksana, bila semua itu dilakukan untuk pengabdian yang tak terkira pada keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, aku hanya ingin memberi poin penting tentang penentuan pilihan. Bila memang berbagi dan berjuang bersama orang-orang susah adalah pilihan, bukan lantas menempatkan seseorang sebagai sosok yang lebih bermoral atau setidaknya, menempatkannya pada strata sosial baru, dengan reputasi sosial lebih. Biarlah Tuhan yang mengambil peran itu. Biarlah publik yang menilai semuanya. Karena, yang penting, hanya harus berbuat banyak. Begitu pun, seseorang tak akan pernah merasa bahwa semua itu penuh dengan hasrat menahan diri, mengorbankan banyak hal, atau terasa seperti pilihan yang berat. Itu tandanya, ada persoalan dedikasi yang bermasalah. Berarti, ia tak benar-benar ada dalam alasan pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa akan ada jenuh, marah, lelah, atau berlusin kebuntuan serius adalah hal wajar. Namun, kebahagiaan yang tak terkira adalah ketika semua langkah diambil berdasarkan keyakinan yang sangat... dengan alasan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berurusan dengan persoalan pelik seputar peluang kesejahteraan petani yang tipis, pengangguran, kesempatan kerja, akses modal, monopoli, hingga efek moneter yang berdampak krisis, jelas dibutuhkan dedikasi. Maksudnya, persembahan diri kepada Tuhan untuk berbuat yang terbaik; tak peduli apa yang akan terjadi. Karena, kebahagiaan tentu berasal dari dalam diri, bukan karena citraan publik semata. Selebihnya, tak penting sebagai apa seseorang berbuat. Asalkan penuh dedikasi, itu sudah sangat membahagiakan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 28 Januari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-3481182078003690136?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/3481182078003690136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=3481182078003690136' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3481182078003690136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3481182078003690136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2010/08/kesalehan.html' title='KESALEHAN'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/TH0RG1uSdHI/AAAAAAAAAE8/xZvk2Rd2m0Q/s72-c/marah-rusli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6171423860837466871</id><published>2009-08-29T01:20:00.000-07:00</published><updated>2010-07-30T00:55:05.767-07:00</updated><title type='text'>Mengawal Generasi Muda Era Teror</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SpjnoXmMxuI/AAAAAAAAAEY/cwde6y5CIcU/s1600-h/15FW8772.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SpjnoXmMxuI/AAAAAAAAAEY/cwde6y5CIcU/s320/15FW8772.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375300835981706978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mereka terperangkap dari jerat situasi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kreasi Bapakku yang trauma revolusi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Mereka jadi korban keadaan frustrasi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kecewa marah-marah, mendobrak tembok tradisi&lt;/span&gt; ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada hari tanpa pemberitaan terorisme. Suatu ketika, tampak di layar kaca aksi-aksi penggerebekan Densus 88, yang mirip film-film action produksi Hollywood. Pada saat yang lain, disajikan pengawalan pesakitan tersangka teror yang kepalanya telah tertutup rapat, berikut baju khusus yang menandakan bahwa ia memang penjahat paling diburu. Tak kalah atraktif, para polisi yang mengawalnya juga tampak stylist, berkacamata hitam, kostum modis, plus senjata lengkap berstandar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik Indonesia mengharu biru. Rekaman bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot berulang kali ditayangkan. Beriring trauma berkepanjangan para korban, juga citra buruk anggota keluarga para tersangka teror, kelompok-kelompok yang merasa tahu pun berspekulasi atas situasi. Terkadang, bendera organ dan teriakan juga dikumandangkan menyusul dukungan atau penolakan aksi pengeboman yang katanya, atas nama Tuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terjadi begitu cepat dengan kompleksitas data yang semakin meluber, melibatkan banyak pihak. Semakin data baru ditemukan dan dikonfrontasikan kebenarannya, semakin meninggi pula kekhawatiran publik tentang Indonesia yang ternyata dikecamuki teror terencana, tapi laten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;‘Calon Pengantin’ dari Generasi Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, respons media mulai melibatkan praduga tentang rawannya kalangan muda akan rekrutmen jaringan pelaku teror. Banyak disebutkan bahwa ‘Calon Pengantin’, istilah untuk calon pelaku bom bunuh diri, didominasi oleh generasi muda. Mereka dahulu adalah anak-anak manis yang taat beribadah, pandai bergaul, dan berprestasi dalam sekolah. Kabarnya, semangat mereka yang tinggi untuk beraktualisasi, berhasil dibelokkan menjadi ‘aksi perlawanan’ berbuah surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus ini kemudian dilengkapi dengan beberapa data di luar negeri seputar rekrutmen anak-anak muda di berbagai negara oleh jaringan teror internasional, yang konon sukses, karena motif  belitan kemiskinan. Terorisme kemudian menemukan arus besarnya, saat didukung oleh anak-anak muda yang berani mati, untuk tujuan keabadian, seperti yang diujarkan pendahulu-pendahulu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lantas publik menjadi semakin tahu. Bahwa ternyata, banyak keluarga bermasalah di negeri ini. Faktanya, anggota keluarga tidak tahu-menahu seputar aktivitas ‘para pengantin’. Betapa banyak anak-anak pintar yang seperti tak menemui miliunya. Beberapa dari mereka digiring pada janji-janji keabadian, mengalahkan keharmonisan keluarganya selama ini. Betapa kepedulian sesama masyarakat telah banyak menurun. Siapa sangka, tetangga yang tampak baik itu ternyata adalah perencana atau peracik bom kelas wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Generasi muda berkualitas yang berempati tinggi kepada sesamanya sangat menentukan kedamaian republik di masa depan. Bila pendampingan generasi penerus tidak diprioritaskan, bahkan telah rusak perisai norma-norma keluarganya, entah apa yang lantas akan terjadi. Sungguh sulit dan menyisakan sesal yang amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Modus Baru&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Bila dirunut agak jauh, modus melibatkan anak-anak muda yang bersemangat tapi labil memang sering terjadi. Sejak dulu, kalangan muda sangat reaktif pada kondisi, dengan penjelasan yang terkadang, agitatif dan provokatif. Kesan heroik menggejala kuat, pertanda energi mereka yang dapat didesain meledak-ledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit data ditulis Tim Weiner, reporter The New York Times, pemenang Pulitzer, dalam buku international best seller-nya berjudul ‘Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya’. Setidaknya, untuk ukuran dunia, badan intelijen kebanggaan Amerika Serikat itu dapat dijadikan referensi seputar praktik-praktik penguasaan negara lain, berbasis informasi dari agen-agen yang mereka rekrut dan latih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang dicetak tahun 2008 itu, Weiner mengemukakan banyak dokumentasi yang ia susun dari 50.000 arsip CIA, hasil wawancara ratusan agen CIA, dan pengakuan sepuluh direkturnya. Sebagian meragukan kelengkapan data Weiner, dengan alasan hanya menyentuh permukaan. Sebagian yang lain merasa perlu untuk tetap mempelajarinya sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weiner menulis rekam jejak Frank Wisner, Kepala Operasi Rahasia CIA, tahun 1952. Ketika itu, ia merencanakan sebuah serangan rahasia besar terhadap Uni Soviet yang ditujukan pada jantung sistem kontrol komunis. Marshall Plan (Program Pemulihan Eropa) pun diubah menjadi pakta-pakta yang menyediakan senjata bagi sekutu Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIA mempersenjatai pasukan-pasukan cadangan rahasia untuk memerangi tentara Soviet di seluruh Eropa. Anak buahnya menjatuhkan emas batangan ke beberapa danau, juga mengubur berpeti-peti senjata di pegunungan dan hutan Skandinavia, Prancis, Jerman, Italia, dan Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus Jerman, CIA berhasil menggalang dukungan dari Young Germans, kelompok muda radikal yang didominasi anggota Hitler Youth. Daftar keanggotaannya bahkan membengkak hingga lebih dari 20.000. Mereka menggunakan senjata-senjata CIA, radio, kamera, dan uang. Parahnya, mereka juga membuat daftar panjang politikus demokratik arus utama Jerman Barat yang akan menjadi sasaran pembunuhan ketika saatnya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keluarga Harmonis dan Religius&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Kenyataan tentang terekrutnya generasi muda dalam jaringan teror semestinya menjadi kritik telak bagi semua keluarga di Indonesia. Apalagi sebenarnya, lantaran pengaruh pemberitaan teror yang bertubi-tubi, tanpa kepastian kapan semua itu berakhir, dapat membuat kalangan muda pesimis akan masa depan negeri ini, yang berarti juga masa depan mereka. Repotnya, mereka kemudian dibesarkan dalam suasana mencekam, akibat teror yang laten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait lirik lagu di awal tulisan karya Slank, sebuah band kenamaan Indonesia yang memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sense of crisis&lt;/span&gt; tinggi, dapat membuat siapa pun berpikir tentang pentingnya membangun keluarga yang harmonis dan religius. Pesan yang ingin disampaikan Slank bermuara pada keseriusan para orang tua untuk mengasihi anak-anaknya pada kadar semestinya. Sebab, tanpa itu, anak akan besar menjadi sosok liar, yang sulit ditengarai maksud dan aktivitas hariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, religiusitas adalah bekal inti. Dengan ilmu agama yang cukup, perintah Tuhan agar manusia menebar rahmat ke seluruh alam, akan mendarah daging dalam hari-hari sang anak. Sebaliknya, bila para orang tua tak lagi memedulikan pendidikan agama anak-anaknya, tragedi demi tragedi akan terus terjadi, hanya lantaran tafsir Kitab Suci yang seringnya, masih sepotong-sepotong. Semoga negeri ini segera entas dari nuansa teror yang jelas sangat tidak diridhai-Nya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam bi shawab&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6171423860837466871?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6171423860837466871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6171423860837466871' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6171423860837466871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6171423860837466871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/08/mengawal-generasi-muda-era-teror.html' title='Mengawal Generasi Muda Era Teror'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SpjnoXmMxuI/AAAAAAAAAEY/cwde6y5CIcU/s72-c/15FW8772.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-4127332656139948414</id><published>2009-04-26T10:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T10:28:03.934-07:00</updated><title type='text'>Dulu dan Kini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SfSZXJhx4JI/AAAAAAAAAEQ/I6_diG9fIe4/s1600-h/30233678.Remembering.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 252px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SfSZXJhx4JI/AAAAAAAAAEQ/I6_diG9fIe4/s320/30233678.Remembering.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329052882059780242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Kalo cowo pinter ketemu cewe pinter, jadinya romantika. Kalo cowo pinter ketemu cewe bodo, yang ada si cewe hamil. Kalo cowo bodo ketemu cewe pinter, terjadilah perselingkuhan. Nah, kalo cowo bodo ketemu cewe bodo, mereka pasti menikah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku tersenyum. Bukan hanya karena kalimat anekdot pernikahan yang struktur kalimatnya ingin sebanding dengan klasifikasi manusianya Al-Ghazali  itu. Aku tersenyum, juga lantaran ketakutan baruku pada perilakuku yang sepertinya tak lagi aku minati kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, aku seperti kelu berurusan dengan kriteria norma yang semakin terasa rigid. Aku mendadak tidak ramah pada nilai-nilai yang selama ini aku pegang teguhi itu. Kini, aku berusaha keras menegoisasinya. Aku ingin agak lumer dan menganggap semua nilai itu bisa saja ditafsir ulang; semacam pembenaran ekstra atas keraguanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku tak tahu, gelagat apa lagi yang tengah berusaha keras merasukiku. Mengapa aku mulai melirik kesimpulan bahwa menikah adalah tindakan bodoh? Meski tentu tidak lantas mengamininya, tapi aku butuh runutan berpikir itu, yang agaknya, terasa kontekstual. Ya, aku tak lagi dapat menemukan keberbanding-lurusan antara kebenaran nilai pernikahan dengan kenyataan tentang pernikahan. Aku mulai merasa, ada cara lain untuk memaknai hubungan spesial yang kata orang, sangat menghabiskan semua hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dulu, aku bisa tersungging sinis kalau ada yang menawariku produk KFC, Pizza Hut, atau sejenisnya. Jelas aku punya serentet alasan ideologis hingga teknis. Saking keras kepalanya, bahkan ibuku sempat memberiku saran ketat, “Jadi orang jangan terlalu fanatik.” Miris juga kalau kemudian, selasar doktrin tentang kemandirian bangsa ternyata seperti tak berbanding lurus dengan ridha orang tua seputar kefanatikan. Meski aku juga tak sempat menghubungkan ini dengan perlawanan Nabi Nuh as. pada orang tuanya, pembuat berhala. Ya, aku tetap menganggap, bertradisi makanan transnasional itu tidak keluar dari iman dan Islam. Artinya, aku hanya keberatan atasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dulu, aku punya cara berbeda menerjemahkan hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan. Atau sebutlah itu, pacaran dan sejenisnya. Pertama, semua ketertarikan seriusku pada perempuan selalu beriring misi sosial. Aku berkesimpulan, akan bisa berbuat banyak pada sesama bila bersama sang cewe. Agak berbangga, agenda-agenda berkunjung ke panti asuhan atau berpikir kemanusiaan sering mewarnai hari-hariku. Senang rasanya menemani seorang cantik yang sangat dicintai orang-orang kurang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Kedua, hubungan yang terjalin tak pernah menampak formal. Mirip logika Lyotard  di film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Matrix&lt;/span&gt;. Antara ada dan tiada, kata Utopia. Sesekali aku muncul di kediaman, dengan sajian senyum dan servis yang menurutku, paling baik. Pada kali yang lain, aku tak pernah menyapa mereka, karena bermacam alasan sok moralis, seputar agenda-agenda perubahan sosial. Aku sering merasa tak cukup waktu membahagiakan mereka. Tapi terkadang, aku merayah payah, pertanda sebenarnya aku tak pernah mau ditinggalkan. Aku tahu, itu egoisme yang sangat, bernama ‘mau enaknya sendiri’.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ketiga, selalu ada cara indah untuk mempertahankan kebersamaan. Aku pernah diundang makan bersama, hanya karena ada acara, pamer sayur asem. Beberapa orang tahu, aku begitu menikmati sayur-sayur bernuansa bening. Walau acara makannya bareng-bareng, aku merasa tersanjung. Ada lagi, seorang dari mereka berbangga lantaran berani naik kereta Pramex sendirian, hanya karena ia ingin dianggap dewasa. Ada juga yang mengirimiku buku harian, karena ia tak ingin aku menulis di sembarang tempat. Sekali lagi, seperti ada mahkota Hayam Wuruk di kepalaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Keempat, saling kagum menjadi pengikat. Setiap kali bersama mereka, reputasiku naik tak tanggung-tanggung. Setidaknya, aku akan dianggap sebagai seorang waras yang mengerti banyak hal dan banyak orang. Sejauh yang aku tahu, mereka selalu mengabarkan kekaguman mereka atasku pada siapa pun, meski aku juga tahu, mereka terlalu berhati-hati. Artinya, cerita baik itu bukan karena aku benar-benar baik, tapi lantaran mereka tak ingin menyakitiku. Jelas aku juga bertingkah serupa, sekuatku. Aku mengagumi mereka, sebanding dengan semua pembenaranku atas perilaku mereka. Termasuk saat semuanya memilih untuk meninggalkanku. Klasik!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dulu, aku selalu menomorduakan gaya hidup. Dedikasilah yang pertama. Aku tak akan rela keluar banyak uang untuk prestise, hingga orang-orang mengira bahwa aku punya kualifikasi ekstra di atas mereka. Termasuk bahwa aku tak ingin dianggap berbeda, bila kemudian membelanjakan banyak uangku untuk membeli buku. Aku juga tak melegal-gampangkan nonton film di bioskop, hanya karena menurutku, tak baik mengamini kecenderungan hedon. Bukan berarti aku tak suka menonton film. Aku ingin memaksa diriku untuk tak segampang itu mengikuti insting keinginanku. Yang parah, hingga kini, aku tak pernah punya selera khusus atas pakaian, baju, atau cara menikmati hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Dulu dan sekarang. Mengapa aku menjadi sangat antusias untuk membenturkan hari-hariku yang telah lewat, dengan hari-hariku kini? Seorang kawan yang pernah menemani hari-hari sulitku sering menjejalkan kekhawatiran menukik, bahwa semestinya aku tak membanding-bandingkan zaman, hanya karena hari ini terasa lebih sulit. Tentu tak baik, begitu katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Benar, aku tidak sedang membanding-bandingkan masa lalu dan kini hanya untuk memilih siapa pemenangnya. Aku hanya ingin kritis pada diriku sendiri, dan berharap tidak tengah bersemangat mendudukkan cara pandangku dengan ukuran baru yang cenderung permisif. Sebab, itu oportunis. Tujuan menghalalkan cara, kata Macchiavelli. Ahistoris karena ingin mengulang zaman yang telah lewat di zaman ini. Karen Armstrong bilang, itu penyebab fundamentalisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Makna semua ini juga bukan tuntutan. Karena setahuku, hubungan yang baik adalah hubungan yang berprinsip, memberikan semua hal terbaik; bukan malah sebaliknya. Bila aku masih saja menginginkan banyak hal dari siapa pun, berarti aku tidak pernah belajar dari kesalahanku di masa lalu. Ya, aku belum siap berhubungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Bila pun pada kenyataannya aku sangat merindukan semua perbandingan itu untuk melengkapi jiwaku pada hari ini, artinya kadar kemanusiaanku masih ingin dimaklumi. Perilaku bermanusia berkategori ‘meratap’. Betapa aku masih sangat mencintai dunia. Bahwa aku tak ingin dikalahkan. Bahwa aku takut mati, sekaligus takut hidup. Sebab, hingga kini, aku masih saja ingin dimiliki… seutuhnya.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-4127332656139948414?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/4127332656139948414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=4127332656139948414' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4127332656139948414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4127332656139948414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/04/dulu-dan-kini.html' title='Dulu dan Kini'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SfSZXJhx4JI/AAAAAAAAAEQ/I6_diG9fIe4/s72-c/30233678.Remembering.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-7469895560687339407</id><published>2009-04-13T11:26:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T11:45:53.915-07:00</updated><title type='text'>Laugh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SeOHbnEEbSI/AAAAAAAAAEI/8ginNQgG_lI/s1600-h/Smiling+Cow.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SeOHbnEEbSI/AAAAAAAAAEI/8ginNQgG_lI/s320/Smiling+Cow.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324248092894326050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Ternyata canggung juga mengutarakan banyak hal manis di kepalaku. Rasanya, kadar kemaskulinanku menurun drastis. Meski sebenarnya aku tergila-gila pada lawakan, untuk menjalani hari dengan paradoksi-paradoksi lucu itu, aku tak mampu. Benar, tertawa adalah pembalikan realitas atas sesuatu yang bisa jadi tak mungkin sebagai sarana menetralisasi kekurangan diri dan ketidakpuasan. Dengan tertawa, meski sementara, jalan terang untuk menyelesaikan persoalan akan lebih terbaca dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Umumnya, aku memang bercanda, tapi tak kurang dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;cooling down&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;-nya Kennedy sewaktu di bawah tekanan Pentagon. Ketika itu, Kennedy tengah berseteru dengan mereka perkara Krisis AS-Kuba yang akan memicu terjadinya perang dunia ke-3. Bagi Kennedy, tawaran Pentagon untuk menggelar invasi ke Kuba terlalu terburu-buru.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Tuan Presiden, AS dalam bahaya. Kalau Anda tak segera bertindak, banyak orang AS akan mati. Tidak tahukah Anda bahwa Anda tengah terjepit?” Jenderal Le May, Kasau AS, bertanya dengan nada memaksa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gertakan ini bukan hanya tak enak didengar, tapi juga inkonstitusional. Semua tahu, Presiden adalah pemilik otoritas negara atas kebijakan perang. Dalam sistem presidensiil, ia adalah komandan tertinggi armada perang, di atas semua mesin tempur yang ada. Walau berstatus warga sipil, ia memiliki kewenangan untuk mengendalikan alat pembunuh massal milik AS yang sangat ditakuti dunia itu.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kennedy pun tersenyum. Ia pandangi wajah Jenderal yang baru saja mengancamnya. Tak ada tatap tajam kemarahan. Tak ada alis tinggi kegerahan. Tak ada bentakan keras kekecewaan. Tak ada mimik ketus peng-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;under estimate&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;-an. Sebaris kalimat penting menyelesaikan semuanya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;“Apakah kau tidak sadar bahwa kau terjepit bersamaku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Simpel bukan? Bahkan Kennedy tidak sempat berpikir untuk memecat Jenderal Le May, walau sebenarnya ia bisa. Bahkan Kennedy tidak merasa perlu untuk menuntutnya, meski sebenarnya ia berhak. Bahkan Kennedy tidak ingin mengurangi rasa hormatnya, walau sebenarnya ia sangat pantas melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Itu baru Kennedy, salah satu orang baik di ‘Negeri Pembunuh’ seperti AS. Bagaimana dengan Rasulullah Saw.?&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang nenek-nenek pernah bertanya kepada beliau, “Rasul apakah orang sepertiku akan masuk surga?”&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersenyum, Rasul menjawab, “Manusia seperti nenek, tidak akan masuk surga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Terang saja si nenek hancur hatinya. Ia merasa, semua ibadahnya selama ini menjadi tidak berguna. Perkataan ini bahkan keluar dari Nabi Allah, yang jelas terjaga kesahihannya. Sang nenek menangis tersedu-sedu. &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul pun kembali angkat bicara, “Nek, di surga kelak, semua orang akan sama. Di sana, mereka tidak muda juga tidak tua. Jadi, kalau nenek masuk surga, tidak dalam kondisi seperti ini.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Si nenek kemudian lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat, Rasul tidak serta-merta menjawab apa yang dimaui si nenek. Rasul jelas mengajarkan kepada umatnya bahwa ada cara yang lebih ningrat untuk berkelakar. Ia tidak hanya contoh yang baik dalam berkemanusiaan, tapi juga teladan yang berdedikasi untuk mengajarkan nilai, pun pada saat tertawa; pun pada seorang nenek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Begitulah. Sepertinya, aku memang tak pandai melawak. Aku juga tak percaya diri dapat menyenangkan hati orang, turut menyelesaikan persoalan orang, untuk mengentaskan kesedihan orang, atau menjadi contoh yang baik dalam kesenangan. Bagiku, aku hanya ingin ekspresif, tanpa perlu untuk berpura-pura bahwa aku ingin dianggap pandai menghibur orang. Sederhana saja, aku juga sangat membutuhkan itu, bahkan mungkin, lebih dari yang dipikir dan dimaui orang lain.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, kalimat Kennedy yang lain menjadi penting. Ia mengatakan, “Meninggalkan pendapat sendiri ada amoralnya. Kita semua di sini karena merasa bahwa kita lebih mampu dari orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tengah berbangga diri, tapi untuk melakukan hal terbaik memang harus terlebih dahulu meyakininya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Di luar batas apa pun, aku hanya ingin menjadi yang terbaik. Misalnya, saat aku menjelaskan bahwa mengasihi itu bukan perkara sulit. Misalnya, saat aku mengaku bahwa aku membutuhkan kasih itu. Misalnya, aku perlu mendudukkan keduanya pada konteks yang tepat. Ya, kapan aku mengasihi, kapan aku dikasihi, dan kapan aku menjalani keduanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Satu lagi, percaya adalah hal penting.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-7469895560687339407?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/7469895560687339407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=7469895560687339407' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7469895560687339407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/7469895560687339407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/04/laugh.html' title='Laugh'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SeOHbnEEbSI/AAAAAAAAAEI/8ginNQgG_lI/s72-c/Smiling+Cow.gif' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-5678218707862260594</id><published>2009-03-30T20:21:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T20:30:14.490-07:00</updated><title type='text'>Hendaknya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SdGN1uXkkgI/AAAAAAAAAEA/xme2tesvBXo/s1600-h/003_012_Hope.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 239px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SdGN1uXkkgI/AAAAAAAAAEA/xme2tesvBXo/s320/003_012_Hope.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319188589020746242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Aku terlalu nihil. Hidup terasa lebih sulit dengan kemapanan. Aku tak berusik lagi tentang banyak hal. Sepertinya, saat ini aku pun sudah tak mampu lagi untuk berharap. Tak lagi suka takjub pada interaksi alam. Interaksi yang memastikanku untuk berbagi eksistensi, bukan hanya untukku. Tak ingin bersemangat dalam memaknakan ketidakbermaknaan. Reses yang mungkin lebih sulit terasa ketimbang imajiku tentang pentingnya eksistensi. Aku merasa bahwa semuanya sudah usai, tak lagi menarik, dan tak lagi misterius. Semoga saja masih ada yang tersisa, apalagi kalau bukan tentang Tuhan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, aku berpikir kalau makrifatku prematur. Itu pertanda, aku memang belum makrifat. Maksudnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I feel so good much&lt;/span&gt;. Mapan di atas semua hal yang pernah aku idam-idamkan selama ini. Semua seperti sangat jelas kasat matanya. Menurutku, semua bisa saja diukur. Aku sudah merasa sanggup untuk memetakan semuanya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seakan, saat semua pikirku tak bersambut, aku pun sah menjadi kesatria ingusan. Ya, megalomania. Padahal, aku pun tak menolak bahwa kebesaran hanyalah milik persepsi publik, bukan dialektika yang direkayasa. Artinya, andai aku besar, itu kata publik, bukan karakter yang aku bikin, dengan sengaja. Aku didudukkan pada komitmen bermanusia, bahkan dengan keterlambatan sikap. Aku terlambat sadar bahwa aku telah terlambat. Pun aku sering mendalih guna melawan kehendak hati. Hanya itu yang aku punya. Pertarungan hakikiku lebih membuncah dan melesakkan semua kegamanganku dalam keberhentian. Aku merasa semua telah cukup, pasti, dan sangat meyakinkan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pfuh... kenapa hanya untuk mencercahkan spirit saja aku selalu menjegal semua ‘marahku’. Karena, marah adalah bentukan konsekuen atas logisnya kemampuan harap. Ketertarikan, kedaulatan, manuver, sensasi, atau ide dinamis menjadi semakin kabur beriring hawa nihilis yang lebih terlalu sering meyakinkanku. Mentok... !!!&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun akhirnya, aku memohon pada diriku untuk kembali merintis semuanya. Ya, bahwa aku perlu untuk merintis semuanya, kembali. Ya, bahwa aku perlu untuk merasa perlu dan diperlukan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I feel so ugly now&lt;/span&gt;.…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-5678218707862260594?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/5678218707862260594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=5678218707862260594' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5678218707862260594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5678218707862260594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/03/hendaknya.html' title='Hendaknya'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SdGN1uXkkgI/AAAAAAAAAEA/xme2tesvBXo/s72-c/003_012_Hope.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-3975999600197221683</id><published>2009-03-20T10:38:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T10:42:10.617-07:00</updated><title type='text'>Buta Warnaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/ScPVOM3lgeI/AAAAAAAAADY/8pIYnIYg0qk/s1600-h/24-02-09_1812.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/ScPVOM3lgeI/AAAAAAAAADY/8pIYnIYg0qk/s320/24-02-09_1812.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315326425176572386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Buta warna bukan penyakit. Banyak orang bilang, itu cacat. Bila penyakit bisa disembuhkan, cacat hanya bisa disiasati. Semacam upaya selektif untuk turut menikmati dunia, meski dengan fasilitas yang tak sempurna. Aku tak tahu persis, mulai kapan aku sadar bahwa aku… buta warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa kelas 5 SD, aku pernah turut lomba murid teladan tingkat kabupaten. Aku senang bisa menceritakannya. Selain kemampuan akademis, para peserta lomba juga diwajibkan memiliki wawasan umum pilihan, kepekaan seni yang tak standar, dan kreativitas unik. Seingatku, meski tak menang di perlombaan itu, aku bisa mempersembahkan lampu flip-flop bikinanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu flip-flop mirip lampu ‘awas hati-hati’ di jalan-jalan tertentu, dengan dua bulatan berwarna sama, tapi menyala bergantian. Ketika itu, aku merasa prakaryaku itu akan berhasil, meski dengan solder bekas dan timah yang diirit. Dengan bantuan seorang guru sabarku, ketika itu aku belajar memilih resistor dengan menghitung lingkar warna yang melilit tubuhnya. Untuk tujuan tertentu, kuantifikasi itu tak boleh meleset. Sebab, eksperimen pasti gagal. Pada skala besar, buatan pabrik memang lebih bagus kualitasnya. Tapi guruku ingin aku tahu betul, bagaimana pekerjaan itu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau aku bisa membedakan lingkar warna di tubuh resistor, berarti aku kan tidak buta warna? Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu SMP, aku juga diapresiasi tinggi oleh guru elektroku. Pelajaran ini mensyaratkanku untuk tak salah memilih warna, selain hitungan berbau fisika. Kalau urusan PR, orang yang pertama kali beliau tanya pastilah aku. Bila aku tak ada masalah dengan PR yang ia berikan, berarti semua beres. Beliau tahu, seisi kelas biasa mencontek padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah aku memutuskan untuk masuk STM Otomotif. Selain bisa langsung berorientasi kerja, kabarnya sekolah itu tak banyak mengizinkan siswa-siswanya untuk hura-hura, tak seperti SMA kebanyakan. Faktanya, tes kesehatan memadamkanku. Mereka bilang, “Kamu buta warna separuh. Kalau diterusin, bisa-bisa kabel yang kamu sambung salah. Dan dhuar!!! Semua meledak,” jelas seorang guru pengetes dengan tertawa. Sebuah alasan yang masuk akal. Dengan sedih, aku pun bisa menerima kelemahanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmahnya, aku kemudian banting stir ke SMA favorit di kota tempat aku tinggal. Tak seperti sekarang, dulu masa pendaftaran sekolah kejuruan seperti STM dan SMEA lebih dahulu daripada SMA. Jadi sangat memungkinkan bagiku untuk berpindah ke SMA saat tak diterima di STM. Toh, nilai kelulusan SMP-ku bisa memenuhi kualifikasi. Aku termasuk beruntung. Dari tempat tinggalku, hanya tiga orang siswa yang bersekolah di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan, guru biologiku memberi penjelasan sederhana, “Setiap manusia memiliki tiga tabung warna pokok di dalam matanya. Bila salah satunya rusak, bisa karena gen atau kecelakaan, maka ia tak bisa melihat warna dengan normal.” Belakangan aku juga pernah mendengar, kerbau dan buaya dikaruniai mata yang hanya bisa melihat dunia grayscale, hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku gagal tes masuk ujian perguruan tinggi negeri, sesuai arahan teman bapak, aku menuju Fakultas Geografi yang katanya terakreditasi A. Tapi, aku kembali gagal melewati tes kesehatan. Aku tetap saja buta warna separuh. Dokter ujinya bahkan kasihan melihatku kesulitan menjawab, warna apa yang tengah ia tunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah. Barangkali Tuhan menciptakanku memang hanya untuk hitam dan putih, bukan banyak hal yang berwarna. Tuhan mengirimku agar aku berdiri tegak untuk hitam dan putih; baik dan buruk; benar dan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak dapat menunjuk hijau dengan pasti, aku sangat kesulitan menerka kemakmuran ala bumi yang gemah ripah loh jinawi negeri ini. Aku hanya bisa membayangkannya dengan membangun konstruksi pikir tentang semua kebutuhan material yang selalu bisa didapat. Hijau buatku adalah saat semua kebutuhan sandang, pangan, papan, dan pendidikan terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak bisa mendeteksi coklat, aku kebingungan menengarai kenikmatan hidup. Meski aku doyan cokelat, tapi setelahnya aku bisa mual. Aku bisa terbirit bila ada durian atau sop kambing yang kata beberapa orang adalah masakan terenak di dunia. Aku berusaha mengimbanginya dengan menelaah musik. Meski bermacam aliran, musik tak memaksaku untuk tepat warna. Stevie Wonder bahkan jadi maestro meski ia tuna netra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak bisa meyakini warna pink, aku tak seromantis orang-orang kebanyakan. Aku terbeliak nyalang bila melihat fokus dan keseriusan, tapi tak berkutik di depan puisi. Aku menjadi optimis dengan rasionalisasi pikir, tapi minder berat kalau harus menyapa manis, atau menemani orang agar tak bosan. Aku mendamba masa depan dunia yang lebih baik, tapi merasa asing pada keindahan yang dimaksudkan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sudahlah. Bila memang demikian, aku akan tetap meneruskan hidupku. Karena jelas tak serumit bayanganku tentang penyandang cacat tubuh sejak lahir yang lebih menyedihkan, atau pengidap kanker darah dan AIDS yang hanya menghitung mundur hari. Toh, Tuhan akan menilai seseorang dari tingkat ketakwaannya, termasuk cara hamba-Nya bersyukur atas semua pemberian-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya perlu meminta maaf pada orang-orang di sekitarku, juga yang sangat aku ingini, bahwa aku bukan sosok normal yang bisa menjelaskan indahnya laut, gunung, langit dengan deskripsi warna utuh. Aku hanya perlu meminta permakluman seumur hidup pada orang-orang di sekitarku bahwa aku sosok linier rasional, yang hanya bisa menerjemahkan sesuatu karena bisa melogikakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali aku bisa berlatih, atau berbuat seperti yang orang lain perbuat. Terkadang aku ingin pandai melawak di depan orang yang aku kagumi sampai matanya mengecil dan tak sadar bahwa aku telah menghabiskan lima cangkir teh. Terkadang aku ingin dirasuki kemesraan yang sangat, bersama orang-orang yang berharap padaku untuk bisa berperilaku umum. Terkadang aku mengimpikan kekonyolan ekstra yang menggugah kesadaran agar setiap orang yang mengenalku tak pesimis hidup bersamaku. Terkadang aku ingin berbuat kecil tapi menyejukkan untuk orang-orang yang membutuhkan kehadiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berlatih yang aku maksud tak bisa menyembunyikan kecacatanku. Aku bisa saja mereka-reka keindahan yang diingini orang dengan imajinasi yang aku bangun atas keterangan orang atau buku yang pernah aku baca. Tapi aku tak akan sesempurna mereka yang benar-benar dikaruniai dengan… memahami warna penuh seluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, aku hanya butuh kepercayaan bahwa aku yang tak bisa mendeteksi dunia berwarna ini sebenarnya sangat ingin membahagiakan orang lain, meski tak akan benar-benar nyata seperti umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya, aku akan selalu bisa memaklumi semua hal tak indah yang mampir di kehidupanku. Sebab, aku sadar, sebenarnya aku tak pernah benar-benar bisa menangkap keindahan yang dimaksud orang lain. Aku tahu dunia itu berwarna, tapi aku tak sanggup menunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-3975999600197221683?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/3975999600197221683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=3975999600197221683' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3975999600197221683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3975999600197221683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/03/buta-warna-bukan-penyakit.html' title='Buta Warnaku'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/ScPVOM3lgeI/AAAAAAAAADY/8pIYnIYg0qk/s72-c/24-02-09_1812.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-3132470742744689586</id><published>2009-01-24T06:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T06:48:03.877-08:00</updated><title type='text'>We Will Not Go Down</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXsqFEPVHmI/AAAAAAAAACQ/Co8AFXcHA1E/s1600-h/gaza-blockage-protest.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 202px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXsqFEPVHmI/AAAAAAAAACQ/Co8AFXcHA1E/s320/gaza-blockage-protest.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294872053429902946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;A blinding flash of white light&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;People running for cover&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Not knowing whether they're dead or alive&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Malam Minggu ini aku beruntung. Entah selip hikmah apa yang membuatku membetik ingin, mendengarkan lagu Michael Heart, &lt;i style=""&gt;We Will Not Go Down (Song for Gaza)&lt;/i&gt;. Kemarin-kemarin aku hampir malas membicarakan Palestina, lantaran tak ada lagi yang bisa benar-benar kuperbuat untuk menganulir misil-misil F-16 Israel. Obama mania seperti tak peduli, bahkan merayakan selebrasi pelantikan Presiden AS dengan gegap gempita. Itu kan terhubung erat. Ridwan Saidi bilang, Barack Obama satu marga dengan Ehud Barak. Aduh, diagnosis sama-sama Yahudi ini makin bikin kepalaku belingsatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Seorang kawan meneleponku, khusus bicarakan konflik ini. Aku masih bisa bicarakan banyak hal, lantaran bicara dengan kawan dekat; suasana batinku pun terdukung. Tapi kalau terus-terusan membicarakannya, bisa-bisa aku tak tidur tiga hari. Kepala sesak, banyak alternatif langkah yang bisa diusulkan, tapi kelu karena semua hal itu tak ada gunanya. Setidaknya, mendingan sewaktu di komisariat dulu, yang masih bisa teriak-teriak di jalan, kalau AS-Israel gila-gilaan. Aku bahkan bertekad tak menyentuh produk-produk bisnis mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Yang paling parah, aku semakin sadar, bahwa semua kekuatan aku punya—bahkan kadang aku membanggakannya—benar-benar tak bisa berbuat banyak. Semua terjadi begitu saja. Aku sangat tahu, banyak mayat mati sia-sia di negeriku sendiri. Westerling bahkan menggasak sekitar 40 ribu nyawa. Jutaan orang mati pada Revolusi Kemerdekaan juga Tragedi 1965. Setiap hari ada saja yang mati karena kurang makan, aborsi, praktik kriminal, ketidakadilan orang kaya atau negara, kecelakaan, &lt;i style=""&gt;trafficking&lt;/i&gt;, dan deretan kasus lagi yang tak terbaca. Aku lebih tahu kalau kemiskinan dan kesewenang-wenangan terjadi di depan hidungku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Tapi seharusnya tak harus memisah-misahkannya. Aku marah pada agresi Israel dan aku juga marah pada orang kaya yang tak mau peduli pada kere-kere di sekitarnya. Tak perlu menganggap di antaranya lebih penting. Toh seringnya, tak ada yang benar-benar bisa aku perbuat untuk semua itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;They came with their tanks and their planes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;With ravaging fiery flames&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;And nothing remains&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Aku bilang ke kawanku, “Di dalam Al-Quran, hanya disebutkan kata Yahudi sekali saja. &lt;i style=""&gt;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk.” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.&lt;/i&gt;” (Al-Baqarah: 120)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Aku jelaskan, Yahudi itu kepercayaan. Ada Yahudi, ada bani Israil. Yahudi itu kepercayaan yang didakwahkan kepada bani Israil oleh Musa as. Bani Israil itu bangsa. Nah, belakangan, banyak salah tafsir yang memang dimobilisasi oleh manusia-manusia yang mengaku Yahudi, salah satunya. Menggelindinglah citra bahwa Yahudi sama dengan bani Israil atau Israel itu. Orang Israel merasa bahwa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan, dengan ‘Tanah yang Dijanjikan’. Sementara, orang-orang yang membenci Israel menganggap, semua Yahudi sama dengan Israel. Padahal, ada Yahudi yang tak setuju zionisme.  Banyak juga bukan Israel, yang perilakunya seperti Israel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;We will not go down&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;In the night, without a fight&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;But our spirit will never die&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;We will not go down&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;In Gaza tonight&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Bagiku, agresi Israel memetakan—istilah Hegel—keharusan sejarah. Ada pendakuan dan pengakuan, tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang tak bisa berbuat apa-apa. Kalau dulu, hubungan intim Israel-AS tampak samar-samar, kini dunia tahu, keduanya bermasalah. Dulu, Timur Tengah tampak sangat suci, sekarang mungkin, Kakbah menyesal diturunkan di sana. Dulu, Indonesia yang lemah di dunia internasional masih bisa dipelintir-pelintir; saat ini semua tahu, diplomasi menjadi bagian yang mubazir. Apa gunanya kecewa dan mengutuk Israel, kalo veto masih di AS? Buat apa berusaha mengakomodasi kemarahan rakyat dengan kaum Muslimin terbesar ini, tapi tak punya F-16 lebih dari 15 unit? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan… semua orang kota terus-terusan melahap produksi dagang pro-Israel: Coca-Cola, Huggies, River Island, McDonalds, Clinique, Disney, Donna Karan, Starbucks, GAP, Garnier, Perrier, Kotex, Sanex, JO Malone, Lancome, Libbys, Tchibo, Loreal, Marks &amp;amp; Spencer, Kleenex, Maybelline, Nestle, Vittel, Revlon, wonderbra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Women and children alike&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Murdered and massacred night after night&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Debated on who's wrong or right&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;But their powerless words were in vain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Bahwa tak boleh ada yang bertekuk lutut pada keadaan seperti apa pun. Bahkan dengan korban nyawa lebih dari 3000 orang. Bahwa tak pantas menyerah pada kesulitan semisal apa pun. Bahwa pantang meringis untuk sesuatu yang jelas tak layak dihormati; apalagi menyembahnya. &lt;i style=""&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Ya, &lt;i style=""&gt;we will not go down… &lt;/i&gt;selamanya!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-3132470742744689586?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/3132470742744689586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=3132470742744689586' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3132470742744689586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3132470742744689586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down.html' title='We Will Not Go Down'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXsqFEPVHmI/AAAAAAAAACQ/Co8AFXcHA1E/s72-c/gaza-blockage-protest.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-2253915087234197949</id><published>2009-01-23T10:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T10:38:36.344-08:00</updated><title type='text'>Kaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXoOk7l9pRI/AAAAAAAAACI/fRds-GTVB7U/s1600-h/uang-koin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXoOk7l9pRI/AAAAAAAAACI/fRds-GTVB7U/s320/uang-koin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294560339562439954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;Sekali lagi, bayang-bayang masa depan kembali menggusur berserah diri dan rasionalisasiku tentang limit dunia-akhirat. Semua kembali menyeruak tak kompromi, bahkan tanpa sempat aku gelisahkan ulang. Bombardir seriusnya melesakkan ketidakmampuanku dalam menggusur mental ketidakmampuan yang selama ini terlalu betah nangkring di otakku. Prinsip, terasa sangat prinsipiil. Logis, sangat mengoyak, dan seperti perlu untuk mengeksekusiku pelan-pelan tapi juga sangat pasti. Aku dibawa sepantaran, bahwa aku perlu naikkan &lt;i&gt;bargain&lt;/i&gt; spekulasiku, memilih atau pecundang; selamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;Kalau aku pusing soal kebelumsiapanku menyentuh hari esok, barangkali itu bukan hal baru. Ia adalah persoalan kecil yang terasa besar karena memang belum terjamah. Semua hal terasa rumit dan aneh. Penasaran dan menawarkan kerja ekstra. Tak sesekali pula menyusup keraguan. Ya, aku selalu ragu. Entah karena faktor kalkulasiku atau memang niscayanya keraguan. Sebab, tak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu. Yang tidak meragukan adalah ketidakraguan itu, begitu kata Al-Ghazali. Ada saat bahkan aku ingin menghilang. Tak bersentuhan sama sekali. Purna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;Masa depan memang menuntut banyak hal. Dan sebenarnya, bukan kalkulasiku yang matematis atau mungkin sekadar bicara &lt;i&gt;opportunity an sich&lt;/i&gt;. Sebab, aku yakin, sampai kapan pun, aku tak akan sanggup menyelesaikan hitunganku tentang cita-cita dunia atau bahkan semua hal tentang surga, dan efek dunia buat surga atau… apa sajalah. Semua cepat berujung dan sangat bisa dikriteriakan meski tak sedetail mungkin. Setidaknya, masa depan versi umum sudah cukup menjawab kejengahanku akan quo-nya masyarakat, kondisi masyarakat yang aku maksudkan; terlalu evolutif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-indent: 36pt; line-height: normal;font-family:georgia;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Aku lebih mempersoalkan kemampuan maknawiku dalam kuantitas; dalam berhitungku. Sedapat itukah semuanya kupahami seiring kalkulasiku tentang hidup. Artinya, aku perlu untuk sinergikan semua ukuranku dengan makna. Persepsiku perlu konvergen dengan materialisasi pikir yang mungkin terlalu sekuler untuk diperdebatkan. Agar, tentu saja, aku bisa lebih memaknai kehakikian dunia yang terang-terang... hanya sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: georgia;"&gt;Entah, agaknya hanya persoalan kebingungan sesaat. Galau yang butuh sentuhan baru. Sensasi, hal baru atau mungkin, sekadar modifikasi sayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  lang="EN-GB" &gt;Belakangan, aku pusing memetakan target. Hal yang akan kucapai pada bulan-bulan terakhir. Target tentang kaya dan kebahagiaan… bersamaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-2253915087234197949?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/2253915087234197949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=2253915087234197949' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2253915087234197949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2253915087234197949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/01/kaya.html' title='Kaya'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SXoOk7l9pRI/AAAAAAAAACI/fRds-GTVB7U/s72-c/uang-koin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-2851383448662565847</id><published>2009-01-13T05:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T05:51:51.492-08:00</updated><title type='text'>(Seperti) Tak Umum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWyca2f2q3I/AAAAAAAAACA/5IbhhCVoxQQ/s1600-h/BonnieNNikki.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 216px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWyca2f2q3I/AAAAAAAAACA/5IbhhCVoxQQ/s320/BonnieNNikki.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290775647373142898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mengingat keluarga selalu dramatis. Ingat sewaktu harus bernegoisasi tentang cita-cita, sedikit merajuk, menuntut kebebasan, bahkan dengan predikat ‘terserah’. Ingat bahwa hubungan keluarga memang sakral. Ya, tanpa harus dibicarakan, hubungan orang tua dan anak seperti udara; hubungan kakak dan adik itu seperti napas; dan hubungan keluarga itu seperti ada di bawah alam sadar. Ia berjalan tanpa kontrol yang memadai; keabsolutan tanpa perlu bergerilia epistemologi; jauh dari tampak rasionalitas; menyelisik tanpa ampun untuk berujar bahwa ‘dinasti’ itu sebuah keharusan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Kenangan yang kadang melansir ingatanku pada perlunya pijakan hidup. Sebab, kekangan hasrat itu memang tendensius. Aku perlu membangun kesadaran pikirku dengan pijakan hidup, prinsip, dan keyakinan. Aku perlu pijakan itu untuk identitas, kelebihan peran, bekal bergerak, keinginan besar, plus masa depan. Itu keakuanku. Meski tak begitu fantastis, tak terpikir juga, kalau lantas, pada fase selanjutnya, ternyata aku lebih mampu untuk memahami hidup. Aku sadar sepenuhnya justru karena aku beranggapan bahwa eksistensi itu harus dimanifestasikan dengan menahan hasrat ingin ketemu. Karena, itulah prasyarat kedewasaan. Akhirnya, semua bisa aku dapatkan. Bahkan, aku sempat berpikir, kalau perlu, hasrat dimatikan. Meski kadang, aku sempat berpikir juga, kalau jangan-jangan aku sudah mati rasa dan tiba-tiba menjadi tak berperasaan hanya gara-gara, bagiku, rasa itu perlu dimatikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Aku berpersepsi, kalau saja aku tak sanggup kondisikan perasaanku, berarti aku masih sangat bergantung; tak eksis. Tandanya, aku belum dewasa dan masih berpikiran orang kebanyakan. Mesti pacaran, mesti ngapel, mesti kasih hadiah, mesti telepon-teleponan, mesti bohong hanya karena aku butuh sensasi, dan seabrek aktivitas parsial lain yang tak idealistis. &lt;st1:place st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt;, kalau eksistensi yang sama malahan melahirkan banyak strata eksistensi. Pola kebanyakan memang perlu untuk dibongkar keabsahannya. Apalagi kalau bukan tentang emansipasi pikir yang bukan feodalistis. Perlu distribusi keyakinan yang berlandasan; tidak turun-temurun dan menerima apa adanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Heh, bagaimana kalau saja perasaanku terlalu cepat mati? Sebab, aku juga tak sanggup kalau selamanya dianggap aneh. &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  lang="EN-GB" &gt;Ah, terlalu berlebihan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-2851383448662565847?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/2851383448662565847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=2851383448662565847' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2851383448662565847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2851383448662565847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/01/seperti-tak-umum.html' title='(Seperti) Tak Umum'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWyca2f2q3I/AAAAAAAAACA/5IbhhCVoxQQ/s72-c/BonnieNNikki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-8460609375665895430</id><published>2009-01-08T08:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T08:59:23.654-08:00</updated><title type='text'>PARAMETER</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWYw21uNlpI/AAAAAAAAAB4/IFQ6DxYecbE/s1600-h/Choice.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWYw21uNlpI/AAAAAAAAAB4/IFQ6DxYecbE/s320/Choice.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288968531085203090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Jadi orang memang susah. Waktu coba berontak semua hal yang menurutku sangat membingungkan di dunia ini, ada yang mengatakan, aku terlalu ‘kemaruk’. Bahkan, ada yang yakin kalau aku kufur nikmat; tak bersyukur. Di waktu yang lain, kalau aku lantas menerima apa adanya, &lt;i style=""&gt;nrima ing pandum&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;taken for granted&lt;/i&gt;; stempel yang kemudian ada, aku disebut apatis, fatalis, atau malah jabariyah. Lebih jauh, aku dianggap tidak revolusioner. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Seperti biasa, aku lantas menjadi sangat kebingungan. Aku seperti ada dalam dua kekuatan besar yang sangat bersemangat untuk berhadap-hadapan. Antara memilih takdir dan menebak takdir; antara eksistensialis dan pragmatis; antara teosentris dan antroposentris; antara aku dan mereka; antara personal dan masyarakat; antara kesalehan dan kemusyrikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Paling-paling, untuk menyelesaikan persoalan ini, ujungnya, menurutku, semua tergantung proporsi yang akan kubangun. Tapi, biasanya, muncul pertanyaan serius lanjutan. Lantas bagaimana standardisasinya? Waduh, dengan kekalahan telak, aku pun akan kebingungan untuk kedua kalinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Kalau parameter hasil bikinan personal sih ada, hanya, apa itu benar-benar objektif? Subjektif; itu klaimnya. Sebab, aku juga selalu meragukan semuanya termasuk kesubjektivitasanku berpikir. Sebab, selama ini, aku juga selalu berpijak pada relativitas berpikirku. Semua sangat relatif buatku. Hingga kini, aku masih meyakininya. Artinya, kedinamisan adalah hal nyata yang tak dapat disangkal apalagi disalahkan. Sebagai sebuah hal yang niscaya, untuk merunutkan dan merumuskan banyak hal tentang dunia ini, aku perlu untuk mengkover semua hal termasuk mengesahkan keraguanku yang bahkan, sering meliarkan kekuatan pikirku tentang apa pun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Biasanya, kalau kemudian ada yang bertanya tentang parameter pikirku, kalau aku tak kebingungan, aku pasti akan percaya diri untuk mengumbar parameterku sendiri. Aku selalu percaya diri untuk membentuk persepsiku tentang apa pun dan kapan pun. Sebab, dunia ini terbentuk karena persepsi. Kalau terminologinya menarik, itu karena aku berani untuk mengungkapkan bahwa persepsiku tentang sesuatu itu memang menarik. Apa pun motif persepsiku atau pengaruh dari luar pikirku, aku akan selalu berusaha untuk memunculkan persepsiku itu &lt;i style=""&gt;pure&lt;/i&gt; dariku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Nah, kalau lantas ada yang beranggapan bahwa kufur itu tak bersyukur, bagaimana dengan orang-orang yang tiap saat tak pernah merasa puas berpikir? Ia haus ilmu, bahkan gila ilmu. Apakah itu juga kufur? Apakah aku juga selalu bicara parameter? Berarti, apakah aku terlalu pilih-pilih dan suka membanding-bandingkan? Apakah aku juga terlalu rakus? Berarti, apakah aku terlalu ingin berkuasa dan bebas memilih? Apakah ....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;"&gt;Ah, parameter itu sulit.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-8460609375665895430?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/8460609375665895430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=8460609375665895430' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8460609375665895430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8460609375665895430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2009/01/parameter.html' title='PARAMETER'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SWYw21uNlpI/AAAAAAAAAB4/IFQ6DxYecbE/s72-c/Choice.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-8708000687919373941</id><published>2008-12-18T08:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T08:17:27.513-08:00</updated><title type='text'>2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SUp3gISn4nI/AAAAAAAAABw/t01MMtYrbyA/s1600-h/newyear2008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SUp3gISn4nI/AAAAAAAAABw/t01MMtYrbyA/s320/newyear2008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281164906910442098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;HP-ku berderit. Sebuah nomor asing terpampang di layarnya. Ternyata, Deny Mulya Barus, seorang kawan lama yang kini jadi reporter Majalah &lt;i style=""&gt;Gatra&lt;/i&gt;. Dulu, dia sempat mengenyam kaderisasi HMI Sukoharjo Komisariat Ahmad Dahlan I. Ia kemudian memutuskan untuk ‘moncer’ di IMM Sukoharjo plus Persma FAI, Islamika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Setelah saling sungkan, ia bertutur kesan tentang pilihan aktivitasku sekarang. “Wah, sekarang bisa jadi pro ya? Dulu kan anti?” Pertanyaan sederhana yang menukikkan kesalehanku di masa lalu, barangkali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Aku terbahak seadanya. Bukan soal kalimat barusan. Apalagi, kalimat serupa telah sering aku dengar setahun ini. Aku tertawa untuk netralisasi suasana, bahwa semua tetap seperti dulu. Ya, saat visi kemahasiswaan diretas untuk Indonesia yang lebih baik. Saat visi media bersanding dengan perubahan, berkelindan dengan keperkasaan modal yang sulit dipongahi. Aku dan Deny sempat mempelajarinya bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Aku tertawa untuk kesan yang sebenarnya, meresahkanku. Resah bukan lantaran aku merasa tengah berada di jalan yang salah. Tapi resah karena barangkali, ada fatwa laten, tentang aku yang seharusnya tak seperti sekarang. Ya, aku merasa, banyak kawan yang berbaik hati meluangkan karsa untuk hidupku, yang ‘seharusnya’ tak di tempatku ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Selontar kalimat aku &lt;i style=""&gt;feed back&lt;/i&gt;-kan agar suasana berimbang. “Gaya bicara kamu udah mirip diplomasi media, Den. Udah ngga gaya politikus lagi seperti dulu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Dan tawa membuncah renyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Benar, ada apa denganku setahun ini? Aku sering menanyakannya, serius. Mengapa aku tak sanggup lagi menulis buku untuk kemaslahatan (bangsa), semisal? Aku punya &lt;i style=""&gt;Salmanism&lt;/i&gt; (2002), &lt;i style=""&gt;Ecoideanomics&lt;/i&gt; (2003), &lt;i style=""&gt;HMI Makkiyah&lt;/i&gt; (2004), &lt;i style=""&gt;Born to Be Free&lt;/i&gt; (2005), &lt;i style=""&gt;Beyond Growl&lt;/i&gt; (2006), &lt;i style=""&gt;Bertaruh Citra Dakwah&lt;/i&gt; (2007). Aku tak punya apa-apa di 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Apa yang aku dapat dari Jakarta setahun ini? Aku seakan tergopoh untuk reposisi bangsa yang semakin sulit. Jakarta mengajarkanku untuk semakin yakin bahwa semua konstelasi yang terjadi adalah ciptaan. Ya, &lt;i style=""&gt;by design&lt;/i&gt;. HMI Sukoharjo mengenyalkan benakku untuk membangun prasangka, lantaran ada khazanah postmodernisme seputar &lt;i style=""&gt;simulasi&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;simulacra&lt;/i&gt;. Persma Pabelan mendedahkan &lt;i style=""&gt;professional skepticism&lt;/i&gt; pada runutan jurnalisme investigasi. Wajar kalau kemudian aku semakin yakin, banyak rencana operasi yang telah berhasil mengacak-acak negeri ini, tapi aku tak tahu banyak. Sisanya, akan semakin bertambah banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Semua operasi itu jelas untuk mengamankan modal besar. Sejauh yang aku tahu, untuk berkompetisi dengan modal, hanya bisa dilakukan dengan modal atau mungkin… jaringan. Dan aku membahasakan jaringan itu sangat sederhana. Ya, apalagi kalau bukan… kebersamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-8708000687919373941?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/8708000687919373941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=8708000687919373941' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8708000687919373941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8708000687919373941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/12/2008.html' title='2008'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SUp3gISn4nI/AAAAAAAAABw/t01MMtYrbyA/s72-c/newyear2008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6764512697101256924</id><published>2008-10-13T23:09:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T23:16:30.779-07:00</updated><title type='text'>Ikut Komentar Soal Laskar Pelangi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SPQ5HGV4h7I/AAAAAAAAABo/NKve2RyIfIQ/s1600-h/Laskar+Pelangi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SPQ5HGV4h7I/AAAAAAAAABo/NKve2RyIfIQ/s320/Laskar+Pelangi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256889459172476850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi—penisbah fungsi pelangi yang tak selalu melangit tapi juga sangat bermakna bagi perjuangan kaum kurang—pernah berujar, “Pagi itu hujan turun deras. Saat datang ke sekolah, saya lihat Bu Mus datang dengan berpayung daun pisang. Saya kemudian berjanji dalam hati bahwa suatu saat, akan saya tulis buku tentang ibu guruku ini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sederhana tapi menyentuh dasar keterenyuhan insan akan peliknya kekurangan. Tak muluk-muluk tapi melampaui cita-cita ideal tentang hidup yang harus selalu lebih baik. Umum tapi mengingatkan kadar religisiutas yang semakin tipis dalam benak masyarakat gila materi seperti sekarang. Jauh dari ekspresi meledak-ledak tapi menggerus keinferioran mentalitas kalangan yang sepertinya tak pernah berpeluang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dan setelah semua semakin baik, dengan sekuat hati Hirata pun menuliskan berjejal kenangan mengagumkan tentang arti pengabdian itu pada enam minggunya yang berkesan. Lahirlah novel yang menginspirasi banyak punggawa kemanusiaan itu dengan selusin kesederhanaan menjanjikan seputar reputasi hidup, yang bersudut pandang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sebenarnya, Hirata tak pernah berkeinginan menawarkan bukunya itu ke penerbit komersil, apalagi hingga difilmkan. Ia hanya berkeinginan untuk mengikat sejarah masa kecilnya itu dengan tulisan, untuk kemudian difotokopi dan dipersembahkan kepada Bu Mus, sosok yang sangat menggugah makna kesungguhan dirinya untuk terus berbuat baik dalam kondisi sesulit apa pun. Ini dari hati ke hati. Ini tentang penghargaan personal yang jelas mengharu biru, tapi tak berbau publisitas. Ini soal ungkapan kebahagiaan yang baru bisa dirangkai dalam hitungan puluhan tahun kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tapi tampaknya, kekuatan hikmah itu ternyata memang harus berujung pada sebentuk keniscayaan, bernama pemerataan pada khalayak. Atau sebutlah, dakwah. Atau katakanlah, setiap hal baik akan tercium aroma dan nuansa hingga jauh. Sekuat apa pun seseorang untuk tak ingin tampil di depan khalayak atas &lt;i style=""&gt;derby&lt;/i&gt; ikhlas-riya, kebaikan akan menyebar cepat dan berbuah keterkenalan. Sesederhana apa pun niatan seseorang untuk berbuat baik, gelombang penghargaan itu akan datang; bukan lantaran keinginan singgah di hati publik, tapi karena kebaikan itu memang selalu akan diakui adanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pun bila semua tak semegah sekarang. Hirata mengaku, ia bukan seorang sastrawan. Sekali lagi, ia hanya ingin memberikan hadiah pada sang guru tercinta. Segurat dengan bicara Natsir, “Bila pun Masyumi tak ada, saya akan tetap berjuang di jalur Islam.” Artinya, novel itu tetap akan ia persembahkan pada Bu Mus, andai tanpa semua popularitas ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Semua tampak semakin meriah ketika analisis yang dikemukakan adalah strukturalis. &lt;i style=""&gt;Denias&lt;/i&gt; merilis pentingnya pendidikan, tapi tetap berkolaborasi pada modal raksasa. Faktanya, Denias asli ternyata tengah disekolahkan PT. Freeport. John de Rantau, sang sutradara, mengaku banyak kisah klise di sana; agar film tampak menarik. &lt;i style=""&gt;Gie&lt;/i&gt; justru melahirkan dikotomi serius, siapa yang benar-benar berjuang dan siapa yang memanfaatkan perjuangan untuk kepentingan pribadi. Film ini mereputasikan kelompok non-gerakan politik sebagai pahlawan yang sebenarnya. Terlalu tendensius. Semestinya diakui saja bahwa semua kelompok yang ada kala itu turut berkontribusi pada perubahan yang lebih baik. Juga film-film idealis garapan Garin Nugroho yang justru tak bisa dirasakan sebagai karya menjejak di dalam negeri. Ia lebih memilih untuk menjualnya ke luar negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Laskar Pelangi &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;berkisah tentang keresahan luar biasa Hirata atas kondisi republik yang sama sekali tak punya keberpihakan pendidikan kepada rakyat miskin. Tapi ia tak terlalu menyalahkan lingkungan, termasuk negara. Keringatlah kata kuncinya. Ketekunanlah sandi saktinya. Keberanianlah slogan sucinya. Pesan pentingnya, ketergantungan adalah kecualian. Untuk berbuat baik, setiap yang dipunya dapat diberdayakan. Bukan sekolah yang berdinding megah tujuannya. Bukan anak didik yang bermobil. Bukan guru-guru keluaran kampus asing. Bukan fasilitas sekolah yang sangat digital. Ya, ada yang lebih penting. Mental untuk sadar bahwa setiap orang dapat berbuat lebih baik adalah aset yang tak terkira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dedikasi tentu berhulu pada rasa kepemilikan yang sangat. Tak ada yang lebih membahagiakan selain merawat semua hal yang dimiliki. Tak ada yang lebih menggairahkan selain mempertahankan kepemilikan itu dengan berbuat yang terbaik. Tak ada yang lebih menyenangkan selain untuk mengabdi pada rasa memiliki, karena sebanding dengan kebaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Hirata punya rasa memiliki itu. Ia tak peduli dengan semua kengerian hidup karena ia telah merasa memiliki sesuatu yang menurutnya, sangat berarti. Ia kesulitan untuk larut dalam kegerahan pemuja kosmopolitan, lantaran rasa kepemilikan yang membuatnya kuat bertahan. Ia bisa jadi ngeri dengan tawaran hidup yang gemerlap, karena bayangan idealnya tentang kesederhanaan yang terwujud atas penghormatan kemanusiaan. Ya, semua itu mencukupi kadar kemanusiaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dedikasi mensyaratkan kepercayaan diri yang telah dimiliki. Telah dimiliki itu tertaut jiwanya. Akan sakit bila yang satu disakiti. Akan senang bila yang satu berbahagia. Akan kehilangan bila yang satu tak ada. Mereka jelas saling merindukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6764512697101256924?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6764512697101256924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6764512697101256924' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6764512697101256924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6764512697101256924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/10/ikut-komentar-soal-laskar-pelangi.html' title='Ikut Komentar Soal Laskar Pelangi'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SPQ5HGV4h7I/AAAAAAAAABo/NKve2RyIfIQ/s72-c/Laskar+Pelangi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-2892859687826474937</id><published>2008-09-09T19:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T19:37:41.049-07:00</updated><title type='text'>PRAKSIS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SMcy5JOBgKI/AAAAAAAAABQ/K7jdfPslkxA/s1600-h/logo-praxis-tree.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SMcy5JOBgKI/AAAAAAAAABQ/K7jdfPslkxA/s320/logo-praxis-tree.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244216248404902050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam aksi politik sebagai &lt;i style=""&gt;avant garde&lt;/i&gt; (baca: pemimpin) dikelilingi oleh beribu-ribu proletar dan nonproletar sebagai &lt;i style=""&gt;reserve&lt;/i&gt; (baca: pendukung), dan disukai oleh seluruh rakyat yang tertindas sebagai &lt;i style=""&gt;landstorm &lt;/i&gt;(baca: kekuatan penekan), kita bisa menang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tan Malaka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; dalam &lt;i style=""&gt;Semangat Muda&lt;/i&gt; (1926)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;TEPATKAH sekolah anak-anak penerus bangsa kita? Akankah setelah lulus nanti, pekerjaan bisa gampang didapat? Apa pula perlunya bergabung ke organisasi perjuangan? Apakah ia dapat dijadikan tumpuan untuk cepat lulus dan punya banyak uang? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Berderet pertanyaan serupa bisa jadi lebih banyak dalam benak anaks sekolahan baru—bahkan lama—siapa pun dia. Pertanyaan yang selalu mengiringi hari-hari sekolah mereka lantaran terkadang, sekolah mereka memang tak segemerlap yang lain. Kekhawatiran ini mungkin semakin meninggi saat dijumpai kenyataan bahwa ternyata kawan-kawannya lebih tinggi reputasinya. Minimal, untuk uang saku dan tongkrongan sepintasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Namun benarkah serumit itu? Benarkah anak sekolahan tak memiliki prospek? Benarkah organisasi perjuangan hanya tempat untuk menghabiskan waktu? Akankah lulusan sekolah di kita mampu memberikan yang terbaik bagi agama, nusa, bangsa, orang tua, juga dirinya sendiri?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, alangkah lebih baiknya kita diagnosis kondisi Indonesia hari ini. Sebab, situasi nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi global, lantas turut berpengaruh besar pada kondisi lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Indonesia Hari Ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Alangkah mujurnya anak-anak sekarang. Mereka dihadapkan pada permasalahan kompleks kebangsaan yang entah kapan bisa terselesaikan. Yang paling dekat, biaya sekolah terasa semakin mahal dan harga-harga kebutuhan kuliah pun tinggi. Belum lagi soal gaya hidup dan pemuasan keinginan pribadi yang tentu, ingin diakui sebagai seseorang yang ‘berkecukupan’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sekolah saja belum lulus, sementara di kertas makalah yang tiap saat mereka digeluti terpampang jutaan data pengangguran. Mendapatkan nilai tinggi saja mesti berpeluh-peluh, sementara kenyataan membuktikan, lulusan bernilai tinggi tak selalu beruntung setelah lulus. Dan semua itu ternyata berhubungan erat dengan realitas nasional Indonesia yang setidaknya bisa diringkas menjadi empat hal: kemiskinan, kebodohan, monopoli, dan negara yang lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, kemiskinan. Karena masyarakat Indonesia masih berpendapatan rendah maka kemiskinan pun di mana-mana. Anak-anak orang miskin tak punya banyak pilihan karena kompetisi mengharuskan uang yang kadang, tak sedikit. Lihatlah uang yang disediakan beberapa orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke instansi terpandang. Bila tak ada uang, mereka akan kalah bersaing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, kebodohan. Karena miskin, banyak orang yang tak bisa sekolah. Kalau pun bisa kuliah, mereka akan masuk ke jurusan yang tak terlalu menguras uang. Fasilitas yang sedikit karena sekolahnya murah akan membentuk lulusan yang tak terlalu menguasai &lt;i style=""&gt;skill&lt;/i&gt;. Banyak dari mereka yang kemudian tak bisa bersaing hanya karena dulu, laboratorium sekolah lain lebih komplit dan jaringan pendidikannya lebih variatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, monopoli. Lulusan sekolah-sekolah di Indonesia dihadapkan pada kondisi ekonomi yang dikuasai kapital besar. Di sana-sini banyak perusahaan yang hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya di negeri ini. Kalau pun berniat wirausaha, karena modal tak sebesar perusahaan-perusahaan itu, mereka akan sangat kewalahan. Maka wajar kalau banyak lulusan kampus yang lebih memilih menjadi buruh/karyawan atau PNS.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, negara yang lemah. Semua problem itu sebenarnya akan sedikit tertolong bila negara kuat. Tapi lihatlah, banyak sekali kebijakan publik yang berpihak pada kapital besar daripada rakyat. Sebabnya jelas. Kapital besar saat ini telah menguasai negara dan dapat seenak perutnya mengarahkan kebijakan pemerintah, meskipun itu berurusan dengan hajat hidup rakyat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Penggolongan Kelompok&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Lebih lanjut, sebenarnya negeri ini hanya diisi oleh empat kelompok dominan. Mereka saling memperkuat diri untuk mengalahkan yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kapital Besar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kapital besar yang dimaksud adalah perusahaan swasta, baik dalam maupun luar negeri, yang memiliki modal besar. Mereka memiliki ribuan bahkan ratusan ribu buruh/karyawan. Walau ada serikat pekerja dan bermacam tekanan dari negara dan kelompok masyarakat yang menginginkan kehidupan buruh/karyawannya lebih sejahtera, tapi tetap saja perusahaan-perusahaan itu tak bisa dipengaruhi. Mereka sering beranggapan, “Hari ini perusahaan memecat seribu buruh/karyawan, di meja HRD telah ada sepuluh ribu lamaran kerja.” Akhirnya, mereka tak sungkan untuk mengatur gaji buruh/karyawan serendah mungkin. Bila kemudian ada perusahaan bermodal kecil tapi juga sewenang-wenang seperti perusahaan besar maka mereka juga bisa dikategorikan pada kelompok yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Negara yang dimaksud adalah pemerintah. Karena saat ini era negara-bangsa (&lt;i style=""&gt;nation-state&lt;/i&gt;) maka negara sangat diperlukan untuk melakukan konsolidasi nasional dengan doktrin baku, nasionalisme. Mereka diharapkan mampu mempersatukan negeri dan dapat menjadi administrator yang baik bagi rakyatnya. Negara memiliki pegawai-pegawai pemerintahan untuk melaksanakan semua fungsinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Proletar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Proletar adalah sebutan kelompok bagi semua kalangan yang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan perusahaan. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil. Dan ia bisa jadi juga seorang intelektual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Nonproletar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Nonproletar diisi orang-orang yang berprofesi sama dengan kelompok proletar, tapi mereka hanya berorientasi pada kepentingannya. Ia bisa jadi seorang buruh/karyawan yang hanya memikirkan gaji dan tak peduli pada yang lain. Ia bisa jadi seorang petani atau pedagang kecil yang hanya ingin kekayaan pribadi. Ia bisa jadi juga seorang intelektual yang mau dibayar untuk kepentingan kapital besar atau negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Landasan Pikir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Untuk menyelesaikan persoalan, landasan pikir juga sangat penting. Beberapa hal dapat dijadikan referensi untuk memberikan keyakinan pada diri sendiri atau kelompok. Keyakinan tentang hidup yang harus selalu lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, kekayaan itu bukan milik manusia. Ia adalah amanah dari Allah Swt. Adanya si kaya dan si miskin pada setiap zaman itu keniscayaan atau sebuah keharusan sejarah. Kalau tak ada si miskin tentu si kaya tak ada. Begitu pun sebaliknya. Artinya, kedua kelompok ini ada memang tidak untuk dibenturkan. Persoalan muncul saat si kaya zalim pada si miskin dengan tidak memberikan sebagian hartanya untuk membantu si miskin. Atau saat si miskin memilih untuk berbohong, menipu, dan berperilaku buruk sejenis untuk menjadi kaya. Saat disadari bahwa kekayaan atau kapital itu hanya amanah maka persoalan kemiskinan tak perlu saling menyakiti. (Catatan: disebut kemiskinan karena berisi kumpulan persoalan tentang si miskin. Kemiskinan juga akan selalu ada menemani kekayaan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, hidup tidak untuk berlebih-lebihan. Apa hebatnya bila seseorang memiliki kekayaan melimpah tapi ada tetangganya yang masih kekurangan? Apa enaknya dipuji-puji orang sebagai sosok sukses, tapi tak bisa membantu kawan sendiri yang terbelit persoalan rumah tangga, terutama keuangan atau PHK?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, akumulasi atau pemusatan modal itu merusak keseimbangan sosial. Sudah wajar adanya bila pemerataan kapital itu penting. Bila kapital hanya terpusat pada segelintir orang maka akan terjadi ketimpangan, dan berbuah &lt;i style=""&gt;chaos&lt;/i&gt; atau kerusakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, pentingnya pendidikan bagi semua. Dalam kondisi sesulit apa pun, pendidikan sangat penting bagi perkembangan manusia dan kemanusiaan. Bila masyarakat di suatu tempat sudah tak lagi mendapatkan pendidikan karena bermacam hal, termasuk karena miskin, maka mereka tinggallah menunggu kehancuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, kultur egaliter-demokratis atau menganggap setara sebagai manusia sangatlah penting bagi keberlangsungan kemanusiaan. Dengan itu, tak ada lagi keinginan untuk menguasai, dan saling menghormati sesama manusia akan langgeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Keenam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, nasionalisme juga penting. Kompetisi global mensyaratkan soliditas nasional yang kuat. Bila tak ada persatuan dan kesatuan nasional, negeri ini akan sangat gampang dikuasai bahkan dihancurkan bangsa lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pola Aksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setelah mendiagnosis persoalan, diperlukan pola aksi untuk kemudian diturunkan pada program-program nyata. Lebih lanjut, ini dapat disebut dengan ‘gerakan perjuangan’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, konsolidasi proletar. Mengapa tidak konsolidasi kelompok yang lain seperti negara, kapital besar, atau nonproletar? Sebab, saat ini, kelompok proletarlah yang paling dapat diharapkan menyelesaikan persoalan lantaran mereka selalu berpikir kesejahteraan dan keadilan rakyat banyak. Mereka juga menginginkan perubahan dan berusaha keras mengurangi kezaliman kapital besar. Sementara, nonproletar hanya mementingkan kepentingan mereka saja. Dan negara sangat lemah posisinya di depan kapital besar. Pada tahap ini, organisasi perjuangan dapat diharapkan menjadi ajang terwujudnya konsolidasi proletar. Jadi, dari organisasi perjuangan akan lahir banyak figur yang berpikir tentang kepentingan rakyat banyak. Sebab, bila mereka terbiasa menyelesaikan persoalan kompleks maka persoalan pribadi mereka akan relatif gampang bisa dipecahkan. Mereka akan mandiri dan berguna bagi orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, membuka unit usaha di sektor ekonomi basis. Tahap ini sulit bagi umumnya anak sekolahan, tapi dapat dianggap sebagai ladang pengalaman untuk kemudian ditekuni ketika lulus. Kata kuncinya adalah pemberdayaan. Organisasi perjuangan semestinya dapat melakukan kreasi-kreasi untuk membentuk komunitas yang mandiri, untuk kemudian diarahkan pada masyarakat yang mandiri. Mandiri yang dimaksud itu tidak tergantung pada perusahaan besar atau negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, memberikan pendidikan bagi semua. Pendidikan yang dibidik tidak hanya formal, tapi juga informal dan nonformal. Formal itu sekolah umum dan resmi. Sementara informal itu sekolah tanpa gedung dan tanpa sertifikat; bisa pengalaman atau autodidak. Pendidikan nonformal adalah pendidikan luar sekolah tapi bersertifikat seperti kursus-kursus. Jadi, kalau tak bisa membuat sekolah, bisa digelar training singkat. Bila pun itu tak bisa terwujud dapat dilakukan kaderisasi terstruktur, tanpa sekolah dan training. Organisasi perjuangan tentu akan sangat berguna untuk melakukan pendidikan yang dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;, komunitas ini akan mempengaruhi perubahan sosial, juga mengurangi dominasi kapital besar dan membuat pemerintahan lebih berkualitas. Bila ini berhasil, semua pertanyaan di awal tulisan akan bisa diselesaikan, termasuk memotong lingkaran setan kemiskinan. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-2892859687826474937?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/2892859687826474937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=2892859687826474937' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2892859687826474937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2892859687826474937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/09/praksis.html' title='PRAKSIS'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SMcy5JOBgKI/AAAAAAAAABQ/K7jdfPslkxA/s72-c/logo-praxis-tree.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-4119681295333728733</id><published>2008-08-28T06:15:00.000-07:00</published><updated>2008-08-28T06:30:19.719-07:00</updated><title type='text'>REVALAGUE-Revolusi Ala Gue</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SLal3tHnDdI/AAAAAAAAABI/ulqZccYUXFs/s1600-h/revolution_fist.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SLal3tHnDdI/AAAAAAAAABI/ulqZccYUXFs/s320/revolution_fist.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239557592915054034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ideologi terasa usang setelah tesis Huntington seperti membelah kesumat kaum anti-Barat yang ‘seperti’ anti-kapitalisme. Sebab nyatanya, hari ini, kapitalisme justru berkolaborasi dengan globalisasi bertajuk kapitalisme global. Ia bahkan mirip senyawa yang terus beranak-pinak, dan membingungkan oposan-oposan sejatinya. Lihatlah, kapitalisme global ternyata menyimpan nafsu neoliberalisme yang sarat pragmatisme, individualisme, dan hedonisme. Isme ikutan yang kemudian turut nangkring dalam &lt;i style=""&gt;chart&lt;/i&gt; komunalisasi isme tak berujung itu melahirkan sekularisme, humanisme, dan pluralisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Lebih dalam, Thomas Kuhn memilih diksi ‘paradigma’ untuk menggantikan ideologi; genre baru adukan bermacam isme bernada ekletik yang membangun komposisi cita-cita ideal, dunia yang lebih baik. Publik yang semakin tak peduli pada isme, dan memilih sebentuk apa pun asal menyejahterakan, semakin membuat diskursus tentang ideologi menyusut drastis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Meski beberapa negara masih yakin pada dua isme besar, kapitalisme dan sosialisme, tapi secara umum gejala menipis dan memudarnya ideologi semakin tampak pada realitas bernegara saat ini. Pada Musda HMI Jateng-DIY terakhir di Balai Kota Solo, Anas Urbaningrum &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;mengutip pernyataan Menlu RRC ketika berkunjung ke Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Menurut kami, ada kekuatan pasar yang bergerak dan sulit untuk kami lawan. (Ia sedang mendukung kapitalisme global. Padahal, Cina jelas-jelas komunis yang anti-kapitalisme) Kami tidak peduli apa nama sistem ekonomi kami… yang penting, rakyat kami bisa sejahtera.” Anas mengingatkan bahwa kapitalisme, sosialisme, atau apa pun namanya tidaklah terlalu penting. Dan hal yang paling pe&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;nting adalah kemakmuran bangsa.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa faktor kunci pembentuk kecenderungan dan kebijakan di negeri ini secara berurutan, yaitu ekonomi, kepemimpinan, budaya, birokrasi, dan agama. Betapa Anas memang khawatir terhadap nalar komunitas &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;HMI &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;yang terlalu haus kekuasaan. Sebab, baginya, ternyata, uanglah yang mendominasi negeri ini. Setelah itu, baru figur pemimpin, tatanan sosial, kemudian kekuasaan. Agama, secara nyata, hanya d&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;itempatkan pada akhir analisis. Entah di posisi mana Anas menempatkan ideologi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pada 1999 silam, kepada kader-kader HMI Cabang Sukoharjo sewaktu berkunjung ke sekretariat pasca membuka Ospek UMS, ia berfatwa, “HMI tidak usah masuk ke dalam perdebatan soal gerakan kiri atau kanan. Yang penting dilakukan oleh HMI adalah mengembangkan kritisisme dan reproduksi intelektual.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Lengkap sudah. Bahkan mungkin, bila ada diskusi tentang matinya ideologi sekalipun, tak akan banyak orang yang peduli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sebuah kalimat penting Cak Nur pun terngiang, “Kebenaran tidak akan bertentangan dengan sunatullah.” Artinya, bila ideologi bertentangan dengan sunatullah, ia akan hancur dengan sendirinya. Seperti diketahui, Cak Nur juga memberi tesis penting tentang Islam yang berbeda dengan islamisme. Ya, Islam tidak sama dengan ideologi Islam atau islamisme. Pada konteks ini, Islam akan menginspirasi lahirnya berlaksa-laksa ideologi, untuk kehidupan yang lebih baik. Artinya, ideologi hanya sejenis buah pikir, yang bisa saja terus diperbarui agar kontekstual. Ideologi tetap masih ada bila terus dikreasikan, dan… tak bertentangan dengan sunatullah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Inisiasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Beberapa waktu yang lalu, seorang kabid PTK/P Komisariat Umar bin Khathab (HMI Sukoharjo) berdiskusi banyak bersamaku. Ia hendak membangun &lt;i style=""&gt;cluster&lt;/i&gt; pertanian, dari pembenihan hingga &lt;i style=""&gt;market&lt;/i&gt;. Sederhana saja, ia bilang padaku, “Petani kita perlu eksis.” Yang menarik, dia bukan tipe &lt;i style=""&gt;based on state&lt;/i&gt;. Dia bukan tipe kader HMI yang tak bisa bergerak bila tanpa &lt;i style=""&gt;back-up&lt;/i&gt; sistem besar. Ia hadir tanpa peran negara, perusahaan, atau dana-dana sumbangan. Ia memutuskan untuk merangkul beberapa kawan, dan menyiapkannya, swadaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ia bolak-balik Sleman, Solo, dan beberapa tempat di Jawa Timur untuk belajar dan menggelar simulasi pertanian, yang menurutnya menyenangkan. Ia tak hambar mimik saat membekap semua teorisasi tentang kemandirian, yang tak komplit, hanya karena sang teoretikus yang belum bergabung. Sebentuk kekurangcerdasan menyeimbangkan semuanya; keluarga, modal, menikah, dan mungkin... mengabdi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sejenak, aku mulai berkernyit pikir. Barangkali karena ia belum menikah, hingga ia tak sepusing kawan-kawan berstatus menikah. Ia juga baru hendak lulus, yang mungkin bisa dianggap belum berpengalaman. Atau yang paling nyinyir, banyak orang akan menilai, “Ia terlalu bersemangat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Apa pun, aku merasa perlu untuk memberitahukan pada khalayak tentang gejala baru yang barangkali bisa direspons positif. Untuk sebuah cita-cita tentang hari yang lebih baik. Aku tergiur bukan lantaran semangatnya, tapi karena sejak awal... ia berhasil mengetengahkan aktivitas pemadu kepentingan diri dan hajat hidup orang banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dulu, aku pernah bicara banyak pada salah seorang kawan tentang kemandirian rakyat. Sebuah diskursus rumit lantaran korporasi besar sering tak memberikan pilihan. Ada kesepakatan yang belum final tentang kemandirian dan pendidikan untuk masyarakat yang sedikit terumus, meski kemudian... hingga hari ini, semua masih saja di benak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku pernah agak beralis tinggi sewaktu salah dua kawan menawarkan kewirausahaan. Bagiku, bila tanpa pemahaman keyakinan akan perlunya distribusi pendapatan, meski di beberapa hal ada tawaran pemberdayaan, ini akan menjadi akumulasi modal baru. Dan sejauh yang aku pikir, ini mengerikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku juga sempat bergerilia pilihan saat salah tiga kawan hendak menjadi pencari bakat bagi sekolah-sekolah asing di sekitaran Jakarta, yang menurutku, hanya melanggengkan dominasi modal dan korporasi besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dialektika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sebelum bicara lebih jauh, ada problem yang sering menjadi ikutan inisiasi. Aku menyebutnya, perilaku altruis yang jumawa. Altruis karena selalu berurusan dengan hajat hidup orang banyak. Menyelesaikan persoalan, salah satunya. Jumawa karena serasa sendiri hadir dalam semua aktivitas altruis itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku kutip sedikit tesis &lt;i style=""&gt;Madilog&lt;/i&gt; karya Tan Malaka bahwa masyarakatlah yang menentukan ide, bukan ide yang menentukan masyarakat. Problemnya bukan pada apakah ide atau aksi yang perlu didahulukan, karena keduanya diciptakan Allah Swt. berpasangan; tapi pada pemberian porsi lebih pada eksistensi manusia sebagai makhluk-Nya. Artinya, jelas bukan pada tempatnya bila ada yang merasa bahwa kedatangan seseorang untuk mengubah keadaan adalah lebih signifikan ketimbang kesadaran massa-nya. Simpulan ini juga mengantitesis pernyataan nihilis, “Semua pembahasan tentang perubahan datang terlambat.” Karena, perubahan terjadi karena banyak sebab, bukan hanya gagasan, inisiasi, atau ketokohan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku setuju sebutan &lt;i style=""&gt;epistemic community&lt;/i&gt;, meski dulu slogan ini dipakai Rizal Mallarangeng untuk mengawal Neoliberalisme di awal 90an, yang jelas sangat tidak aku setujui. Aku memilih pola ini karena perlu menyatukan semua profesi untuk kepentingan yang lebih besar (semirip proletar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Jangan pula lupa memosisikan ‘pemberdayaan’ yang kelak akan membuat semua ini terjadi begitu saja dan wajar. Pemberdayaan untuk komunitas, juga publik yang akan diberdayakan. Sekali lagi bukan lagi pada seberapa besar atau seberapa kuat sebuah komunitas mempengaruhi komunitas lain. Sebab, perubahan tidak terjadi oleh satu atau dua orang, juga bukan satu atau dua gagasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kalau pakai paradigma pembelaan, barangkali aku lebih memilih untuk tengah berpikir membela komunitas dengan gagasan bersama, dan kemudian dapat memberikan pembelaan pada masyarakat lebih luas. Meski sekali lagi, aku tidak percaya perubahan terjadi karena ada ‘perasaan membela’ dari pelaku perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itu dialektika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ideologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Setahuku, ideologi ada dua jenis. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, ideologi dalam pengertian praksis. Ideologi jenis ini komplit, dari episteme hingga praksis. Semisal, komunisme. Makanya ia mensyaratkan borjuasi proletariat pada fase revolusi pertama, untuk kemudian sampai pada sosialisme. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, ideologi dalam pengertian &lt;i style=""&gt;world view&lt;/i&gt;. Ada derivasi kontekstual nilai yang pernah dirumuskan seseorang pada ranah tempat penafsir tinggal. Misal, ada demokrasi maka lahirlah Demokrasi Pancasila. Ada Islam maka ada NDP HMI. (dari LK II Kudus oleh anditoaja.wordpress.com)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ketidakadilan selalu menjadi garapan setiap ideologi. Selain ada tujuan, ideologi juga memiliki metode gerakan dan aksi. Aku memilih untuk menjelaskan duduk perkara ini pada persoalan-persoalan di sekitar kita, yang sangat aku mengerti validitasnya, atau bukan dari data yang sayup-sayup. Semisal, setiap tahun akan lahir lulusan kampus, yang kemudian harus tercerai berai, bahkan mungkin bermusuhan, hanya karena tak ada orientasi gerakan pascalulus. Ada yang bilang, semua butuh aktualisasi. Aku setuju. Tapi alangkah lebih baik bila kemudian, kata kunci penting selanjutnya adalah sinergisitas. Sinergi ada setelah komitmen. Meski mungkin, suatu saat kita perlu kirim orang kita untuk mengabdi ke Mossad Israel, Wall Street AS, atau Berkeley, agar kita benar-benar tahu kekuatan dunia. Meski tentu banyak tak disukai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Misal yang lain, berapa banyak kawan kita yang kemudian merasa tak cukup mampu mandiri, hanya karena ia tak bisa memecahkan persoalan hidupnya? Ada yang bilang, “Semua orang susah. Jadi jangan bermanja-manja. Itu harus dilalui.” Aku setuju. Tapi aku tak setuju bila ini lantas membelah semua komitmen kemanusiaan yang bahkan kita sepakati sebagai harus adil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itu yang paling dekat. Hingga suatu saat, kita akan bergerak untuk jutaan kaum miskin dan dominasi kapital dan state yang sangat sulit dienyahkan, hanya karena banyak orang yang merasa tak punya pilihan lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Revalague&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku sempat berbahak sangka sewaktu memilih kata REVALAGUE atau Revolusi Ala Gue. Tapi bukan itu hal pentingnya. Aku setuju kata Tan Malaka tentang revolusi yang tak hanya diinisiasi satu-dua orang besar atau satu-dua gagasan besar. Eksistensi, individuasi, &lt;i style=""&gt;rausyan fikr&lt;/i&gt;, kader profetik, atau yang paling jauh &lt;i style=""&gt;khalifatul fil ardh&lt;/i&gt; berguna untuk mendukung terjadinya perubahan kolosal yang dimaksud. Jadi revolusi tidak akan terjadi bila para pelakunya sendiri tidak bisa menangkap eskalasi dialektika yang ada. Simpelnya, bila aku masih merasa bahwa Revalague itu final, berarti aku tak paham sunatullah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahwa analisis yang lahir untuk perbaikan kondisi adalah semata untuk ‘menebak’ jalur dialektika yang aku maksud, bukan pemaksaan kehendak, apalagi interogasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pertanian, perempuan, anak-anak, atau apa pun bisa menjadi subjek diskursus, tapi tidak untuk dimenangkan salah satunya. Nah, &lt;i style=""&gt;epistemic community&lt;/i&gt; sebagai pola gerakan tidak hanya diposisikan sebagai pola ideologi (yang telah komplit bila bersanding dengan tujuan dan petunjuk aksi), akan tetapi juga sebagai pola runutan menuju bangunan ideologi yang saat ini belum jadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Lahirnya ideologi berkonsekuensi pada sebutan pembuatnya, yaitu ideolog. Padahal, marxisme baru ada setelah Marx dikubur. Kalo kata Daniel Dakhidae, penulis &lt;i style=""&gt;Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru&lt;/i&gt;, cendekiawan itu sebutan yang dilahirkan orang lain, bukan pendakuan. Walau nama ICMI mengantitesis ini. Pijakan tentang perlu lahirnya ideolog jelas bertentangan dengan dialektika. Jadi, aku tidak sedang menjadi ideolog, tapi aku masuk dalam &lt;i style=""&gt;epistemic community&lt;/i&gt; untuk menemukan pilihan juang, yang bisa saja dianggap ideologi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dari ketiga hal ini, ditambah ingin mencari format ‘adukan’, akan sulit mengatupkan semuanya pada sebutan yang hanya disebut ‘ideologi alternatif’. Lebih lanjut, nama tak perlu dikedepankan, hanya bila suatu saat, setelah sistem berpikirnya diketemukan, akan lebih baik bila disepakati saja. Jika agama punya surga, komunis punya sosialisme ilmiah, AS punya demokrasi dan &lt;i style=""&gt;welfare state&lt;/i&gt;, revalague tidak menyebut ini komitmen, atau supremasi (kaum strukturalis), atau kompensasi (pragmatis). Aku menyebutnya konsekuensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sedikit pertanyaan yang bisa aku lontarkan. Akankah ada &lt;i style=""&gt;epistemic community&lt;/i&gt; untuk kemudian menggagas produk juang yang integral, lantas bermuara pada peran kemasyarakatan signifikan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pun saat ada yang bertanya, “Mas dan Mba, ada pekerjaan buat saya, ngga?” bukan berbalas, “Hidup itu ya harus berusaha. Jangan kebiasaan meminta-minta.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurutku, itu berlebihan. &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi shawab&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-4119681295333728733?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/4119681295333728733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=4119681295333728733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4119681295333728733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4119681295333728733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/08/revalague-revolusi-ala-gue.html' title='REVALAGUE-Revolusi Ala Gue'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SLal3tHnDdI/AAAAAAAAABI/ulqZccYUXFs/s72-c/revolution_fist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-1682510575842784580</id><published>2008-08-25T12:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T12:19:23.443-07:00</updated><title type='text'>Fathul, Budi, dan Revolusi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;BANDUL waktu menunjuk bulan November 2000…. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Malam beranjak larut. Bagi beberapa gelintir mahasiswa di sebuah kos-kosan dengan plakat kecil bertuliskan HMI Cabang Sukoharjo Komisariat Salman Al-Farisi UMS, tanda-tanda kehidupan justru baru tampak. Letaknya yang di pinggir sawah dan sungai, agak jauh dari permukiman, memberikan kenyamanan agak berbeda, lantaran tak akan menyinggung masyarakat bila pun harus menggebrak meja, berteriak marah, atau sekadar menggelar konser terbatas semalaman dengan harmonisasi dua gitar plus satu ember plastik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Makhluk yang berdatangan ke tempat ini juga tak jelas rupanya. Suatu ketika, seorang kumal datang mengetengahkan kegalauannya tentang bangsa. Pada kali yang lain seorang klimis mendedahkan filsafat sebagai tanda kepungkasan pikirnya menyelesaikan satu buku. Pada waktu yang berbeda, seorang berkaca mata dengan wajah tirus tak terurus girang bukan kepalang hanya karena bisa menjadi panitia Ospek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tak ayal, dalam satu waktu, terkadang, tempat ini lebih mirip Pasar Kleco Solo yang bising di awal hari, dengan komoditas jual yang agak berbeda; retorika. Belum lagi, tiba-tiba ada yang terkesiap drastis hanya karena esok pagi akan digelar ujian. Momentum penting bagi semua mahasiswa, tapi senyap bagi komunitas ini. Sebuah teladan buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Fathul, menurut elo, revolusi itu bisa terjadi di Indonesia, ngga?” pertanyaan penting mengawali perhelatan pikir malam ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pelontar pertanyaan ini berkaca mata agak tebal, berambut semi keriting, dan sekutu rokok yang loyal bernama Budi Gunawan Sutomo. Ia Kabid PPA Komisariat Ahmad Dahlan I; komisariat pertama di HMI Sukoharjo. (Kelak, ia masuk jajaran Staf Ketua HMI Badko Jateng-DIY) Budi memang terhitung sering datang ke komisariatku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sosok ini menggilai khazanah &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;zoon politicon&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ketimbang &lt;i&gt;homo socius&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;lama berkutat pada skenario alam tentang &lt;i style=""&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Memilih dunia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; baru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;guna meyakinkan dirinya juga publik,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tanda&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;yakin bahwa dun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ia belum pada jalur yang benar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Budi sosok kontroversial.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Solo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; menjadi saksi, tentang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;adrenalin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; yang ia &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kerahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sepenuhnya pada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; gerakan mahasiswa. Hasilnya fantastis. Semester tiga, ia sanggup mendesain konstitusi KAMA UMS. Biasanya, seumuran itu, beberapa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mahasiswa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;lebih memilih mengekor atau paling banter, menganggap diri &lt;i style=""&gt;underdog&lt;/i&gt;, atau meski tampak pandai, ia pasti tak PD unjuk eksistensi. Budi berbeda. Ia pembaca bandel, pendiskusi semalam suntuk, juga penyisir kasus yang tekun. Meski tak pandai mengurus badan, dan terkenal doyan tidur, ia dapat mempersembahkan karya-karya ter&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;baiknya pada gerakan mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk belajar marxisme, ia merapat ke PRD, komunitas yang tak populis dan bahkan tak disukai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kader-kader &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;HMI&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; di sekitaran Solo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Untuk mengambil peran gerakan, ia memilih berakrab-akrab ria dengan buruh pabrik atau petani di sudut-sudut perkampungan kumuh. Ia menikmati semua itu sebagai bagian dari dirinya. Meski reputasi politiknya tak terlalu mendapat tempat di kalangan internal HMI, Budi melenggang tak terbendung dan tercatat sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;salah satu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ikon gerakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; mahasiswa di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Solo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fathul, tokoh yang ditanyai Budi, bergeming. Ia hanya sedikit bergerak untuk merapikan buku-buku tebal di depannya. “Revolusi itu ngga usah direncanain. Kalo kapitalisme telah sampai puncaknya, cita-cita komunisme Marx akan terjadi dengan sendirinya,” timpalnya singkat. Setelah sekian lama, aku baru tahu, bagi Leninis-Stalinis, revolusi memang terdiri dari dua tahap. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, borjuasi proletariat. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, sosialisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sosok yang kedua ini Kabid PPA-ku. (Kelak, ia juga mampir sebagai Pengurus HMI Badko Jateng-DIY bersama Budi) Beberapa bulan belakangan ia menjadi teman diskusi intensifku. Ya, aku baru saja lulus LK 1 akhir April kemarin. Biasanya, ia bersepeda ria datang ke kosku hanya untuk meminjami buku. Topi rimba yang lekat di kepalanya selalu mengingatkanku pada undangan diskusi NDP yang selalu sepi, dengan tak lebih dari tujuh kader yang hadir; hingga aku ditunjuk menjadi moderator untuk pertama kalinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fathul Alam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku menyebutnya, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;godfather&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;oksidentalisme HMI Sukoharjo.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; O&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;rang penting yang satu ini bertipikal autentik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;a sangat gemar berekspresi dengan cara pandang yang asli ia dapatkan sendiri, bukan adopsi apalagi plagiasi. Walau kental eksistensialismenya, ia menyatakan tegas, bukan penganut Jean Paul Sartre.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;ku mesti berpayah-payah menyusun partisipasi yang bukan meniru-niru atau setidaknya, kalau pun aku berniat mengutip, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Fathul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;belum sempat mengetahuinya. Soalnya, bila tak hati-hati, aku bisa dianggap tak memiliki kepribadian, malas berpikir, atau bahkan, kufur nikmat. Dahsyat, kan? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;erasa di area Khalifah Al-Ma’mun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dia mengajakku untuk bersilaturahmi pada pemikiran sederet pemikir Timur Tengah kenamaan seperti Ali Syariati, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, atau Murtadha Muthahhari. Dedengkot-dedengkot logika Yunani semisal Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, hingga Plotinus mewarnai hari-hariku bersama Fathul. Ia sangat doktriner, mirip guru bahasa Arabku di Ibtidaiyah dulu, yang tiap kali ketemu harus menghafal seabrek &lt;i style=""&gt;mufradad&lt;/i&gt;. Ia peletak dasar kebutuhanku akan pentingnya membaca buku dan mengubah &lt;i style=""&gt;mind set&lt;/i&gt; agar meyakini kebenaran dengan epistemologi yang cukup; tidak &lt;i style=""&gt;taken for granted&lt;/i&gt; atau tertipu pseudo-agama—kalimat ini selalu saja muncul tak jemu di setiap deskripsinya tentang eksistensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bila aku melabelinya sebagai Oksidentalis HMI Sukoharjo, lantaran dialah yang paling getol menyuarakan pentingnya cara pandang bahwa Barat bukan segalanya. Tingkah generasi muda Islam yang kebarat-baratan jelas merupakan bentuk keinferioran sikap yang harus dihilangkan. Sebab, menurut Fathul, Barat berperadaban profan; tidak berstandar transendensi yang cukup. Jadi, adalah lemah bila seseorang masih beranggapan kalau Barat itu superior dan layak diikuti karena mereka tidak berbaiat pada kesempurnaan hakiki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Beberapa jeda waktu kemudian, Budi dan Fathul pun beradu pendapat sekian lama dengan bahasa-bahasa yang tak terlalu aku mengerti. Sekalinya aku turut dalam percakapan, mereka tertawa. Seringnya, aku belum pernah menjamah buku-buku yang pernah mereka tiduri. Atau setidaknya, masih dianggap kader baru yang tak tahu menahu kata sakral yang menginspirasi Tan Malaka untuk tak pernah duduk di kursi kekuasaan… revolusi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Aku tetap ternganga hingga Subuh menjelang. Entah apa yang mereka bicarakan.**&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-1682510575842784580?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/1682510575842784580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=1682510575842784580' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1682510575842784580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1682510575842784580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/08/fathul-budi-dan-revolusi.html' title='Fathul, Budi, dan Revolusi'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-5882391193576838046</id><published>2008-08-14T08:47:00.000-07:00</published><updated>2008-08-14T08:54:50.651-07:00</updated><title type='text'>Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SKRUV75dnhI/AAAAAAAAABA/5VTM75GXZ6I/s1600-h/Tan+Malaka.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SKRUV75dnhI/AAAAAAAAABA/5VTM75GXZ6I/s320/Tan+Malaka.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234401402744053266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Hari ini aku ke Palembang. Bisa sampai satu minggu,” seorang kawan berpamitan padaku. Dia hendak memberikan pembekalan &lt;i style=""&gt;political marketing&lt;/i&gt; pada sebuah basis politik di sana. Semacam arahan singkat membidik preferensi &lt;i style=""&gt;voters&lt;/i&gt; agar kesengsem dan mendukung calon-calon pejabat yang telah disiapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Hati-hati di jalan. Aku cuma bisa bilang begitu. Ini kalimat standar. Sebab, perjalanan ini bukan bagian agenda revolusi,” timpalku dingin. Entah mengapa, beberapa menit belakangan, aku kembali kerasukan gumpalan pikir Marx tentang pentingnya antitesis dominasi. Aku mulai muak dengan semuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Ini juga revolusi. Revolusi melalui &lt;i style=""&gt;political marketing&lt;/i&gt;,” sanggah kawanku agak berdesing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Revolusi untuk kekuasaan melahirkan &lt;i style=""&gt;political marketing&lt;/i&gt;. Sebentuk agenda kaum revolusioner gadungan yang tak bisa bertahan, hanya karena tak punya kekuasaan. Tan Malaka disebut cerdas karena ia bisa eksis secara politik tanpa dukungan kekuasaan formal. Bukan malah jadi kacung syahwat kekuasaan bernama demokrasi,” akhirku menukik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku sebut sebuah nama penting di jalur revolusi, negeri Indonesia. Dan kawanku pun tak lagi berkelit. Ia pun mengamini semua stempel itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dulu, saat 1926 revolusi menggema di Banten dan Sumatera, sebagai tanda cita meruntuhkan kolonialisme Belanda, kader-kader komunis masih ingusan. Mereka terlalu bernafsu menurunkan simulasi &lt;i style=""&gt;das kapital&lt;/i&gt; dalam benak Engels dan Marx ke ranah Hindia yang sama sekali belum terdidik. Deru revolusi hanya nyinyir ditelan angin sore yang lembut menerpa badan-badan kurus rakyat Hindia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pada 1948, Semaun dan Muso kembali meneriakkan Revolusi di Madiun. Sekali lagi, dengan merah putih di tangan. Parahnya, momentum ini justru digelar pada masa pertumbuhan republik yang masih balita. Bukan simpati yang didapat, mereka justru dianggap duri dalam daging.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Sewaktu Aidit mengusulkan Angkatan ke-5 dalam tubuh republik pada 1965, dan diduga kuat turut melibatkan PKI dalam konflik bersenjata di tubuh TNI, revolusi pun menjadi sangat mengerikan. Hingga hari ini, semua hal berbau Indonesia berusaha kuat menepis trauma berdarah-darah itu dari ingatan generasi penerusnya. Bung Karno bahkan pernah bilang, “Ini revolusi. Jadi tak akan pernah ada kebebasan pers.” Sebaris kalimat bernada diktatorian, hasil persekutuan aneh PKI dan Bung Karno. Yang bahkan membubarkan Masyumi. Yang bahkan menafikan teguran Hatta soal demokratisasi. Yang bahkan hendak membubarkan HMI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tan Malaka berkata, “Mereka kaum revolusioner yang kurang bersabar.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Kang, aku yakin, Indonesia yang lebih baik itu ada. Sekarang, aku dan kawan-kawan sedang belajar serius bertani. Kalau petani bisa mandiri, Indonesia yang sejahtera akan terwujud,” ujar seorang kawan beberapa waktu lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Bicaranya tak hanya isapan jempol. Sering kali saat aku menemuinya, pengetahuan tentang pertaniannya semakin mumpuni. Ia sangat berobsesi mengetahui proses pertanian, mulai dari awal tanam hingga pemasarannya. Kelak, bila semua ilmu itu telah dikuasai, ia tinggal melakukan penggalangan konsolidasi antarpetani untuk menyejahterakan bangsa. Yang mengharukan, kalimat ‘Indonesia yang lebih baik’ itu ia kutip dari blog-ku. Empati yang terang membuatku belingsatan, lantaran dianggap saudara sejiwa dan sepikiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Asal saat semua telah besar, bukan justru menjadi penguasa baru yang ternyata berkelakuan sama dengan orang-orang yang menurut kita saat ini sebagai orang yang salah,” jawabku khawatir. Sebab, semangat meledak-ledak hanya akan mengantarkan seseorang pada keterburuan yang jelas mencederai cita-cita besar semacam kemanusiaan seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Telepon genggamku berderit. Ada sebuah pesan singkat menyapaku, “Kang, ini aku lagi di Bandung. Mau presentasi di depan pengusaha-pengusaha. Gimana caranya biar aku ngga grogi?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Alisku langsung naik. Sejak kapan orang-orang dekat di sekitarku bisa dibuat setengah hati di depan ngilunya penderitaan kaum buruh atas UMK yang rendah dan fasilitas pemberdayaan dari negara yang minim? Sejak kapan status-status jabatan perusahaan yang hanya bisa berbangga pada dasi dan mobil mewahnya itu mampu membuat seorang kawanku terkesima?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Kita tidak akan pernah bersujud pada modal dan korporasi-korporasi besar itu karena kita tahu persis efek dari kelakuan mereka. Dan semoga kita lebih baik dari mereka di depan Tuhan,” balasku menahan nafas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Di lain waktu, kawanku yang lain menyelaku. “Dari perilaku kamu, sebenarnya aku telah tahu kalau kamu memang pantas begini. Soalnya, kita ngga jauh beda.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku pun mengetatkan nyaliku dengan mendukung pernyataan barusan, “Sejak dulu hidupku tak pernah bisa ditebak. Bila memang Tuhan telah menggariskan hidupku dalam ketidakpastian, biarlah aku masuki semua hidup yang tak pasti itu sebagai dedikasi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Aku beruntung berada pada kisaran aktivitas bermacam tapi bernada sama, revolusi. Dedikasi yang meyakinkan diri untuk memilih jalan mendasar dan bertahan dengan itu daripada sekadar takluk di depan dominasi. Tentu dominasi yang zalim. Tentu dominasi yang tak pantas. Dan tentu dominasi yang tak memberi ruang pada kebersamaan sebagai manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Senada keinginanku untuk tetap dimiliki, dengan semua inginku, yang berharap agar bisa tetap eksis di jalur revolusi. Revolusi atas nama Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;“Di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim. Dan di depan manusia, saya bukanlah seorang Muslim,” ucap Tan Malaka; semakin memampatkan hardikan gemerlap duniawiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Aku tersenyum. Bahkan hingga wafatnya, Tan Malaka tak pernah menikah. Seorang yang sangat dicintainya, dan memilih untuk menikah dengan orang lain, berkata, “Ia orang yang aneh.”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-5882391193576838046?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/5882391193576838046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=5882391193576838046' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5882391193576838046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5882391193576838046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/08/tan-malaka.html' title='Tan Malaka'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SKRUV75dnhI/AAAAAAAAABA/5VTM75GXZ6I/s72-c/Tan+Malaka.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-4567741755738513614</id><published>2008-08-06T07:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T07:31:45.632-07:00</updated><title type='text'>Miskin Itu Mesti Dimiliki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SJm1bET3exI/AAAAAAAAAA4/0OrkMJbhziM/s1600-h/cakrawala.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SJm1bET3exI/AAAAAAAAAA4/0OrkMJbhziM/s320/cakrawala.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231411918785706770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“Alaaah... bisa aja kamu. Wajar kalo kamu suka dia. Bajunya aja bagus-bagus.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Aku lupa persisnya kapan kalimat itu mampir di telingaku. Seingatku, ia meniris habis kelebihsukaanku pada kadar yang begitu elitis. Kali itu, kawanku ini menggertak semua kebengalan argumenku atas penghargaan pada kemanusiaan dengan menampilkan wajah ketat; bahwa revolusi tak memberi ruang sedikit pun bagi kesenangan publik. Akan canggung diingat bila kemudian, tatanan besar hidup yang lebih baik itu bertebar dan bersanding dengan gaya kosmopolitku menikmati hidup. Memilih perempuan cantik, kaya, seksi, meski pro perubahan, semisal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Kebingunganku wajar. Bahkan Natsir pun sempat meradang sewaktu seorang kawan bertanya padanya tentang keikutsertaannya pada Petisi 50. Beliau bilang, “Saya juga tidak tahu kalau kemudian semuanya akan seperti ini.” Ya, sebuah alasan yang sangat manusiawi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Pada beberapa kesempatan, aku sempat berkilah, Rasulullah juga memilih Khadijah yang jelas terhormat nasabnya, juga kaya dan cantik. Meski kemudian aku berusaha melengkapi semuanya dengan ketangguhan Khadijah menemani Rasul untuk menyebarkan kebaikan di muka bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Apalagi, selama ini pikiranku sangat strukturalis. Aku sangat bersemangat memisahkan atau mengklasifikasikan berbagai hal dengan perbedaan yang curam, termasuk kaya dan miskin. Itu sebabnya aku tak pernah nyaman berada di mall. Itu sebabnya aku tak pernah nyaman bersanding dengan perempuan seksi yang pro mode. Itu sebabnya aku tak mau makan di tempat-tempat mahal. Itu sebabnya aku tak berkeinginan punya mobil mewah atau rumah besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Ibuku pernah bilang, “Orang pinter itu ya pasti kaya.” Bisa jadi, bukan kaya dengan harta melimpah, tapi orang yang selalu bisa sedia uang bila ada yang membutuhkan. Sebab, dari dulu, ibuku juga sering bilang, “Jadi orang yang apa adanya aja.” Meski kadang, aku juga seperti dikejar sejuta renternir kalau beberapa hal tak aku penuhi, hanya karena uangku tak mencukupi kebutuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Agak susah memang memosisikan diri di depan kekayaan. Aku ingat Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasul yang paling pandai berbisnis. Apa pun yang ia kerjakan pasti mendapatkan untung yang tak sedikit. Suatu ketika, ia pernah mengatakan bahwa ia sangat ketakutan bila ternyata semua nikmat Tuhan telah dilimpahkan kepadanya di dunia, sementara tak ada lagi sisanya di akhirat. Akhirnya ia pun tak henti-hentinya menghabiskan uangnya di jalan Tuhan. Menurutku, ia tepat memosisikan diri di depan kekayaan. Baginya uang memang tak sulit. Tapi baginya pula, uang adalah sumber kekhawatiran dia pada alam kekekalan kelak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Aku merunut Hatta. Hingga wafatnya, ia tak kuasa membeli sepatu impiannya. Bukan karena tak mampu, tapi tak kuasa. Entah sama atau tidak, bagiku menampakkan keberlebihan pada tetangga yang kekurangan jelas mengingkari kemanusiaan. Aku pernah bilang pada seorang kawan, “Kalau saja rumah kamu kelak besar, sementara ada satu rumah reot di kompleks kamu, aku ngga bakal hormat padamu hingga tetanggamu itu berkecukupan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Kadang, aku merinding juga pada apa yang aku pikir dan inginkan tentang kaya dan miskin. Kadang aku sesak napas kalau berkerumun bersama mereka di hotel-hotel mewah. Kadang aku meringis saat beberapa bagian hidupku ternyata juga berperilaku sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dulu, aku marah pada negara. Dalam &lt;i style=""&gt;Essay in Trespassing: Economics to Politics and Beyond&lt;/i&gt;, Albert Hirschman menulis tentang ‘persekutuan yang aneh’ atau ‘persekutuan yang tak suci’ antara pemikiran ekonomi neo-klasik dan ekonomi neo-marxis. Bagi neo-klasik, negara merintangi kekuatan pasar untuk bekerja. Dan bagi neo-marxis negara dianggap sebagai sekutu perusahaan multinasional dan modal lokal atau kaum komprador. Aku lebih nyaman dikategorikan pada kelompok neo-marxis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dulu, aku berpikir, keadaan miskin itu karena timpangnya distribusi pendapatan. Ada uang yang menumpuk di satu tempat. Dan ada banyak pihak yang kekurangan, karena secara struktural, uang yang menumpuk itu tak pernah disalurkan pada mereka yang kekurangan. Ternyata, ada yang lebih baru. Distribusi tak hanya tentang membagikan uang, tapi juga tentang pembagian uang dengan seni dan manajemen. Artinya, uang itu sampai dengan kerja keras. Uang itu sampai tidak dengan meminta-minta. Kesimpulannya, pemberdayaan lebih penting daripada distribusi pendapatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Amartya Sen, pemenang nobel ekonomi 1998, menjelaskan kebuntuan pikirku. Sen mengatakan, kemiskinan harus dipandang dalam konsep kapabilitas. Kapabilitas merefleksikan kebebasan yang memungkinkan orang untuk menjalankan pelbagai fungsi dalam hidupnya (&lt;i style=""&gt;functionings&lt;/i&gt;). Orang menjadi miskin karena ruang kapabilitas mereka kecil, bukan karena mereka tidak memiliki barang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dengan kata lain, orang menjadi miskin karena mereka tidak bisa melakukan sesuatu, bukan karena tidak memiliki sesuatu. Implikasinya: kesejahteraan tercipta bukan karena barang yang kita miliki, tetapi karena aktivitas yang memungkinkan kita memiliki barang tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Pikiran-pikiran ini aku komposisikan dari tulisan Chatib Basri saat melepas perginya Sjahrir, seorang ekonom pro pasar yang setuju peran negara dalam mengatur kebutuhan pokok, untuk selama-lamanya. Sjahrir eksponen Malari. Ia sangat dekat dengan mahasiswa. Tapi ia tetap sosok yang tak bisa dijelaskan. Ia paradoks tapi terlalu bersahaja bila harus disalahkan cara berpikirnya. Pro rakyat yang tak kuasa meregulasi pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Aku sempat bertanya pada beberapa orang yang aku anggap mengerti, “Aku ngga habis pikir. Mengapa bisa begitu? Aku ngga percaya kalo semua itu cuma cuci otak.” Tapi semua jawaban itu tak memuaskan. Sepersis pertanyaanku tentang Cak Nur yang kemudian merestui Nadia Madjid untuk menikahi seorang Yahudi. Hingga kini, aku belum bisa berkesimpulan, apakah diperbolehkan seorang Muslim menikahi seorang Kristen, Katolik, dan Yahudi; anak turun Ibrahim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Tapi yang paling penting, semua pemikir yang aku kutip ini sangat resah pada kemiskinan. Cara mereka memang tak seragam, tapi spirit mereka untuk menyelesaikan persoalan ini dari waktu ke waktu sangat mengesimakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Dan aku hanya tahu satu hal. Bahwa seberapa pun rumitnya kemiskinan... aku hanya perlu merasa memilikinya. Itu saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“Pengen denger apa yang aku pikirin tentang semua ini?” tanyaku pada seorang kawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“Apa?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“Distribusi teknologi informasi untuk pemberdayaan masyarakat lokal ini harus berujung pada sistem baku. Kalau sudah jadi, kita akan distribusikan ke semua tempat yang memerlukan di Indonesia. Berarti bisa jadi kita akan keluar masuk hutan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“Wah, aku seneng kalo babat alas.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;“&lt;i style=""&gt;Lha Juminten piye&lt;/i&gt;?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Kawanku tersenyum masygul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Rabu, 06 Agustus 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;15.13 WIB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-4567741755738513614?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/4567741755738513614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=4567741755738513614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4567741755738513614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4567741755738513614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/08/miskin-itu-mesti-dimiliki.html' title='Miskin Itu Mesti Dimiliki'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/SJm1bET3exI/AAAAAAAAAA4/0OrkMJbhziM/s72-c/cakrawala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-1572885348797321749</id><published>2008-07-20T02:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-20T02:17:46.811-07:00</updated><title type='text'>Belum Tentu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_g55YAH7K3F8/SIMB65yAUZI/AAAAAAAAAAw/t2CiJuTuU74/s1600-h/sekolah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_g55YAH7K3F8/SIMB65yAUZI/AAAAAAAAAAw/t2CiJuTuU74/s320/sekolah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5225022104134504850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Selintas yang dibisa, telah fitrahnya bila siapa pun akan mementingkan karsa diri bertarung untuk, setidaknya bertahan hidup. Aku sulit berbantah bila kemudian seseorang dilahirkan serbakurang. Barangkali, masalah seriusnya justru pada semakin sempurnanya dalih mereka atas keserbakurangan itu. Trenyuh juga saat premisnya, sudah miskin, tidak pernah bersyukur... eh, merepotkan orang lain pula. Aku terpaksa bersemangat mengkritisi kealpaan itu. Seharusnya, bila dunia tak terlalu ‘merestuinya’, setidaknya ia sanggup terbang melewati dunia dan sekuat tenaga menertawakan semua ini, pertanda ia tak pernah ‘takut hidup’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Aku sama sekali tak canggung untuk membebasmaksumkan kebuntuan ini. Sudah semestinya perubahan itu jadi subjek, bukan lagi si pengawal perubahan. Berliku hidup yang mengikutsertakan kekhawatiran kompleks itu kan perkara keberserahan diri, entah &lt;i style=""&gt;pre&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;post factum&lt;/i&gt;. Inilah cikal bakal keberanian. Serumus dengan Tuhan yang tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Mana mungkin Tuhan berkepentingan mempermainkan ciptaan-Nya; dan puas melihat hamba-Nya kebingungan? Ya, terlalu antroposentris. Terlalu kemanusiawian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Keliaran apa pun tentu sah untuk membangun prasangka ningrat tentang hidup yang akan selalu lebih baik, ketimbang hawa keterlaluan yang keterusan didengungkan seperti dunia memang tak layak huni. Ini mentalitas wajar; bukan ketangguhan yang disengaja. Geli juga kalau kemudian ada keinginan untuk mengetengahkan semua kewajaran itu sebagai keberlebihan. Sebab, itu justru sangat berlebihan dan melebih-lebihkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Semisal menjawab propaganda instan tentang kaya dan miskin yang selalu berbenturan. Bukankah miskin ada karena ada sebutan kaya? Artinya, kaya dan miskin itu memang keniscayaan. Ia diciptakan sebagai bagian hidup manusia. Ia hadir bukan untuk dijadikan amunisi menegasikan Tuhan, tapi justru untuk memberi ruang pada ‘kewajaran’ termaksud lantaran memang tak akan mungkin ada kaya bila tak ada miskin. Penghancuran salah satunya justru melawan sunatullah. Dan itu sangat tidak mungkin. Sama seperti kecapan lidah asin untuk gula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Bila kemudian ada tengarai tentang jahatnya si kaya atau zalimnya si miskin, tentu akan tersusul kebaikan mutakhir tentang perlunya saling mengingatkan. Sebab, bila tak segera diingatkan, sunatullah akan terlanggar. Bila sunatullah terlanggar, dunia akan hancur. Lebih jelasnya, proporsi yang tepat adalah keberadaan masing-masing yang tak melulu dipersoalkan, tentang siapa yang hendak atau perlu berkuasa. Sebab, sekali lagi, keduanya tidak untuk dipertentangkan; sama seperti jiwa dan raga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;Keteraturan ini tak hanya akan mewujud pada keberimbangan yang selalu utopis—lantaran justru menjadi ladang amal—tapi juga diskursus hikmah yang tak akan berkesudahan tentang hidup yang selalu berjejal keraguan. Itu sebabnya ada konsep iman. Iman ada bukan untuk melengkapi khazanah keagamaan semata. Ia ada untuk memantik ketenangan hidup beriring keserbatidaksempurnaannya. Semakin tak kentara, dengan kekuatan yang penuh, keberserahan itu ada dengan sendirinya. Semua ragu dan keinginan merusak itu ada lantaran keberserahan yang tak pernah sampai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="FI" &gt;Anggap saja ini bangunan persepi perunut kebuntuan hidup. Tapi ia sangat penting untuk menganjur diri bahwa inferior di depan segala kekurangan adalah keliru. Bermacam alasan atasnya hanya akan berlaku parsial bahkan temporer, lantaran ia akan bersinggungan dengan niscayanya hukum alam (sunatullah). Meski berbunuh sangka atas itu pun penghakiman yang tak perlu. Keterikatan ini untuk memanifestasikan tafsir ke-Maha-an Tuhan yang memang berbaur dengan kelobaan episteme makhluk kalkulatif bernama manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;Aku berhenti. Seorang kawan memberikan pandangan &lt;i style=""&gt;genuine&lt;/i&gt;-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;“Aku punya siswa cerdas. Dari rumah ke sekolah ia berjalan kaki. Ia berangkat setelah Subuh dan tak pernah sarapan. Setiap kali sampai, ia duduk sebentar di pos satpam. Ia seka keringatnya itu. Dan tak segan ia pulang malam hanya untuk menambah pelajaran yang aku minta. Kemampuan penerimaannya bagus. Ia bisa pecahkan kasus desain grafis hanya dalam hitungan menit. Bukan main. Yang unik, kalau ia ditagih buat lunasi SPP-nya yang nunggak berbulan-bulan, ia cuma tersenyum. Ia bilang, ibunya hamil lagi dan adik-adiknya masih kecil, juga banyak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;Aku merasa semakin perlu untuk tidak canggung. Ya, tidak canggung untuk merintis mental bahwa kepapaan bukan faktor utama ketidakbersyukuran seorang hamba. Seseorang kufur bila beranggapan, dirinya tak bisa berbuat apa-apa di depan kenyataan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="FI" &gt;Bila ia takut mati, dan kini ia takut hidup; betapa mengerikannya hidup ini. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;Aku tak berani berbayang lanjut bila aku termasuk kalangan ini. Sebab, sekali lagi, hidup belum tentu seperti yang kedengarannya atau yang sering dibicarakan orang. Belum tentu semua itu bisa ditentukan segampang itu... atau sesulit itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;Cikupa, 22 Juni 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;18.50 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Untuk seorang kawan yang yakin bahwa perubahan radikal selalu diawali dengan pendidikan. Bagiku, idealisme selalu diawali dengan kenekatan membuat sekolah; bagaimanapun keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-1572885348797321749?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/1572885348797321749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=1572885348797321749' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1572885348797321749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1572885348797321749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/07/belum-tentu.html' title='Belum Tentu'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_g55YAH7K3F8/SIMB65yAUZI/AAAAAAAAAAw/t2CiJuTuU74/s72-c/sekolah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-4036513035299232690</id><published>2008-07-01T02:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-01T02:37:41.052-07:00</updated><title type='text'>(EKSTRA) PARLEMEN ALTRUIS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bila aku dan Hatta terhalang memimpin revolusi, saudara Tan Malaka melanjutkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;, September 1945&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebulan pasca Proklamasi....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Republik tengah sakit parah. Proklamasi yang telah dikumandangkan berbuah penolakan keras pihak penjajah Jepang. Ketika itu, hanya revolusilah yang bisa menyembuhkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Adalah Tan Malaka, pria kelahiran 2 Juni 1897 di Sumatera Barat bernama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia dianggap sebagai sosok yang sangat mengerti situasi, hingga Soekarno menempatkannya sebagai suksesor pengemban amanat revolusi. Dahulu, dia yang pertama kali mencetuskan kata ‘Republik Indonesia’ dan mengucapkan kata ‘Indonesia Merdeka 100%’ tanpa kompromi. Saat keadaan genting, terlontarlah kalimat di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah! Yang menarik tentu adalah ‘cara’ para pendiri republik ini bersama untuk menghalau penjajah. Soekarno sangat disegani karena ‘caranya’ berdiplomasi; penyambung lidah rakyat. Hatta sangat disungkani lantaran ‘caranya’ membela &lt;i style=""&gt;inlander&lt;/i&gt; yang tak tanggung-tanggung; Bapak Koperasi. Tindak-tanduk Tan Malaka bahkan sangat dikhawatirkan petinggi komunis dunia sejak Vladimir Lenin hingga Mao Tse Tung karena ‘caranya’ bergerak di komintern (komunisme internasional).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketiganya punya pendukung loyal. Ketiganya punya pemahaman dan kepandaian berbeda atas penderitaan rakyat. Perkara di akhir cerita, Soekarno berbeda dengan Hatta, atau Tan Malaka yang tak benar-benar diterima itu hal lain. Tapi mereka jelas punya ‘cara’ sama untuk menggelar revolusi kemerdekaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Mahasiswa Pasca-1998&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lantas bagaimana dengan gerakan mahasiswa hari ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pasca-1998, gerakan mahasiswa praktis mengalami penurunan tensi gerakan. Dari hari ke hari, kondisi ini semakin mengkhawatirkan saja. Sempat memanas pada gerakan penurunan Mega-Haz pada akhir 2002, gerakan mahasiswa kemudian kembali lesu setelah rakyat tak lagi tertarik isu penurunan presiden; seperti tahun 1998. Bila menjelang Pemilu 2009 mendatang, gerakan mahasiswa tetap belum mampu menjalankan fungsinya sebagai salah satu komunitas kritis pengawal perubahan republik ini, tentu ini tragedi besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Selain karena faktor internal gerakan, yakni masih belum mampunya berbagai elemen dalam memproduksi isu-isu populis seputar keberpihakan mahasiswa pada masyarakat secara luas, opini masyarakat tentang gerakan mahasiswa yang destruktif adalah fakta yang semakin menyudutkan keabsahan independensi mahasiswa di depan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Karena masyarakat telah mulai tidak senang terhadap semua anarkisme dan euforia yang lahir dari interpretasi salah atas demokrasi, kecenderungan yang ada pun menunjuk pada stigmasi bahwa mahasiswa destruktif sangatlah tidak berguna. Sepertinya, kondisi objektif terang-terang tak lagi mendukung semua hal berbau mahasiswa. Tengok saja pemberitaan media massa yang lebih memilih ekspose tentang bakar ban atau kemacetan jalan akibat demonstrasi; bukannya isu yang mereka usung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Minimnya aktivitas gerakan mahasiswa dalam melakukan kontrol terhadap semua kebijakan publik belakangan ini juga dilandasi oleh alasan yang sangat oportunistis. Mereka kesulitan menemukan format tegas gerakan lantaran beban status moral yang terus didengung-dengungkan oleh senior atau dosen sejarah mereka. Belum lagi isu kolosal tentang mahasiswa yang belum jelas masa depannya ketika lulus. Atau mahasiswa yang sering ditunggangi elite. Atau mahasiswa yang tugasnya hanya sekolah. Atau mahasiswa yang mending pacaran. Atau mahasiswa yang seharusnya riset saja tanpa kritisme terhadap sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Fakta tentang konsentrasi agenda gerakan yang lebih didominasi oleh aktivitas personal bersifat individualistis menggejala kuat dengan mangkirnya berbagai aktivis mahasiswa dari agenda internal organisasi kemahasiswaan seperti perkaderan, advokasi, dan juga pemberdayaan publik. Ketika kritisisme dituntut untuk ada, kader-kader pilihan—bahkan terbaik—mereka lebih memilih untuk menjibakui kepentingan individu. Ada seloroh klasik, “&lt;i style=""&gt;Mikir diri sendiri aja belum bisa, kok berani-beraninya mikir bangsa. Presiden aja belum tentu bisa&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Susah juga saat menyandang status mahasiswa tapi tak dapat mencetak sejarah besar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Namun ternyata tidak setiap zaman melahirkan kepemimpinan mahasiswa nyata, dalam arti perlawanan terhadap &lt;i&gt;mainstream&lt;/i&gt; baik itu negara, modal, atau asing. Ada saat mahasiswa hanya di kampus, karena tak lagi direstui kondisi. Apalagi, kepala mahasiswa memang tak secepat kakinya. Praktis, semua hal tampak menjadi absurd dengan slogan-slogan membingungkan seperti agen perubahan, agen kontrol sosial, atau generasi penerus bangsa, dan seabrek identitas moral fantastis pemberian sejarah yang bisa jadi tidak lagi disandangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Jadi, pasca gerakan reformasi 1998, ada beberapa hal yang bisa dicatat. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, mahasiswa kesulitan mengawal enam visi reformasi. Pemerintahan Habibie, Gus Dur, dan Megawati memang disibukkan dengan gerakan mahasiswa yang menuntut penurunan presiden. Namun, setelah SBY-Kalla berkuasa, kritisme model ini tidak lagi menemui pasarnya. Publik tak lagi bersimpati dengan isu-isu serupa lantaran dikhawatirkan destruktif ketimbang menghasilkan solusi menjanjikan. Hasilnya, mahasiswa pun kesulitan menegakkan eksistensinya di mata publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, kampus-kampus &lt;i style=""&gt;excellent&lt;/i&gt; seperti UI, UGM, Unair, atau ITB didominasi oleh KAMMI, menggantikan HMI yang dulu dianggap beberapa kalangan sangat dekat dengan elite penguasa Orde Baru dan merestui kukuhnya kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun. Seperti diketahui, karena KAMMI adalah ormawa eksternal yang didesain untuk mengkover kaderisasi PKS di kampus, gerakan mereka lama-kelamaan mulai mengkristal mirip parpol. Padahal, umumnya, gerakan mahasiswa adalah gerakan ekstraparlemen yang tak akan mungkin bersekutu dengan parpol. Keberhasilan KAMMI mengubah konstelasi tentang mahasiswa yang bisa saja berparpol. Efeknya, bila mahasiswa tertarik berpartai, tentu nasib gerakan mahasiswa sebagai kelompok penekan akan menemui pola baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, pasar bebas diberlakukan di Indonesia menggantikan kapitalisme negara Orde Baru. Kompetisi global akhirnya membaiat gaya-gaya neo-liberalisme seperti privatisasi, penghilangan batas-batas negara, dan berkuasanya informasi. SDM Indonesia, terutama mahasiswa, kesulitan beradaptasi dengan tren ini. Para mahasiswa pun tak lagi tertarik membicarakan gerakan mahasiswa, lantaran seperti tak berkaitan erat dengan masa depan mereka kelak. Rata-rata dari mereka berpikiran cepat lulus agar biaya pendidikan mereka tidak terus membengkak, sementara tak ada jaminan dari kampus tempat mereka belajar pada pekerjaan yang layak setelah lulus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Gerakan Mahasiswa Menjelang Pemilu 2009&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Beberapa hal dapat direkomendasikan untuk berhadapan dengan Pemilu 2009. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, keinginan diri untuk tidak pernah berhenti belajar. Setiap kali realitas bergerak lebih cepat dari kemampuan analisis, harus pula segera diimbangi dengan proses cari tahu yang lebih gila-gilaan. Tanpa ini, adaptasi yang kurang akan melahirkan keinferioran peran yang justru kontraproduktif dan melahirkan fanatisme karena ketidakmampuan. Ilmu yang cukup akan melahirkan perhitungan langkah yang strategis hingga kemudian &lt;b style=""&gt;berani&lt;/b&gt; untuk berkompetisi. Sebab, lemahnya analisis akan semakin meminderkan gerakan, bahkan membangun fanatisme yang bisa jadi malahan destruktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, membangun kelompok-kelompok diskusi berikut silabus khusus pengembangan diri. Transformasi ideologis akan dapat dilangsungkan dan lahirlah komunitas kecil yang ideologis. Forum-forum kecil seperti ini dapat diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa, baik &lt;b&gt;intelektual&lt;/b&gt; maupun &lt;b&gt;spiritual&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, membuat akses strategis dengan melibatkan seluruh &lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt; gerakan seperti rakyat, kampus, pakar, tentara, polisi, politikus, kalau perlu negara asing. Seperti diketahui, fasilitas teknologi informasi dan komunikasi era ini sudah sangat memadai untuk membangun gerakan kultural, hingga politis. Koneksi ini tentu tidak untuk mengkhianati gerakan, tapi untuk menakar realitas kekinian yang tengah bergerak dan berujung pada perubahan sosial. Seringnya, membangun akses dianggap sebagai bersekutu atau keluar dari koridor moral gerakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;, memiliki tren masyarakat informasi. Maksudnya, mahasiswa harus sadar pentingnya informasi, bagaimana mendapatkannya, bagaimana mengolahnya, dan bagaimana menggunakannya. Kemampuan berbahasa dan memahami teknologi tentu sangat dituntut untuk mencapai target ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;"&gt;Sebab, gerakan yang tak &lt;i style=""&gt;up to date&lt;/i&gt; tidak akan direspons kondisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;"&gt;Kelima&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;"&gt;, memproduksi isu. Kemampuan mendesain isu dengan pembangunan opini dan pencitraan gerakan membutuhkan perencanaan dan kepekaan yang matang. Di sana harus ada kebutuhan rakyat, visi kebangsaan, dan cita-cita universal. Tanpa ini, isu yang diusung gerakan mahasiswa justru dianggap corong atau kepanjangan tangan pihak-pihak yang berkuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;"&gt;Keenam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;"&gt;, konsolidasi dan refleksi. Membangun kepercayaan terhadap kemunitas sangatlah penting. Untuk membangun tren yang begitu kompleks medannya, dibutuhkan dukungan berbagai pihak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Selain itu, evaluasi gerakan harus dilakukan untuk memonitor spirit dan perencanaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Ketujuh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="FI"&gt;, komitmen dan konsisten pada semua yang telah diyakini dan direncanakan. Mulailah berusaha keras mematuhi hasil-hasil rapat kerja, tepat waktu dalam setiap &lt;i style=""&gt;event&lt;/i&gt;, bertanggung jawab pada semua hal. Bila persoalan pribadi seperti keseringan bangun siang, buang sampah sembarangan, malas bersih-bersih, atau sekadar malas tersenyum pada orang lain masih sangat merepotkan bagi aktor-aktor gerakan mahasiswa maka untuk mewujudkan &lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt; yang diridhai oleh Allah Swt. adalah pekerjaan yang sulit. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Bangunan publik yang bermartabat harus diawali dengan integritas moral mahasiswa agar tak paradoks dan dapat bertahan lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Jangan Lupakan Ideologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Kalau organisasi tak menghasilkan uang, mengapa harus ribut berpindah dari rapat ke rapat? Bila gerakan mahasiswa hanya menghabiskan waktu untuk berkumpul tanpa ada upaya membangun identitas diri, mengapa mesti nekat begadang hanya untuk lembur kepanitiaan? Andai kampus yang punya akses saja tak dapat menjamin masa depan, mengapa organisasi mahasiswa harus dibela mati-matian?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sempurna. Sepertinya, gerakan mahasiswa layak dianggap bukan prioritas, lantaran tidak menghasilkan materi atau jaminan masa depan. Nah, dapatkah gerakan mahasiswa bertahan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Lebih jauh, sebenarnya identitas diri jelas bukan perkara fisik. Meski ia akan memobilisasi fisik untuk beraktivitas, identitas lahir dari cara pandang tentang sesuatu. Cara pandang tersebut dapat disebut dengan nilai, ideologi, atau cita-cita keadilan dunia, dan setiap orang pasti memilikinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Mendudukkan nilai sebagai pilihan kedua setelah produk gerakan atau organisasi tentu adalah kesalahan. Sebab, bila hanya mempertaruhkan produk tanpa basis nilai yang cukup, ia tidak akan bertahan lama. FPI tak akan gagah berani membersihkan tempat-tempat maksiat bila tanpa pemahaman penting seputar &lt;i&gt;nahi mungkar&lt;/i&gt; yang berbuah surga, sementara dalam satu waktu mereka harus berhadapan dengan kelompok yang mereka musuhi sekaligus polisi negara. Mahasiswa-mahasiswa kiri tak akan seberani itu menuntut nasionalisasi aset negara kalau tak ada doktrin tentang dominasi modal global yang semakin menyengsarakan rakyat. Perempuan-perempuan ber-&lt;i style=""&gt;fashion&lt;/i&gt; kosmopolit tak akan berpikir untuk berdandan sensual kalau tak meyakini bahwa seksi itu reputasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Artinya, tanpa ideologi atau basis nilai yang memadai, gerakan mahasiswa hanya akan menghabiskan waktu, melupakan masa depan, serta tak bergerak di wilayah strategis. Sedangkan untuk mencapai ideologisasi diperlukan proses transformasi yang kontinu dan berdasar pada kekuatan nilai yang komprehensif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Terkadang, mahasiswa dapat bersatu lantaran alasan moral yang sama, seperti perlawanan terhadap rezim represif, memerangi ketidakadilan, atau membela kaum tertindas. Terkadang, mahasiswa juga terkotak-kotak, tergantung perspektif kelembagaan mereka. Hal ini wajar mengingat kebijakan masing-masing organ yang memang independen. Artinya, meski berbeda, spirit kemahasiswaan mereka tetaplah terjaga sebagai bentuk perwakilan gerakan kaum muda yang tak menyetujui ketimpangan sistem sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Saat Soeharto hendak digulingkan, semua elemen mahasiswa bernaung pada gerakan reformasi dengan isu yang sama. Ketika Soeharto dapat digulingkan, mahasiswa berbeda pendapat tentang Sidang Istimewa MPR untuk melanjutkan kepemimpinan negara. Pada waktu reformasi berhasil digulirkan, mahasiswa bahkan kembali pada perjuangan masing-masing atas kebijakan internal mereka; bukan lagi terorganisasi solid seperti sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Untuk itu, model gerakan mahasiswa memang harus berbasis pada independensi etis dan organisatoris. Maksudnya, ia bergumul atas karsa kebenaran universal (etis) dan bergerak pada wilayah oposisi (organisasi). Sementara itu, untuk bergerak, mereka mesti memosisikan organisasi pada ranahnya, yakni oposisi; bukan politik praktis mirip parpol; bukan advokasi murni mirip LSM; bukan orientasi bisnis mirip korporasi; bukan akademis murni mirip sekolahan. Semua wilayah itu dapat dirangkum dalam gerakan mahasiswa yang memosisikan mereka pada koridor belajar dan bergerak; bukan hanya bergerak atau belajar saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Gerakan mahasiswa juga harus plural dan inklusif. Ia akan dapat solid dan berkualitas bila menerima perbedaan dalam konteks saling mengisi, juga berpikiran terbuka sebagai bentuk kepercayaan sikap internal gerakan. Tanpa pluralitas dan inklusivitas, gerakan mahasiswa akan gampang dikibuli, ditunggangi, bahkan dikambing-hitamkan. Sebab, pada konstelasi perpolitikan, mahasiswa tetap sosok ranum yang selalu diperebutkan penguasa, &lt;i style=""&gt;stakeholders&lt;/i&gt; politik, tentara, bahkan CIA atau Mossad Israel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Konsolidasi di tataran ormawa baik internal maupun eksternal kampus semestinya dijaga untuk membangun ritme gerakan yang bisa jadi tidak semulus di atas kertas. Kecurigaan pada organ-organ tertentu dapat dijembatani dengan membangun relasi positif; bukan malah saling merusak atau bersaing negatif. Sebab, komitmen gerakan mahasiswa tetaplah sama, yakni penjaga moralitas bangsa dan perwujudan masyarakat yang bermartabat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pemilu 2009 tinggal sebentar lagi. Kepemimpinan nasional akan sangat ditentukan oleh momentum ini. Bisa jadi, jual beli gerakan akan sangat dominan, tapi idealisme tentu tak akan lekang sampai kapan pun. Sebab, tak semua hal dapat dibeli.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Charter BT&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Biarlah semua hal terjadi. Untuk kritis dan bergerak, bukan berarti mahasiswa tak dapat menikmati kesehariannya sebagai sosok manusiawi yang butuh dimengerti, anak rumahan yang berbakti, atau mungkin, musisi yang berbakat. Ya, menjadi gerakan ekstraparlemen altruis; pembela rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-4036513035299232690?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/4036513035299232690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=4036513035299232690' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4036513035299232690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/4036513035299232690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/07/ekstra-parlemen-altruis.html' title='(EKSTRA) PARLEMEN ALTRUIS'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-1819251718995628667</id><published>2008-05-08T21:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T21:07:20.989-07:00</updated><title type='text'>Miskin</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandul waktu menunjuk bulan September 1965. Tampak seorang ibu berjalan menyusuri salah satu trotoar di Jakarta bersama anak laki-lakinya. Udara malam terasa sangat dingin menusuk tulang. Bangunan di kanan-kiri mereka tampak sepi. Mungkin sang penghuni telah berbaur dengan indahnya mimpi dan selusin harapan esok hari yang tak dapat ia gapai hari ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mak, ini Jakarta, ya?” tanya bocah laki-laki itu pada ibunya. Ia tampak terus melekatkan pandangannya ke langit kelam Jakarta yang dipenuhi suasana aneh, dan sepertinya belum pernah ia temui. Dengan mimik penuh apresiasi, perempuan berusia lebih dari setengah baya itu pun mengiyakan pertanyaan buah hatinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Di sini banyak orang kaya ya, Mak?” tanya si anak untuk kedua kalinya. “Iya....” Kali ini, mereka berhenti di depan sebuah toko yang berareal teras cukup luas. Tentu saja toko itu telah tutup, lantaran hari sudah beranjak tengah malam. Setelah sedikit berbenah, dengan menggelar selembar kain untuk tidur, mereka pun berbaring di depan toko itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Orang kaya pasti makannya enak-anak ya, Mak?” tanya sang anak sambil menatap ibunya. “Ya dong. Udah, cepat tidur! Jangan sampai kita bangun lebih siang dari pemilik toko. Biar kita tidak diusir lagi,” jelas sang ibu singkat. Mereka kemudian terlelap bersama balutan malam Jakarta yang belakangan dipenuhi resesi ekonomi dan sangat potensial melahirkan &lt;i style=""&gt;chaos&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Cuplikan kisah tersebut dapat dijumpai pada film klasik Indonesia garapan Arifin C. Noor tentang G 30 S/PKI. Di zaman Orde Baru, film kolosal ini menjadi tontonan wajib, setiap kali memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Karena di zaman Orba stasiun TV swasta belum sebanyak sekarang maka praktis hampir semua mata di negeri ini pun melayangkan pandangannya pada &lt;i style=""&gt;scene-scene&lt;/i&gt; dramatis penculikan jenderal-jenderal TNI AD dan penumpasan G 30 S itu. Walau beberapa kalangan meragukan validitas film yang dikemas semi dokumenter tersebut, tetap saja tak mampu menghapus kenangan menyakitkan tragedi kemanusiaan seputar kudeta berdarah dan akhirnya konflik bersenjata antaranak bangsa tersebut. Sejarah kelam yang semoga tidak terulang kembali di masa datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yang menarik, dengan bahasa yang sangat sederhana, Arifin seperti ingin menyampaikan pesan penting pada pemirsa tentang hubungan erat antara perasaan tertindas kaum papa dengan revolusi. Kesenjangan ekonomi pada waktu itu menjadi alasan kuat bertumbuhkembangnya ketidakpuasan, juga gejolak sosial. Jadi sebenarnya, bahkan tanpa doktrin marxis yang rigid pun, perseteruan antara si kaya dan si miskin tampak seperti keniscayaan bila kesenjangan itu dibangun atas ketidakadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Arifin tentu saja melihat semua peristiwa mengerikan itu dari dekat. Ia dapat mendemonstrasikan semua ketakutan yang terjadi ketika itu dalam gambar, suara, dan skenario yang mengagumkan tentu karena ia sangat mengerti situasi yang berkembang, dan apa yang menyebabkannya. Ia mampu membingkai harapan banyak pihak tentang bangsa yang satu, tanpa ada lagi celah sikap—sedikit pun—untuk saling menyakiti, lantaran potongan-potongan kisah tentang kekejaman manusia yang haus kekuasaan itu benar-benar menghantuinya. Ia berpesan dalam gambar bahwa kalau tak hati-hati, korban akan berjatuhan seiring dengan kerakusan dan keserakahan anak bangsa yang satu atas anak bangsa yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menyejarahkan Kemiskinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepanjang waktu, mencatat kemiskinan memang pekerjaan sulit. Bagaimana tidak sulit? Siapa sih yang mau dianggap miskin? Siapa sih yang mau diperdebatkan penderitaan hidupnya lantaran kurang makan? Siapa sih yang bangga dengan predikat keluarga tidak mampu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Deretan angka-angka pun berusaha menjelaskan kondisi riil yang ada seputar kemiskinan. Tapi, apa kata dunia? Banyak yang bilang, angka bisa saja dimanipulasi untuk mendongkrak popularitas. Ada yang yakin, kalau data-data kuantitatif itu hanya akal-akalan beberapa orang yang tidak menginginkan kemiskinan sebagai borok prestasinya. Bahkan ada yang ragu bahwa kemiskinan sering dijadikan komoditas untuk meraih simpati publik. Semacam pemahaman umum tentang ‘data yang diragukan’ bila telah berkutat di wilayah kemiskinan. Sekali lagi, ada tendensi prestisius seputar baik-buruk menyuguhkan kemiskinan di mata publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tapi sudahlah. Bagaimana dengan kemiskinan yang memang benar-benar ada? Bagaimana dengan berita tentang korban frustrasi karena dibekap kemiskinan? Apalagi, bukan karena mereka yang tak bekerja keras. Apalagi, bukan karena mereka yang hanya bisa meminta-minta. Apalagi, bukan pula karena keserakahan mereka menjadi miskin. Apalagi, semua ini karena ketegaan sesama manusia yang memiliki perilaku takut miskin, berlebihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, dari tahun 1867 sampai 1878, Hindia telah menyumbang f187 juta bagi kas kerajaan Belanda. Sebuah angka fantastis bila dibandingkan dengan kesejahteraan rakyat Hindia yang masih sangat rendah. Ketika itu, rakyat Hindia hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Hindia bahkan dapat menghidupi rakyat Belanda, walau mungkin, masyarakat negeri kincir angin itu tidak bekerja sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Lama dianggap tak mampu menyejahterakan rakyat Indonesia dalam dua dekade setelah kemerdekaan. Orla dinilai sangat retoris, dan tak memedulikan penderitaan rakyat miskin. Inflasi yang mencapai lebih dari 600 persen di akhir pemerintahan Orla bahkan dapat dijadikan tumpuan untuk menganalisis keberhasilan orde ini mengurusi rakyat miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Baru dianggap membangun infrastruktur ekonomi semu. Walau swasembada beras tercipta, harga-harga rendah, dan inflasi kecil, rakyat miskin tetap saja tak dapat dientaskan. Berpuluh tahun kaum miskin bahkan dianggap merepotkan pemerintahan kota besar. Gedung-gedung pencakar langit memenuhi sudut-sudut perkotaan, tapi nasib petani tidak jelas juntrungannya. Mereka bisa memproduksi beras dalam skala besar, tapi tak dapat memiliki komoditas lain, lantaran harga beras tidak sepadan dengan biaya sekolah, teknologi, transportasi, juga komunikasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Reformasi pun masih mandul membangun kerangka ekonomi yang stabil. Selain kedekatan mereka dengan modal asing, pembelaan mereka pada masyarakat miskin terjejali dengan dominasi agenda politik yang bertajuk demokratisasi tak terarah. Isu-isu tentang kemiskinan seperti hilang di tengah ingar-bingar manuver politik para pejabat dan wakil-wakil rakyat di parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bila demikian halnya, Knut Hamsund, seorang novelis Norwegia awal abad ke-20, tiba-tiba menjadi sosok yang penting. Pada 1890, salah satu novelnya berjudul &lt;i style=""&gt;Sult&lt;/i&gt; (lapar), mampu membuat publik Norwegia terkesima. Novel ini bercerita tentang seorang penulis miskin yang sangat kesusahan makan. Setiap hari dia menggelandang di jalanan kota Christiania karena tak mampu membayar sewa kamar dan membeli makanan. Tapi, ia tetap menulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kabarnya, Hamsund menulis novel ini dalam keadaan benar-benar lapar. Dan ia berhasil menceritakan kepapaannya itu dalam kadar optimistis yang sangat tentang hari yang lebih baik. Mentalitas tentang penyampaian isu kemiskinan kepada publik, tapi dengan keinginan kuat untuk berubah. Bukan malahan mengelak dari semua sejarah tentang kemiskinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kalau saja aku punya sesuatu untuk dimakan, sedikit saja, pada hari secerah ini!” tulis Hamsund.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-1819251718995628667?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/1819251718995628667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=1819251718995628667' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1819251718995628667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/1819251718995628667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/05/miskin.html' title='Miskin'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-3418705576519464989</id><published>2008-04-19T09:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T09:52:03.083-07:00</updated><title type='text'>Groovy</title><content type='html'>Ada yang bilang, blog itu penting. Jelas aku sangat ketinggalan. Tapi aku nekat juga. Eh, benar. Aku bisa ketemu banyak orang yang menurutku, agak aneh. Ato aku yang aneh? Soalnya, aku jadi tampak paling serius. Ya, blog ini menyadarkanku kalo aku terlalu lama tak berkubang sapa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;But, it's ok&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Groovy&lt;/span&gt;!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-3418705576519464989?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/3418705576519464989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=3418705576519464989' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3418705576519464989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3418705576519464989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/groovy.html' title='Groovy'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-2194613491349018922</id><published>2008-04-17T00:54:00.001-07:00</published><updated>2008-04-17T00:54:42.761-07:00</updated><title type='text'>Kesalehan Adalah…</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Banyak orang berargumen wajar tentang pembelaannya terhadap kaum sengsara. Bagi mereka, tak apa seperti lilin yang harus membakar dirinya, asalkan dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Bagi mereka, pilihan untuk turun melakukan pembelaan adalah sebentuk tanggung jawab, bahkan beralasan moral penuh. Bagi mereka, waktu, pikiran, dan energi habis untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat kekurangan di sekitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagaimana kalau sekarang kita ganti perspektifnya? Dalam kasus Siti Nurbaya, menurut kamu, siapa yang salah? Ada yang bilang, Datuk Maringgih-lah penyebab semua kekacauan itu. Ada yang menyalahkan Syamsul Bahri yang tidak dapat berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan Siti Nurbaya. Ada juga yang menganggap orang tua Siti Nurbaya terlalu tega pada anaknya, hingga harus menebus utang-utangnya dengan sang anak. Ada lagi yang menyalahkan Siti Nurbaya, karena ia hanya bisa pasrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagiku, siapa pun dapat salah dan dapat juga benar, tergantung alasan mengapa ia memilih pilihan itu. Datuk Maringgih tentu salah bila berusaha keras, bahkan dengan muslihat, untuk mendapatkan Siti Nurbaya. Tapi, Datuk akan tampak benar, bila ia dapat memberi solusi singkat, terhadap semua utang-utang ayah Siti Nurbaya, karena belum tentu sang ayah bisa membayarnya. Syamsul Bahri kelihatan salah bila hanya bisa ikut arus kondisi, tanpa ada tawaran solusi terhadap persoalan ini. Dan ia akan tampak benar, ketika ia sadar bahwa kekuatannya tak seberapa untuk menebus beratnya tanggungan utang itu. Ia tentu tak akan membawa lari Siti Nurbaya dan mengorbankan semuanya, hanya untuk cinta. Tentu saja, cinta tak akan bisa didapat dengan mengorbankan keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ayah Siti Nurbaya bisa salah bila ia hanya mengambil jalan pintas, tanpa upaya keras mencari jalan keluar utang, bahkan mengorbankan anaknya. Namun, sang ayah akan dianggap benar, bila pada kenyataannya, semua utang tersebut memang diperuntukkan semua kebutuhan keluarganya. Sementara itu, Siti Nurbaya jelas salah bila ia bersikap tanpa alasan yang cukup sebagai bentuk identitas kebebasan memilihnya. Tapi, ia akan tampak bijaksana, bila semua itu dilakukan untuk pengabdian yang tak terkira pada keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nah, aku hanya ingin memberi poin penting tentang penentuan pilihan. Bila memang berbagi dan berjuang bersama orang-orang susah adalah pilihan, bukan lantas menempatkan kita sebagai sosok yang lebih bermoral atau setidaknya, menempatkan kita pada strata sosial baru, dengan reputasi sosial lebih. Biarlah itu Tuhan yang ambil peran. Biarlah publik yang menilai semuanya. Karena, yang penting, kita harus berbuat banyak. Begitu pun, kita tak akan pernah merasa bahwa semua ini penuh dengan hasrat menahan diri, mengorbankan banyak hal, atau terasa seperti pilihan yang berat. Itu tandanya, ada persoalan dedikasi yang bermasalah. Berarti, kita tak benar-benar ada dalam alasan pilihan yang tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Bahwa akan ada jenuh, marah, lelah, atau berlusin kebuntuan serius adalah hal wajar. Namun, kebahagiaan yang tak terkira adalah ketika semua langkah diambil berdasarkan keyakinan yang sangat... dengan alasan yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nah, berurusan dengan persoalan pelik seputar peluang kesejahteraan petani yang tipis, pengangguran, kesempatan kerja, akses modal, monopoli, hingga efek moneter yang berdampak krisis, jelas dibutuhkan dedikasi. Maksudnya, persembahan diri kepada Tuhan untuk berbuat yang terbaik; tak peduli apa yang akan terjadi. Karena, kebahagiaan tentu berasal dari dalam diri kita, bukan karena citraan orang tentang kita. Selebihnya, tak penting sebagai apa kita berbuat. Asalkan penuh dedikasi, itu sudah sangat membahagiakan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b style=""&gt;Selisik Aurat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Aku suka Frida Lidwina dan Wanda Hamidah. Mereka &lt;i style=""&gt;smart&lt;/i&gt;, punya dedikasi, bervisi kebangsaan, dan istri yang baik. Penampilan mereka sejuk, meski tak berjilbab. Aku suka Jane Austen, penulis novel &lt;i style=""&gt;Pride &amp;amp;.Prejudice&lt;/i&gt; berkebangsaan Inggris. Ia mengabarkan pentingnya kebebasan memilih bagi perempuan, tapi ia sangat menghargai kesopanan dan menahan diri. Padahal, ia Protestan. Aku juga suka Zazkya Mecca. Ia berani berbeda dan buatku, itu perjuangan atas kebebasannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Berdandannya perempuan bagiku adalah identitas. Dan setiap orang tentu berhak mengabarkan identitasnya kepada publik. Perkara kemudian itu akan melahirkan stereotipe tentang sesuatu, seperti seronok, mesum, atau murahan, aku lebih tertarik untuk melihatnya lebih dekat (berpikir lebih dalam) persoalan ini, daripada memikirkan label-label sosial itu. Karena, identitas yang mereka bangun, jelas diperuntukkan pada eksistensi diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Perlunya dakwah tentang aurat akan sangat relevan bila kesepakatan tentang ini telah dicapai. Bukan berarti menganggap seruan tentang menutup aurat adalah salah. Sebab, berbicara adalah hak, asalkan tidak ada yang merasa dirugikan. Alasan moral agamanya, kita diwajibkan untuk saling mengingatkan, dengan dakwah salah satu variannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nah, isu pornografi-pornoaksi boleh-boleh saja, dalam kerangka pembanding tren berbusana dan berbudaya; bukan komoditas politik-kekuasaan. Pelacur mana sih yang berani berdandan pas-pasan saat masuk gereja? Mereka pasti akan meninggalkan semua identitasnya itu di luar. Tapi, mengapa mereka tetap saja berperilaku sama setelah keluar gereja? Sekali lagi, semua itu untuk membangun identitas dirinya; bukan untuk orang lain, apalagi memanjakan orang-orang yang melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Menurut Francis Fukuyama, kegagalan gerakan islamisme justru berbenturan pada kondisi islami yang telah lama ada di Eropa. Maksudnya, bagaimana mungkin Islam yang menjunjung tinggi kedisiplinan, kebersihan, dan kerapian bisa dianggap sebagai hal menarik baru, bila pada kenyataannya di Eropa keadaannya memang telah lama demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nah, yang lebih parah, gerakan anti pornografi-pornoaksi yang salah, bisa membagi orang-orang Muslim ke beberapa kategori. Ada Muslimah yang akhirnya merasa bahwa ia tidak benar-benar islami. Kalau dia lantas mencari tahu untuk belajar, itu lebih baik. Nah, semisal dia malahan merasa dieksekusi, bahkan dengan berondongan norma yang intens, barangkali ia bisa kehilangan kepercayaan diri, dan merasa tidak diberi kesempatan bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-2194613491349018922?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/2194613491349018922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=2194613491349018922' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2194613491349018922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2194613491349018922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/kesalehan-adalah.html' title='Kesalehan Adalah…'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-8555083127078747492</id><published>2008-04-17T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T00:44:04.286-07:00</updated><title type='text'>Mengamini Kecenderungan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“MAAF, HP saya sudah 4G (baca: &lt;i style=""&gt;four G&lt;/i&gt;), jadi ngga perlu pulsa kalau telepon,” tutur Onno W. Purbo, salah seorang pintar di negeri ini, dengan senyum renyah. Ketika itu, ia tengah diwawancarai sebuah TV swasta nasional, lantaran antena kaleng bikinannya bisa menjadi alternatif &lt;i style=""&gt;hotspot&lt;/i&gt;, untuk mengoperasikan internet di 22.000 sekolah terpencil. Terang saja audiens banyak yang melongo, berdecak kagum. Padahal, HP yang paling diminati di Indonesia saat itu baru berstandar 3G.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Onno jelas bukan satu-satunya orang penting dan sinting di negeri ini. Namun, ketekunannya yang luar biasa untuk menertawakan operator dan produsen HP, juga &lt;i style=""&gt;Google&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;Microsoft&lt;/i&gt; tentu bukan hal sepele. Lihatlah, ia berhasil; dan citra republik supermiskin ini seperti tertunda sebentar karena kepintarannya. Onno hadir bersamaan dengan lusinan juara olimpiade dunia yang bahkan lahir di pelosok dusun Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di akhir acara ia berseloroh, “Untuk memajukan Indonesia, kita hanya butuh pemerataan teknologi informasi. Bila masyarakat telah benar-benar mendapatkan informasi memadai, AS atau Eropa bukanlah pesaing yang sulit.” Semoga ada tafsir baru tentang posisi kita yang lebih baik di kancah global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Terbang jauh ke luar, Joseph E. Stiglitz, seorang peraih Nobel Ekonomi tahun 2001 untuk teori ekonomi dalam hubungannya dengan penyebaran informasi yang tidak sempurna (&lt;i style=""&gt;imperfect information&lt;/i&gt;), berpendirian bahwa tidak meratanya kepemilikan informasi menyebabkan kegagalan pasar sebagai institusi sosial. Akibatnya, jika keadaan ini terus berkembang, jurang antara si miskin dan si kaya akan semakin melebar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam bukunya, &lt;i style=""&gt;Making Globalization Work&lt;/i&gt; (2006), ia teguh berujar tentang dunia yang lebih baik, &lt;i style=""&gt;another world is possible&lt;/i&gt;. Ia tak seangkuh Francis Fukuyama yang gegap gempita mengampanyekan kemenangan kapitalisme dan demokrasi. Ia juga tak segalak Mazhab Frankfurt yang terus mempersoalkan keseimbangan pasar dan peran pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Stiglitz memarahi Konsensus Washington yang percaya bahwa kebijakan ekonomi semestinya hanya berbicara tentang peningkatan efisiensi, dan &lt;i style=""&gt;there is no alternatives &lt;/i&gt;(TINA). Mereka percaya terhadap &lt;i style=""&gt;trickle down effect&lt;/i&gt; atau pemerataan pendapatan setelah tercipta konglomerasi, walaupun bukti-bukti empiris sedikit sekali mendukung premis tersebut. Mereka juga mengatakan, pemerataan ekonomi bukanlah urusan kebijakan ekonomi; itu adalah urusan politik. Dengan keyakinan yang salah kaprah tersebut, mereka mendorong globalisasi yang terbukti banyak memakan korban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Belum genap semua itu, Muhammad Yunus hadir dengan &lt;i style=""&gt;Grameen Bank&lt;/i&gt;-nya dan menggusur semua ketidakoptimisan Nehru saat menggulirkan industrialisasi India serta meneguhkan tesis Gandhi tentang pemberdayaan kawasan pedesaan. Yunus seperti men-&lt;i style=""&gt;support&lt;/i&gt; tesis Talcott Parsons tentang fungsionalisme. Ya, semua orang punya fungsi masing-masing, siapa pun dia. Sama seperti Nurcholish Madjid yang mendudukkan universalisme pada kadar semua orang yang memiliki peluang sama atas anugerah Allah. Cak Nur lantas menggarisbawahi kualitas keimanan seseorang yang tidak melulu disimbolisasi oleh budaya—dan pada beberapa hal budaya itu bergeser menyamai fiqih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yang lebih penting, penjelas dari berderet fenomena menakjubkan itu adalah kesahihan Ar-Ra’du:11, &lt;i style=""&gt;Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri&lt;/i&gt;. Nah lho! &lt;i style=""&gt;So close no matter how far&lt;/i&gt;, kata Metallica. Setelah ‘berputar-putar’, ketemu kata ‘OK’ juga, kata T2—duo cewek keluaran &lt;i style=""&gt;idol TV show&lt;/i&gt; itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;There is no ideology, anymore&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Seorang kawan HMI Sukoharjo yang tertarik ingar-bingar teknologi informasi pernah berfatwa rigid, “&lt;i style=""&gt;Sorry&lt;/i&gt;, Bung. &lt;i style=""&gt;Hacker&lt;/i&gt; ngga punya ideologi.” Ia menjelaskan kompetisi dunia maya yang tidak lagi mengenal baik dan buruk. Tak ada lagi nasionalisme, kapitalisme, sosialisme, humanisme, atau isme-isme yang lain dalam belantara globalisasi informasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Deny, &lt;i style=""&gt;hacker&lt;/i&gt; imut dari Klaten yang mengacak-acak sekuritas KPU dalam Pemilu 1999 lantas dipercaya sebagai penjaga gawang keamanan data base KPU di Pemilu 2004. Sebelumnya, Deny dianggap penjahat karena merugikan negara, tapi setelah masa hukuman lewat, Deny tampak seperti orang baik yang tak tersentuh dengan memandegai &lt;i style=""&gt;data base&lt;/i&gt; KPU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Katanya, situs porno hendak diblokir. Tapi bayangkan, miliaran situs porno yang telah ada itu akan terus bertambah setiap saat, bahkan pun bila harus ditutup per harinya. Roy Suryo, seseorang yang konon pakar telematika, bahkan berkata, “&lt;i style=""&gt;Hacker-hacker&lt;/i&gt; akan marah. Karena kebebasan berekspresi terhambat.” Entah apa maksud Roy. Yang jelas, perang &lt;i style=""&gt;hacker&lt;/i&gt; akan terjadi. Siapa melawan siapa itu tak penting. Pendukung siapa yang kemudian dianggap baik pun kemudian diserahkan kepada masing-masing kelompok. Relativisme!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Agak meluaskan data, &lt;i style=""&gt;Tempo&lt;/i&gt; mencatat, nilai transaksi valas dunia mencapai 1.300.000.000.000 dolar AS per hari. Dari jumlah tersebut, hanya 2 sampai 3 persen dari nilai itu yang berkaitan dengan transaksi perdagangan dan investasi riil. Bayangkan, uang maya itu berputar dan bersaing bahkan bisa menghancurkan fondasi perekonomian sebuah negara atau institusi tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kembali ke buku, Thomas Kuhn juga mulai meragukan peran ideologi dalam gerakan sosial. Ia memilih diksi ‘paradigma’ untuk memberi ruang bagi comotan berbagai ideologi ke dalam satu cara pandang (eklektik).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Anas Urbaningrum, sewaktu menjadi satu-satunya pembicara dalam forum pembuka Musda HMI Badko Jateng-DIY, di Balai Kota Solo Mei 2006 silam, mengutip pernyataan Menlu RRC ketika berkunjung ke Indonesia, “Menurut kami, ada kekuatan pasar yang bergerak dan sulit untuk kami lawan. (Sang Menteri tengah mendukung kapitalisme global. Padahal, Cina jelas-jelas komunis yang antikapitalisme) Kami tidak peduli apa nama sistem ekonomi kami… yang penting, rakyat kami bisa sejahtera.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Anas mengingatkan bahwa kapitalisme, sosialisme, atau apa pun namanya tidaklah terlalu penting. Dan hal yang paling penting adalah kemakmuran bangsa. Modal berperan besar dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa. Bagi Anas, ada beberapa faktor kunci pembentuk kecenderungan dan kebijakan di negeri ini, yaitu ekonomi, kepemimpinan, budaya, birokrasi, dan agama. Ternyata, uanglah yang mendominasi negeri ini. Setelah itu, baru figur pemimpin, tatanan sosial, kemudian kekuasaan. Agama, secara nyata, hanya ditempatkan pada akhir analisis. Padahal, HMI adalah pejuang syariat Islam—setidaknya menurut HMI keturunan Masyumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menggunakan sudut pandang intelijen dan kontraintelijen, ideologi pun menjadi kabur. Bahwa Imam Samudera menghajar Paddys Sari Club dengan L300 penuh TNT adalah benar, tapi bahwa ternyata bom itu meledak berbarengan dengan bom lain yang memiliki daya ledak lebih besar itu pun banar. Hingga kini, publik tak tahu pasti, siapa yang meledakkan bom sebesar itu. Bahwa Iran anti-AS itu betul, tapi Pentagon juga main mata dengan beberapa &lt;i style=""&gt;stakeholders&lt;/i&gt; senjata juga tidaklah keliru. Bahwa isu pengadilan terhadap pelanggar HAM itu memang penting, tapi menetapkan kelompok-kelompok yang bernaung di bawah isu HAM sebagai kepanjangan tangan asing juga berlusin datanya. Siapa melawan siapa? Khalayak pun dibuat bingung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Belum lagi di politik. Masyarakat tak lagi peduli partai apa atau siapa pun yang memimpin. Asal perut mereka terisi, siapa pun akan mereka dukung. PDIP yang katanya Sukarnois ternyata juga memprivatisasi aset nasional. Golkar yang katanya pro-pembangunan ternyata juga mendukung aliran investasi asing, bahkan dominan. PKS yang katanya partai Islam juga mendukung impor beras. Ideologi masih tampak sebagai polesan dan komoditas berpolitik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sunatullah dan Ikhtiar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kebenaran tak akan bertentangan dengan sunatullah,” begitu kata Nurcholish Madjid, seorang tawaduk tapi dianggap liberal oleh beberapa kalangan—termasuk kader HMI. Beliau pernah menyatakan pembubaran HMI. Tafsir bebasnya, andai tak dibubarkan pun, bila HMI mengingkari sunatullah, ia akan hancur dengan sendirinya. Misalnya, kemunafikan adalah biang kehancuran. Bila kader HMI tetap munafik, dengan menyatakan moral itu penting, tapi perilakunya justru amoral maka sederet kasus ‘biru’ dan ‘hitam’ pun mewarnai cerita-cerita dari komisariat ke komisariat, bahkan hingga PB.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bambang Trims, Direktur MQS Publishing, salah satu mesin duit paling penting di Darut Tauhid-nya Aa’ Gym, bilang, kalau ia tak percaya tren (kecenderungan). Ia tahu, kalau di tiap masa selalu ada tren, tapi ia tak percaya kalau tren itu bisa direncanakan. Sunatullah kalau harus ada buku yang &lt;i style=""&gt;boom&lt;/i&gt;, dan ada yang tidak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IT"&gt;Menurutnya, hal yang paling penting dalam bekerja adalah menjalankannya dengan hati. Keyakinan dalam melakukan sesuatu akan berefek pada kualitas buku, yang setidaknya bisa dipertanggungjawabkan ke publik dan Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Perkara akan menjadi tren atau tidak, itu urusan nomor dua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hernowo, tokoh sentral yang turut membesarkan Mizan, berkata bahwa idealisme harus diselaraskan dengan pasar. Pasalnya, daripada ide-ide besar itu ditolak mentah-mentah publik cuma lantaran tak bagus komunikasinya, mendingan agak memodifikasi komunikasi publik dengan standar yang tak terlalu elitis. Kepercayaan akan melahirkan simpati, baru kemudian penerimaan akan ide. Kalau sudah percaya, apa-apa pasti lebih gampang diterima. Beliau mengatakan, menulis itu bukan bakat yang telah ada (&lt;i style=""&gt;given&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Aktivitas ini bisa dilatih dengan ketekunan. Boleh-boleh saja beranggapan kalau menulis memang &lt;i style=""&gt;given&lt;/i&gt;, tapi jangan pernah menghambat orang-orang yang punya pandangan kalau menulis itu skill; bisa dipelajari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rohman Saleh, Kabid PPA HMI Sukoharjo, mengajukan pernyataan, “Akhirat itu irrasional. Tapi, itu lantaran kita belum bisa merasionalisasinya, dan bukan tak mungkin, suatu saat akhirat akan menjadi rasional.” Maksudnya tentu pada upaya tafsir antara batas ikhtiar dan takdir, tapi alat analisis Derrida tentang Demarkasi Kebenaran tidak bisa Rohman tinggalkan. Di satu sisi, manusia butuh sandaran, sementara itu di sisi lain ketika sandaran itu bisa dirasionalisasi, keabsolutan itu akan pensiun. Dan persepsi yang menyamai Kebenaran tentu adalah kesyirikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kecenderungan selalu ada, termasuk kekalahan kita yang beruntun sebagai bangsa dan umat Islam. Tapi, ikhtiar untuk memperbaiki kondisi juga wajib dan rasional; dengan ilmu pengetahuan dan tidak menentang sunatullah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-8555083127078747492?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/8555083127078747492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=8555083127078747492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8555083127078747492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/8555083127078747492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/mengamini-kecenderungan.html' title='Mengamini Kecenderungan'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-6035888712088707265</id><published>2008-04-17T00:12:00.001-07:00</published><updated>2008-04-17T00:12:51.354-07:00</updated><title type='text'>Haruskah Kita Lelah Berdemokrasi?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Democracy grows into its being.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;R.M. MacIver&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Penulis buku &lt;i&gt;The Web of Government&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Letih rasanya mengungkap praktik demokrasi di negeri ini. Sebagai satu-satunya nilai dalam sistem pemerintahan yang hingga kini belum terbantahkan, demokrasi tampak &lt;i style=""&gt;untouchable&lt;/i&gt;, sakral, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tak mungkin tergantikan, karena dinamika tafsirnya. Pada konteks ini, demokrasi selalu berada pada posisi yang selalu benar dan aksiomatis. Bila ada penyimpangan praktik demokrasi, sering kali dikembalikan pada proses telaahnya yang ‘mungkin’ belum sempurna; bukan pada penilikan ulang epistemologinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Begitulah. Di beberapa zaman, demokrasi bahkan menempatkan penguasa pada arogansi yang &lt;i style=""&gt;legitimate&lt;/i&gt;. Atas nama demokrasi terpimpin, Soekarno memantapkan posisinya sebagai presiden seumur hidup. Pada era Orde Baru, Soeharto bergerak selayak &lt;i style=""&gt;godfather&lt;/i&gt; di Istana Negara mengatasnamakan sakralitas Demokrasi Pancasila. Setelah era reformasi muncul, sebagian kalangan bahkan memaknakan demokrasi dengan kebebasan sikap yang berlebihan, dengan melupakan supremasi hukum yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tampak jelas bahwa demokrasi selalu saja dapat berubah dari zaman ke zaman, sesuai tingkat interpretasi, juga kebebasan yang dimaksud. Tentu saja interpretasi dan kebebasan ala kekuasaan &lt;i style=""&gt;state&lt;/i&gt;. Sepertinya, tanpa halangan yang berarti, demokrasi bisa saja didesain sesuai keinginan penguasa. Betapa memang, untuk menyatakan diri sebagai ‘demokrat’ sejati ternyata tak harus berpijak pada tafsir tertentu. Asalkan tidak terlepas dari kaidah dasar demokrasi seperti keterwakilan kehendak umum atau ruang ekspresi publik, seseorang bisa saja menggunakan demokrasi sebagai alat kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Demokrasi Atas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nama Kekuasaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Fakta tentang silang-sengkarut tafsir dan penerapan demokrasi yang selalu berubah akhirnya juga memaksa semua &lt;i style=""&gt;stakeholder&lt;/i&gt; bangsa untuk menyesuaikan diri. Tentu adalah hal sulit ketika harus menerima sejarah pembubaran Masyumi oleh Orde Lama lantaran dianggap sebagai kekuatan destruktif, perongrong stabilitas. Semua tahu, Masyumi adalah parpol Islam besar dengan seabrek potensi menjanjikan. Pada beberapa hal, parpol yang dimotori oleh Muhammad Natsir ini bahkan dianggap kampiun Islam Politik pasca Indonesia merdeka, bersanding dengan NU. Karena tafsir demokrasi Orde Lama yang tidak merestui langkah geraknya, Masyumi pun ‘dipaksa’ bubar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bukan perkara gampang pula bila kemudian banyak organisasi yang tidak berasas Pancasila tiba-tiba dibubarkan, karena dianggap ‘mengganggu’ negara. Ketika itu, Ormas dan parpol yang tidak berasas Pancasila dianggap sebagai kekuatan anti-Pancasila serta sah untuk dibubarkan. Berbondong-bondonglah semua organisasi di Indonesia untuk mengganti asasnya menjadi Pancasila. Sementara itu, beberapa kalangan yang tetap pada pendirian semula, lambat laun menuai kesurutan gerakannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Atau, tentang partai Islam masa kini, seperti PKS, PPP, atau PBB, yang tiba-tiba menerima demokrasi ‘islami’ ala mereka, dengan sedikit melupakan rigidnya perbedaan cara pandang kebangsaan dan agama sebagai ideologi negara. Seperti diketahui, isu tentang gesekan nasionalisme versus agama dalam konteks &lt;i style=""&gt;state&lt;/i&gt; telah bergulir sejak lama. Bila kemudian persoalan ini dapat dientaskan dengan mempraktikkan demokrasi yang menaungi semua asas, tampak bahwa tafsir demokrasi yang tepat benar-benar sangat strategis untuk mengakomodasi semua kelompok politik di republik ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kalangan Islam Politik selalu beranggapan bahwa untuk memahami gerakan mereka, pandangan tentang pendikotomian Islam dan politik tidak akan berujung pada kesepemahaman bersama. Maksudnya, untuk membahas model gerakan yang mereka bangun, bahkan bersinergi, cara pandang dikotomis itu terlebih dahulu harus dihilangkan. Sampai kapan pun, keinginan untuk berjalan bersama tidak akan terwujud tanpa penghilangan dikotomi tersebut. Kalangan ini menyetujui keselarasan Islam dan demokrasi serta merestui berkecimpungnya partai politik berplatform Islam atau parpol berbasis ormas Islam untuk turut melebur dalam mekanisme demokrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Praktis, dapat dirasakan bahwa sebenarnya ada indikasi kuat seputar interpretasi demokrasi yang disesuaikan dengan kepentingan kekuasaan, dan tentu saja untuk melegitimasi dan melindungi eksistensi politik kelompok tertentu. Artinya, sebagai &lt;i style=""&gt;mainstream&lt;/i&gt;, demokrasi terbukti berhasil mengondisikan semua wadah kepentingan politik untuk tetap meyakini kebenarannya. Sederhananya, bukan perkara penting untuk mengubah-ubah standar perpolitikan kapan pun dan dalam bentuk apa pun; asalkan masih mengatasnamakan demokrasi, sebuah negara akan ‘disepakati’ dunia sebagai penjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan anti penindasan mayoritas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Demokrasi yang Terus Menjadi (Jadi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Walaupun demokrasi masih dianggap sebagai nilai utama dalam kehidupan bernegara, ternyata tidak semua elemen masyarakat menganggap bahwa semua varian demokrasi wajib diikuti. Kasus-kasus seperti Golput pada Pemilu atau pendelegitimasian aparat negara semakin menampakjelaskan tentang lemahnya penerapan demokrasi, lantaran tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sistem negara. Secara &lt;i style=""&gt;de jure&lt;/i&gt;, bisa jadi banyak sekali ketentuan tentang penerapan demokrasi. Namun, secara &lt;i style=""&gt;de facto&lt;/i&gt;, tak banyak orang yang menyangkal bahwa semua ketentuan itu hanyalah syarat formal, tanpa makna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berbagai persoalan Pilkada langsung yang menuai kontroversi di sana-sini berbanding lurus dengan kebijakan politik ekonomi pemerintah untuk beras dan kedelai yang minim &lt;i style=""&gt;bargain&lt;/i&gt;. Munculnya banyak partai politik menjelang Pemilu 2009 seperti selaras dengan bingungnya rakyat pada upaya saling tuding elite politik tentang perjuangan yang sesungguhnya. Belum lagi semua dapat dikendalikan dengan prioritas yang terukur, krisis di Pakistan saat Benazir Bhutto terbunuh dan krisis Timor Leste saat terjadi upaya pembunuhan terhadap Ramos Horta semakin memafhumkan publik tentang kondisi demokrasi yang harus selalu beriring kekerasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada titik tertentu, tampaknya demokrasi memang layak dipersoalkan kembali keutuhan sistemnya, hingga kemudian negeri ini menjadi semakin tahu apa yang seharusnya dilakukan, meski mungkin, tak selalu persis dengan demokrasi yang dimaksud negara-negara kampiun demokrasi dunia. Sudahlah, telah saatnya demokrasi menemukan idealitasnya menjelang Pemilu 2009, bukan hanya sistem rekayasa bagi kelompok tertentu, untuk semata-mata berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-6035888712088707265?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/6035888712088707265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=6035888712088707265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6035888712088707265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/6035888712088707265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/haruskah-kita-lelah-berdemokrasi.html' title='Haruskah Kita Lelah Berdemokrasi?'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-2594335257649013938</id><published>2008-04-17T00:09:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T00:39:36.797-07:00</updated><title type='text'>Prasangka Ningrat Kaum Nano-Agraris</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:10;" lang="NO-BOK" &gt;Kenyataan yang terbuat dari kontradiksi harus dibersamai senyuman, atau akan kita hitung sebagai kesalahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: trebuchet ms;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:10;" lang="NO-BOK" &gt;Jane Austen (1775-1817)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; font-family: trebuchet ms;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:10;" lang="NO-BOK" &gt;Penulis Novel Inggris, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-size:10;" lang="NO-BOK" &gt;Pride &amp;amp; Prejudice&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-size:10;" lang="NO-BOK" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;BETAPA sulitnya mengetengahkan ide teknologi pertanian ini. Simak saja, untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dibutuhkan teknologi yang memadai. Sementara itu, untuk mendapatkan teknologi yang memadai diperlukan biaya yang tidak sedikit dari keberhasilan pertanian yang berkualitas. Manakah yang lebih layak didahulukan? &lt;i style=""&gt;Vicious circle&lt;/i&gt; (lingkaran setan—red), akhirnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Tapi sudahlah. Itu epistemologi klise. Semacam membangun demarkasi kebenaran untuk mengaburkan pilihan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Lihat saja. Banyak hal di dunia ini yang sepertinya mutlak tak mungkin, tapi pada kenyataannya bisa dimungkinkan, meski dengan sangat perlahan dan saksama. Pada konteks teknologi pertanian, adalah pola pikir &lt;i style=""&gt;out of date&lt;/i&gt; bila kemudian semua itu dianggap tidak mungkin. Optimis dalam membangun konstruksi realitas baru tentu awal yang penting untuk membuat karisma pertanian negeri ini ke arah &lt;i style=""&gt;khittah&lt;/i&gt;-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Semakin menurunnya harga, kualitas, akses pasar, dan preferensi konsumen produk-produk pertanian memang sebanding dengan rumitnya mengkomposisikan regulasi, pasar bebas, monopoli, juga transaksi valas. Semua itu berkelindan dengan tekstur moneter, fiskal, dan &lt;i style=""&gt;political will&lt;/i&gt;. Nah, seberapa pentingkah isu teknologi pertanian ini menyeruak ke tengah-tengah gegap gempitanya demokrasi, &lt;i style=""&gt;civil society&lt;/i&gt;, gerakan penghapusan utang, atau gila-gilaannya bisnis hiburan belakangan ini? Jawabannya mudah. Semakin banyak persoalan yang bisa diinventarisasi, tentu saja semakin menunjukkan kedewasaan bangsa ini di depan kenyataan. Sebab, langkah pertama menyelesaikan persoalan adalah dengan mengakuinya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Begitu tutur Liek Wilardjo, salah satu orang pintar di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Kaum Nano-Agraris&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Belum lama ini, perkembangan teknologi mencapai &lt;i style=""&gt;maqam&lt;/i&gt; (tingkatan—red) baru. Di samping kesuksesan teknologi informasi yang bisa mengantarkan manusia ke dalam alam mikro dan makrokosmos sekaligus secara verbal, pesat juga dikembangkan teknologi hayati (&lt;i style=""&gt;biotechnology&lt;/i&gt;) dan teknologi nano. Menuju masa depan, ketiga jenis teknologi ini dapat disatukan dalam bingkai pengupayaan teknologi pertanian yang lebih mumpuni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teknologi hayati memberikan kontribusi penting pada budidaya varietas yang diharapkan bermuara pada lahirnya produk pertanian yang semakin unggul. Sementara itu, teknologi nano dapat diaplikasikan dalam bemacam desain mesin-mesin pertanian yang canggih. Seperti diketahui, teknologi nano adalah tahapan paling aktual dari rekayasa manusia atas susunan atom. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Kata &lt;i style=""&gt;nano&lt;/i&gt; diserap dari istilah &lt;i style=""&gt;nanometer&lt;/i&gt; yang berarti sepermiliar meter (10 pangkat minus 9). Teknologi ini menumpukan perkembangannya pada produksi mesin-mesin canggih berdimensi sangat kecil. Ide nanometer berkembang dari ceramah Richard Feyman, peraih Nobel Fisika pada 1959. Menurutnya, materi dapat disusun atau diubah dengan memanipulasi atom-atom pembentuk materi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Formulasi ini dapat dikawal rigid dengan reputasi oleh kaum Nano-Agraris. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Maksudnya, kalangan yang permanen berurusan dengan pengembangan teknologi pertanian berbasis teknologi hayati dan teknologi nano, juga teknologi informasi. Kelompok tersebut membidani langsung peningkatan kualitas produk pertanian, serta distribusi dan pemasarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka tentu tak harus seberang gerakan Kiri Baru (&lt;i style=""&gt;new left&lt;/i&gt;), yang terlebih dahulu mempersoalkan dominasi pasar dan hegemoni negara atas praktik ekonomi yang ada. Tak perlu ada boikot, revolusi, nasionalisasi, atau mogok nasional. Kaum Nano-Agraris lebih diorientasikan pada penemuan daya saing yang tinggi melalui jaringan teknologi, hingga kemudian dapat bersaing dengan produk-produk pertanian asing, yang seringnya lebih didukung oleh regulasi ketat atau monopoli. Bukankah Eropa dan AS bisa sangat kaya, lantaran penciptaan ketergantungan yang sangat pada teknologi kreasi mereka? Jadi, bila kebutuhan akan teknologi itu dapat dipenuhi di sini, tentu bukan hal sulit bila harus menaklukkan pasar pertanian dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Begitulah, mental unggul diperlukan untuk berkompetisi dengan dunia yang terkadang, tidak jujur dan penuh intoleransi. Hatta yang lebih memilih pulang daripada mengabdi pada Eropa di zamannya, dan berdampak pada kekurangkomplitan hidupnya, tidak lantas membuatnya memaksakan sepatu yang ia idam-idamkan. Ada upaya mendahulukan kepentingan yang lebih besar, tanpa melupakan keinginan pribadi untuk turut berbahagia. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa memberikan yang terbaik bagi banyak orang, bila keadaan dirinya tidak sepantar dikategorikan sebagai sosok yang bahagia? Bahagia yang lahir atas dedikasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Atau kita sederhanakan saja bahwa bisa jadi, &lt;i style=""&gt;apple computers&lt;/i&gt; lahir karena ada keeratan filosofi antara pertanian dan teknologi. Itu sebabnya, lambang dan nama apel dipilih untuk memproduksi komputer. Nah! &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-2594335257649013938?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/2594335257649013938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=2594335257649013938' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2594335257649013938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/2594335257649013938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/prasangka-ningrat-kaum-nano-agraris.html' title='Prasangka Ningrat Kaum Nano-Agraris'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-5749454214111195510</id><published>2008-04-17T00:08:00.001-07:00</published><updated>2008-04-17T00:41:58.233-07:00</updated><title type='text'>Tunas Bangsa yang Dibajak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:10;" lang="IN" &gt;Paradise for me will be where there are neither paupers nor beggars, nor high, nor low, neither millionaire employers, nor half-starved employees, nor intoxicating drinks or drugs. Where there will be equal respect for all faith. &lt;b style=""&gt;(Mahatma Gandhi)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 200%;font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;PROBLEM pendidikan signifikan hari ini adalah bagaimana menyelamatkan generasi penerus bangsa yang entah mengapa, lebih tertarik mengabdi kepada asing ketimbang leluhur dan tumpah darahnya. Sepertinya, telinga republik ini tak pernah kering disinggahi bermacam kisah tentang kesuksesan orang sebagai agen asing, dan tak lupa, menganggap diri mereka lebih tinggi dibanding kalangan sejawat yang mungkin, masih memilih untuk bertahan bersama setumpuk persoalan dalam negeri berikut gegap-gempitanya tuntutan diri seputar penyeimbangan idealisme dan kepentingan perut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebagian dari mereka bahkan blak-blakan berkata bahwa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; terlalu kompleks untuk dijadikan tempat beraktualisasi, di samping penghargaan terhadap mereka yang dinilai sangat jauh dari yang diinginkan. &lt;span lang="SV"&gt;Ada kecenderungan opini tentang tidak kondusifnya negeri ini bagi orang-orang pandai. Katanya, politik terlalu dominan. Katanya, penduduknya sulit diatur. Katanya, terlalu banyak konflik berkepanjangan. &lt;/span&gt;Pun beribu komentar miring lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;Padahal, pada beberapa hal, ketika benturan kepentingan terjadi, semisal citra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sebagai ladang teroris kemarin, tentu akan merepotkan aktualisasi mereka. Atau, beberapa program pesanan yang mengharuskan mereka untuk berinteraksi dengan penduduk negeri ini secara langsung, semisal gerakan penegakan demokrasi, ketika tidak kompatibel, tentu akan menuai friksi terbuka, lantaran ketidakharmonisan hubungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Meski harus diakui, ada sisi positif yang dapat diambil. Semisal, dapat disinyalir tegas bahwa sebenarnya, institusi pendidikan Indonesia memang layak diketengahkan di bursa aktualisasi dunia. Selepas bermacam kelemahan pendidikan yang hingga detik ini masih diperbincangkan, martabat bangsa mendadak tak pernah pudar lantaran prestasi anak-anak ibu pertiwi yang sering merajai pentas olimpiade fisika, kimia, matematika, bahkan sains dan teknologi. Beriring hinggapnya isu korupsi yang marak pada distribusi anggaran pendidikan, Indonesia juga memiliki banyak doktor, yang konon, banyak mengisi perguruan tinggi di negara serumpun, Malaysia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pun harus diakui jujur, bersama semua kelebihan itu, publik juga tak boleh menutup mata atas bermacam urusan pendidikan dalam negeri yang belum selesai, seperti peluang pendidikan bagi rakyat miskin yang semakin kecil lantaran biayanya yang terus melangit. Atau, banyaknya lulusan institusi pendidikan yang membludak, melebihi kesempatan kerja yang ada. Atau, anggaran pendidikan yang belum maksimal. Atau, tunjangan pendidik yang memprihatinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Dilema Jaminan Kesejahteraan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal penting yang harus segera dipecahkan adalah tentang jaminan kesejahteraan yang terlalu minim di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tengok saja, bagi guru besar di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, tunjangan yang tidak mencapai Rp5 juta tentu memprihatinkan bila dibandingkan dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Malaysia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lebih dari Rp50 juta. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang berkomentar nyinyir, “Pantas saja kalau profesor-profesor kita banyak yang masih wira-wiri ngamen ke sana-sini.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;font-family:trebuchet ms;"&gt;Ironis tapi nyata. Membuat gelisah banyak pihak, tapi tak kunjung ada solusi. Ditambah lagi dengan kompetisi institusi pendidikan yang lebih mirip korporasi belakangan ini, peran kaum intelektual untuk berkonsentrasi pada aktualisasi diri semakin rumit. Setidaknya, mereka mungkin hanya akan melahirkan gerakan kecil, yang tentu akan lebih signifikan bila ditunjang dengan infrastruktur memadai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Bagi para guru bangsa, tentu adalah hal naïf bila mereka harus banyak menuntut kesejahteraan dibandingkan pengabdian. Selain memang bukan itu tujuan mereka, ada idealisme suci yang terang-terang dapat membahagiakan mereka. Lihat saja, kisah tentang seorang guru di pelosok Nabire yang bahkan tidak mengenali Menteri Pendidikan di hadapannya. &lt;span lang="SV"&gt;Ia hanya berpikir tentang sinerginya hutan dan sekolah. Itu saja. Atau, tentang sekolah Qaryah Thayyibah di Kalibening Tingkir Salatiga, yang sanggup memfasilitasi anak-anak miskin desa dengan internet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun, dalam spektrum yang lebih luas, mengagendakan kesejahteraan mereka tentu merupakan bagian manajemen pendidikan untuk masa depan negeri ini. Sebab, telah nyata diketahui, bahwa lulusan-lulusan luar negeri, bahkan lulusan dalam negeri, justru merasa ngeri untuk mengabdikan diri di tanah air, lantaran jaminan kesejahteraan yang tidak memungkinkan bagi gagasan-gagasan besar mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bayangkan, bila kalangan yang mau mengabdi apa adanya bagi ibu pertiwi dapat dipertemukan dengan kaum ‘impor’ yang memiliki banyak penguasaan teknologi dan jaringan, tentu bangsa ini akan segera terlepas dari kerumitan persoalan besar. Artinya, mendudukkan perkara ini sebagai hal yang harus dipikirkan bersama tentu lebih bijak, ketimbang membeda-bedakan dua kelompok tersebut untuk dihadapkan. Betapa pada kenyataannya, dalam dan luar negeri memang perlu bersinergi, tentu dengan komitmen kuat untuk membangun negeri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apa Kabar Nasionalisme?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="trebuchet ms" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sejauh ini, sudah selayaknya perlu dikemukakan kembali jati diri anak negeri sebagai bangsa. Artinya, seberapa pun dinamisnya realitas, &lt;i style=""&gt;setting goal&lt;/i&gt; tentang eksisnya bangsa tetap merupakan prioritas yang harus dikedepankan. Sebab, bagaimana mungkin bangsa ini bisa besar, bila tunas-tunasnya selalu dibajak kepentingan asing, hanya karena mungkin, akses dan komunikasi yang buntu? Bagaimana mungkin bangsa ini tidak didikte oleh bangsa lain bila generasi penerusnya masih gagu pada identitas kebangsaannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Logika sederhananya, kalau bukan anak bangsa yang memperjuangkan bangsanya, lantas siapa? Tentu saja bukan lantas bergerak pada penanaman identitas chauvinistis atau primordial. Sebab, cara pandang seperti ini juga bukan merupakan kepribadian bangsa Indonesia. Harapan pastinya, semua kenyataan tentang rusaknya negeri adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan anak negeri. Jadi, secara pelan tapi pasti, sudah semestinya segera diselesaikan bersama-sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Beberapa kilasan sejarah dapat dikemukakan di sini. Barangkali, bila Hatta lebih menginginkan berkarir di Eropa, akan banyak tempat yang disediakan kaum borjuis di sana. Ketika itu, Hatta termasuk sosok yang diperhitungkan lantaran kebrilianannya. Namun, seperti yang diketahui bersama, Hatta akhirnya memilih untuk pulang ke Indonesia, dan bahkan, menyimpan hasratnya untuk memiliki sepatu yang ia idam-idamkan hingga kewafatannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Atau kisah seorang Sritua Arief, ekonom penganut neo-strukturalisme, yang gagasan-gagasannya sangat diterima di Malaysia, tapi lebih memilih untuk membesarkan beberapa mahasiswa di Solo dan Jogja, sebagai bentuk kefrustrasiannya pada utang luar negeri Indonesia yang terlalu besar dan rendahnya kredibilitas bangsa ini di depan kekuatan asing. Hingga maut menjemputnya, setelah diakrabi sakit &lt;i style=""&gt;stroke&lt;/i&gt; yang berkepanjangan, Sritua masih sempat berpesan, “Jangan pernah percaya dengan &lt;i style=""&gt;the borderless world&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;SEMUA ulasan ini tentu akan menjadi sangat sentimentil bila tidak segera disikapi lebih lanjut dengan tindakan nyata. Artinya, peran kalangan pendidikan bagi keberlangsungan bangsa ini di masa depan sangatlah ditunggu. Ketika banyak generasi cerdas ‘dibajak’ asing, sudah semestinya semua pihak merenung, berbicara, dan menuntaskannya, walau mungkin hasilnya nanti, tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Komitmen keindonesiaan—salah satunya—masih ampuh untuk dijadikan pembenar bagi rukunnya jaringan pendidikan dalam dan luar negeri untuk berhadapan dengan gurita globalisasi yang semakin pintar memukul kalangan yang tidak siap berkompetisi. Biarlah sejarah republik ini terus mengalir dan bertemu dengan keberuntungannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Bahwa memang, semua bangsa berhak untuk eksis di mata dunia. &lt;/span&gt;Bahwa memang, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sanggup menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain, dengan kepribadian bangsa yang kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-5749454214111195510?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/5749454214111195510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=5749454214111195510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5749454214111195510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/5749454214111195510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/tunas-bangsa-yang-dibajak.html' title='Tunas Bangsa yang Dibajak'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8290657018918269440.post-3602251774678846681</id><published>2008-04-16T23:56:00.000-07:00</published><updated>2008-04-17T00:02:25.974-07:00</updated><title type='text'>Merasa(kan) Miskin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bandul waktu menunjuk bulan September 1965. Tampak seorang ibu berjalan menyusuri salah satu trotoar di Jakarta bersama anak laki-lakinya. Udara malam terasa sangat dingin menusuk tulang. Bangunan di kanan-kiri mereka tampak sepi. Mungkin sang penghuni telah berbaur dengan indahnya mimpi dan selusin harapan esok hari yang tak dapat ia gapai hari ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Mak, ini Jakarta, ya?” tanya bocah laki-laki itu pada ibunya. Ia tampak terus melekatkan pandangannya ke langit kelam Jakarta yang dipenuhi suasana aneh, dan sepertinya belum pernah ia temui. Dengan mimik penuh apresiasi, perempuan berusia lebih dari setengah baya itu pun mengiyakan pertanyaan buah hatinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Di sini banyak orang kaya ya, Mak?” tanya si anak untuk kedua kalinya. “Iya....” Kali ini, mereka berhenti di depan sebuah toko yang berareal teras cukup luas. Tentu saja toko itu telah tutup, lantaran hari sudah beranjak tengah malam. Setelah sedikit berbenah, dengan menggelar selembar kain untuk tidur, mereka pun berbaring di depan toko itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Orang kaya pasti makannya enak-anak ya, Mak?” tanya sang anak sambil menatap ibunya. “Ya dong. Udah, cepat tidur! Jangan sampai kita bangun lebih siang dari pemilik toko. Biar kita tidak diusir lagi,” jelas sang ibu singkat. Mereka kemudian terlelap bersama balutan malam Jakarta yang belakangan dipenuhi resesi ekonomi dan sangat potensial melahirkan &lt;i style=""&gt;chaos&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Cuplikan kisah tersebut dapat dijumpai pada film klasik Indonesia garapan Arifin C. Noor tentang G 30 S/PKI. Di zaman Orde Baru, film kolosal ini menjadi tontonan wajib, setiap kali memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Karena di zaman Orba stasiun TV swasta belum sebanyak sekarang maka praktis hampir semua mata di negeri ini pun melayangkan pandangannya pada &lt;i style=""&gt;scene-scene&lt;/i&gt; dramatis penculikan jenderal-jenderal TNI AD dan penumpasan G 30 S itu. Walau beberapa kalangan meragukan validitas film yang dikemas semi dokumenter tersebut, tetap saja tak mampu menghapus kenangan menyakitkan tragedi kemanusiaan seputar kudeta berdarah dan akhirnya konflik bersenjata antaranak bangsa tersebut. Sejarah kelam yang semoga tidak terulang kembali di masa datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yang menarik, dengan bahasa yang sangat sederhana, Arifin seperti ingin menyampaikan pesan penting pada pemirsa tentang hubungan erat antara perasaan tertindas kaum papa dengan revolusi. Kesenjangan ekonomi pada waktu itu menjadi alasan kuat bertumbuhkembangnya ketidakpuasan, juga gejolak sosial. Jadi sebenarnya, bahkan tanpa doktrin marxis yang rigid pun, perseteruan antara si kaya dan si miskin tampak seperti keniscayaan bila kesenjangan itu dibangun atas ketidakadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Arifin tentu saja melihat semua peristiwa mengerikan itu dari dekat. Ia dapat mendemonstrasikan semua ketakutan yang terjadi ketika itu dalam gambar, suara, dan skenario yang mengagumkan tentu karena ia sangat mengerti situasi yang berkembang, dan apa yang menyebabkannya. Ia mampu membingkai harapan banyak pihak tentang bangsa yang satu, tanpa ada lagi celah sikap—sedikit pun—untuk saling menyakiti, lantaran potongan-potongan kisah tentang kekejaman manusia yang haus kekuasaan itu benar-benar menghantuinya. Ia berpesan dalam gambar bahwa kalau tak hati-hati, korban akan berjatuhan seiring dengan kerakusan dan keserakahan anak bangsa yang satu atas anak bangsa yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Menyejarahkan Kemiskinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sepanjang waktu, mencatat kemiskinan memang pekerjaan sulit. Bagaimana tidak sulit? Siapa sih yang mau dianggap miskin? Siapa sih yang mau diperdebatkan penderitaan hidupnya lantaran kurang makan? Siapa sih yang bangga dengan predikat keluarga tidak mampu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Deretan angka-angka pun berusaha menjelaskan kondisi riil yang ada seputar kemiskinan. Tapi, apa kata dunia? Banyak yang bilang, angka bisa saja dimanipulasi untuk mendongkrak popularitas. Ada yang yakin, kalau data-data kuantitatif itu hanya akal-akalan beberapa orang yang tidak menginginkan kemiskinan sebagai borok prestasinya. Bahkan ada yang ragu bahwa kemiskinan sering dijadikan komoditas untuk meraih simpati publik. Semacam pemahaman umum tentang ‘data yang diragukan’ bila telah berkutat di wilayah kemiskinan. Sekali lagi, ada tendensi prestisius seputar baik-buruk menyuguhkan kemiskinan di mata publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tapi sudahlah. Bagaimana dengan kemiskinan yang memang benar-benar ada? Bagaimana dengan berita tentang korban frustrasi karena dibekap kemiskinan? Apalagi, bukan karena mereka yang tak bekerja keras. Apalagi, bukan karena mereka yang hanya bisa meminta-minta. Apalagi, bukan pula karena keserakahan mereka menjadi miskin. Apalagi, semua ini karena ketegaan sesama manusia yang memiliki perilaku takut miskin, berlebihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, dari tahun 1867 sampai 1878, Hindia telah menyumbang f187 juta bagi kas kerajaan Belanda. Sebuah angka fantastis bila dibandingkan dengan kesejahteraan rakyat Hindia yang masih sangat rendah. Ketika itu, rakyat Hindia hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Hindia bahkan dapat menghidupi rakyat Belanda, walau mungkin, masyarakat negeri kincir angin itu tidak bekerja sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Lama dianggap tak mampu menyejahterakan rakyat Indonesia dalam dua dekade setelah kemerdekaan. Orla dinilai sangat retoris, dan tak memedulikan penderitaan rakyat miskin. Inflasi yang mencapai lebih dari 600 persen di akhir pemerintahan Orla bahkan dapat dijadikan tumpuan untuk menganalisis keberhasilan orde ini mengurusi rakyat miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Baru dianggap membangun infrastruktur ekonomi semu. Walau swasembada beras tercipta, harga-harga rendah, dan inflasi kecil, rakyat miskin tetap saja tak dapat dientaskan. Berpuluh tahun kaum miskin bahkan dianggap merepotkan pemerintahan kota besar. Gedung-gedung pencakar langit memenuhi sudut-sudut perkotaan, tapi nasib petani tidak jelas juntrungannya. Mereka bisa memproduksi beras dalam skala besar, tapi tak dapat memiliki komoditas lain, lantaran harga beras tidak sepadan dengan biaya sekolah, teknologi, transportasi, juga komunikasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lihatlah, Orde Reformasi pun masih mandul membangun kerangka ekonomi yang stabil. Selain kedekatan mereka dengan modal asing, pembelaan mereka pada masyarakat miskin terjejali dengan dominasi agenda politik yang bertajuk demokratisasi tak terarah. Isu-isu tentang kemiskinan seperti hilang di tengah ingar-bingar manuver politik para pejabat dan wakil-wakil rakyat di parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bila demikian halnya, Knut Hamsund, seorang novelis Norwegia awal abad ke-20, tiba-tiba menjadi sosok yang penting. Pada 1890, salah satu novelnya berjudul &lt;i style=""&gt;Sult&lt;/i&gt; (lapar), mampu membuat publik Norwegia terkesima. Novel ini bercerita tentang seorang penulis miskin yang sangat kesusahan makan. Setiap hari dia menggelandang di jalanan kota Christiania karena tak mampu membayar sewa kamar dan membeli makanan. Tapi, ia tetap menulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kabarnya, Hamsund menulis novel ini dalam keadaan benar-benar lapar. Dan ia berhasil menceritakan kepapaannya itu dalam kadar optimistis yang sangat tentang hari yang lebih baik. Mentalitas tentang penyampaian isu kemiskinan kepada publik, tapi dengan keinginan kuat untuk berubah. Bukan malahan mengelak dari semua sejarah tentang kemiskinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“Kalau saja aku punya sesuatu untuk dimakan, sedikit saja, pada hari secerah ini!” tulis Hamsund.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8290657018918269440-3602251774678846681?l=belajarhidupbersama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/feeds/3602251774678846681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8290657018918269440&amp;postID=3602251774678846681' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3602251774678846681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8290657018918269440/posts/default/3602251774678846681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarhidupbersama.blogspot.com/2008/04/merasakan-miskin.html' title='Merasa(kan) Miskin'/><author><name>arifgiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07754534551932474700</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_g55YAH7K3F8/Sc4DM8HOBwI/AAAAAAAAADg/l9XzoXKYXIM/S220/Mbuh.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
